KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 2531. | Kemurnian hati akan memperlihatkan Tuhan kepada kita. Sejak sekarang ini ia sudah melihat segala-galanya dalam terang Tuhan.
| | 2532. | Untuk pembersihan hati dibutuhkan doa, kemurnian, kejujuran maksud, dan pandangan.
| | 2533. | Kemurnian hati menuntut sikap yang sopan, yang terdiri dari kesabaran, kerendahan hati, dan perasaan halus. Sikap yang sopan melindungi keintiman seseorang.
| | 2534. | Perintah kesepuluh menggandakan dan melengkapkan perintah kesembilan tentang keinginan daging. Ia melarang menginginkan barang orang lain, karena dari keinginan itu lahir pencurian, perampokan, dan penipuan, yang dilarang oleh perintah ketujuh. "Keinginan mata" Bdk. 1 Yoh 2:16. menghantar menuju kekerasan dan ketidakadilan yang dilarang oleh perintah kelima Bdk. Mi 2:2.. Sebagaimana ketidakmurnian, keinginan berakar dalam penyembahan berhala yang dilarang oleh ketiga perintah yang pertama Bdk. Keb 14:12.. Perintah kesepuluh menyangkut maksud hati; bersama dengan perintah kesembilan ia merangkum semua peraturan hukum.
| | 2535. | Keinginan inderawi membuat kita merindukan hal-hal yang tidak kita miliki. Dengan demikian kita - umpamanya - merindukan makanan apabila kita lapar; atau udara panas apabila kita kedinginan. Keinginan-keinginan ini dalam dirinya baik; namun sering kali mereka melampaui ukuran yang arif dan menggoda kita merindukan sesuatu secara tidak adil, apa yang bukan milik kita, melainkan milik orang lain atau menjadi hak orang lain.
| | 2536. | Perintah kesepuluh melarang keserakahan dan keinginan tanpa batas akan barang-barang duniawi; melarang kelobaan yang tidak terkendalikan, yang muncul dari kerinduan yang tidak tahu batas dan penuh nafsu akan kekayaan dan kekuasaan berkaitan dengan itu. Ia juga melarang kerinduan melakukan satu ketidakadilan, yang akan merugikan harta milik duniawi dari orang lain:
"Kalau dilarang dalam hukum: Engkau tidak boleh menginginkan maka kata-kata ini mempunyai arti bahwa kita menjauhkan keinginan kita dari milik orang lain; karena kehausan keinginan akan barang orang lain itu sangat besar dan tanpa batas dan tidak akan dipuaskan sebagaimana dikatakan Kitab Suci: seorang tamak tidak pernah memiliki uang yang cukup (Pkh 5:9) (Catech. R. 3,10,13).
| << >>
|