KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 46. | Apabila manusia mendengarkan kabar makhluk-makhluk ciptaan dan suara hati nuraninya, ia dapat sampai kepada kepastian bahwa Allah berada sebagai sebab dan tujuan dari segala-galanya.
| | 47. | Gereja mengajarkan bahwa Allah yang satu-satunya dan yang benar, pencipta dan Tuhan kita, dapat diketahui dengan pasti dari segala karya-Nya, berkat sinar kodrati akal budi kita Bdk. Konsili Vatikan 1: DS 3026..
| | 48. | Dengan sesungguhnya kita dapat berbicara tentang Allah, apabila kita bertitik tolak dari aneka ragam kesempurnaan makhluk ciptaan, yang olehnya mereka menjadi serupa dengan kesempurnaan Allah yang tidak terbatas. Namun bahasa kita yang terbatas, tidak dapat menyelami seluruh misteri-Nya.
| | 49. | "Tanpa Sang Pencipta makhluk lenyap menghilang" (GS 36). Karena itu kaum beriman didorong oleh cinta Kristus untuk membawa terang Allah yang menghidupkan kepada mereka, yang tidak mengenal-Nya atau menolak-Nya.
| | 50. | Dengan bantuan budi kodratinya, manusia dapat mengenalAllah dengan pasti dari segala karya-Nya. Namun masih ada lagi satu tata pengetahuan, yang tidak dapat dicapai manusia dengan kekuatannya sendiri: yakni wahyu ilahi Bdk. Konsili Vat I: DS 3015.. Melalui keputusan yang sama sekali bebas, Allah mewahyukan dan memberikan Diri kepada manusia, dan menyingkapkan rahasia-Nya yang paling dalam, keputusan-Nya yang berbelas kasih, yang Ia rencanakan sejak keabadian di dalam Kristus untuk semua manusia. Ia menyingkapkan rencana keselamatan-Nya secara penuh, ketika Ia mengutus Putera-Nya yang terkasih, Tuhan kita Yesus Kristus dan Roh Kudus. 36, 1066.
| | 51. | "Dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya Allah berkenan mewahyukan diri-Nya dan memaklumkan rahasia kehendak-Nya; berkat rahasia itu manusia dapat menghadap Bapa melalui Kristus, Sabda yang menjadi daging, dalam Roh Kudus, dan ikut serta dalam kodrat ilahi" (DV 2).
| | 52. | Allah "yang bersemayam dalam terang yang tak terhampiri" (1 Tim 6:16) hendak menyampaikan kepada manusia, yang Ia ciptakan dalam kebebasan, kehidupan ilahi-Nya sendiri, supaya melalui Putera-Nya yang tunggal Ia mengangkat mereka menjadi anak-anak-Nya Bdk. Ef 1:4-5.. Dengan mewahyukan Diri, Allah hendak menyanggupkan manusia untuk memberi jawaban kepada-Nya, mengakui-Nya dan mencintai-Nya atas cara yang jauh melampaui kemampuan manusia itu sendiri.
| | 53. | Keputusan wahyu ilahi itu diwujudkan "dalam perbuatan dan perkataan yang bertalian batin satu sama lain" (DV2). Di dalamnya tercakup "kebijaksanaan mendidik" ilahi yang khas: Allah menyatakan Diri secara bertahap kepada manusia; Ia mempersiapkan manusia secara bertahap untuk menerima wahyu diri-Nya yang adikodrati, yang mencapai puncaknya dalam pribadi dan perutusan Yesus Kristus, Sabda yang menjadi manusia.
Dengan menggunakan kiasan bahwa Allah dan manusia seakan-akan saling membiasakan diri satu sama lain, santo Ireneus dari Lyon berbicara berulang kali tentang pedagogi ilahi ini. "Sabda Allah berdiam dalam manusia dan menjadi putera manusia, supaya manusia membiasakan diri untuk menerima Allah, dan Allah membiasakan diri untuk tinggal dalam manusia seturut perkenanan Bapa" (haer. 3,20,2) Bdk. misalnya haer. 3,17,1; 4,12,4; 4,21,3..
| | 54. | "Allah, yang menciptakan segala sesuatu melalui Sabda-Nya (lih. Yoh 1:3) serta melestarikannya dalam makhluk-makhluk, senantiasa memberikan kesaksian tentang diri-Nya kepada manusia (lih. Rm 1:19-20). Lagi pula karena Ia bermaksud membuka jalan menuju keselamatan di surga, Ia sejak awal mula telah menampakkan Diri kepada manusia pertama" (DV3). Ia menghimpun mereka dalam suatu persatuan yang erat dengan diri-Nya, sambil menghiasi mereka dengan rahmat dan keadilan yang gemilang.
| | 55. | Wahyu ini tidak diputuskan oleh dosa leluhur kita. "Karena sesudah mereka jatuh, dengan menjanjikan penebusan [Allah] mengangkat mereka untuk mengharapkan keselamatan (lih. Kej 3:15). Tiada putus-putusnya Ia memelihara umat manusia, untuk mengaruniakan hidup kekal kepada semua, yang mencari keselamatan dengan bertekun melakukan apa yang baik (lih. Rm 2:6-7)" (DV 3).
Ketika manusia "kehilangan persahabatan dengan Dikau karena tidak setia, ia tidak Kaubiarkan merana di bawah kekuasaan maut. ... Berulang kali Engkau menawarkan perjanjian kepada mereka" (MR, Doa Syukur Agung IV, 118).
| | 56. | Ketika kesatuan umat manusia terpecah belah oleh dosa, Allah coba meluputkan umat manusia sebagian demi sebagian. Dalam perjanjian yang Ia lakukan dengan Nuh sesudah air bah Bdk. Kej 9:9., kehendak keselamatan ilahi dinyatakan kepada "bangsa-bangsa", artinya kepada manusia-manusia, yang tinggal di "negerinya masing-masing dan mempunyai bahasa serta suku-sukunya sendiri" (Kej 10:5) Bdk. Kej 10:20-31..
| | 57. | Tata aturan bangsa-bangsa yang banyak Bdk. Kis 17:26-27., yang dipercayakan oleh penyelenggaraan ilahi kepada pengawalan para malaikat Bdk. Ul 4:19; 32:8 LXX., adalah sekaligus kosmis, sosial, dan religius. Aturan ini dimaksudkan untuk membendung kesombongan umat manusia yang sudah jatuh, yang bersatu dalam cita-citanya yang jahat Bdk. Keb 10:5. untuk membentuk dirinya menjadi kesatuan seturut model Babel Bdk. Kej 11:4-6.. Tetapi karena dosa Bdk. Rm 1:18-25., maka aturan sementara ini selalu terancam dan dapat jatuh ke dalam penyimpangan kafir yakni politeisme dan pendewaan bangsa serta pemimpinnya.
| | 58. | Perjanjian dengan Nuh berlaku selama waktu bangsa-bangsa Bdk. Luk 21:24. sampai kepada pewartaan Injil di seluruh dunia. Kitab Suci menghormati beberapa tokoh besar dari "bangsa-bangsa": "Abel yang adil", raja dan imam Melkisedek Bdk. Kej 14:18. sebagai lambang Kristus Bdk. Ibr 7:3., "Nuh, Daniel, dan Ayub" yang adil (Yeh 14:14). Dengan demikian Kitab Suci menegaskan kesucian agung yang dapat dicapai oleh mereka yang hidup tekun sesuai dengan perjanjian Nuh sambil menantikan Kristus yang akan datang "untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai" (Yoh 11:52).
| | 59. | Supaya mengumpulkan kembali umat manusia yang tercerai-berai, Allah memilih Abram dan memanggilnya keluar dari negerinya, dari kaum keluarganya dan dari rumah bapanya Bdk. Kej 12:1., untuk menjadikannya Abraham yang berarti "bapa sejumlah besar bangsa" (Kej 17:5): "Karena engkau Aku akan memberkati semua bangsa di bumi" (Kej 12:3 LXX) Bdk. Gal 3:8..
| | 60. | Bangsa yang berasal dari Abraham menjadi pembawa janji yang Allah ikrarkan kepada para bapa bangsa, menjadi bangsa terpilih Bdk Rm 11:28. yang dipanggil dengan maksud mempersiapkan pengumpulan semua anak Allah dalam kesatuan Gereja Bdk. Yoh 11:52; 10:16.. Bangsa ini menjadi akar pohon, yang padanya akan dicangkokkan orang-orang kafir, kalau mereka sudah percaya Bdk. Rm 11:17-18.24..
| << >>
|