KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 2721. | Tradisi Kristen mengenal tiga cara utama ungkapan kehidupan doa: doa lisan, doa renung, dan doa batin. Ketiganya menuntut ketenangan hati.
| | 2722. | Doa lisan, yang berdasarkan kesatuan badan dan jiwa dalam kodrat manusia, menghubungkan badan dengan doa hati menurut contoh Yesus, yang berdoa kepada Bapa-Nya, dan yang mengajar murid-murid-Nya doa Bapa Kami.
| | 2723. | Doa renung, meditasi adalah mencari dalam doa. Doa ini mencakup juga pikiran, daya khayal, gerak hati, dan kerinduan. Ia hendak menghubungkan pandangan penuh iman dari orang bermeditasi dengan kenyataan kehidupan kita.
| | 2724. | Doa batin adalah ungkapan sederhana tentang misteri doa. Ia memandang Yesus dengan penuh iman, mendengarkan sabda Allah, dan mencintai tanpa banyak kata. Ia mempersatukan kita dengan doa Kristus, sejauh ia mengikutsertakan kita dalam misteri-Nya.
| | 2725. | Doa adalah anugerah rahmat dan satu jawaban tegas dari pihak kita. Ia selalu menuntut satu usaha. Pendoa-pendoa dari Perjanjian Lama sebelum Kristus, demikian juga Bunda Allah dan para kudus serta Yesus sendiri mengajarkan kita bahwa berdoa berarti berjuang. Melawan siapa? Melawan kita sendiri dan melawan tipu muslihat penggoda yang melakukan segala-galanya untuk mencegah manusia dari doa, dari persatuan dengan Allah. Kita berdoa sebagaimana kita hidup, karena kita hidup sebagaimana kita berdoa. Siapa yang tidak selalu mau bertindak dalam semangat Kristus, ia juga tidak bisa terbiasa untuk berdoa dalam nama-Nya. "Perjuangan rohani" dari kehidupan baru seorang Kristen tidak bisa dipisahkan dari perjuangan doa.
| | 2726. | Dalam perjuangan doa kita perlu menanggapi pandangan-pandangan keliru mengenai doa, yang kita temukan di dalam diri kita sendiri dan di sekitar kita. Sejumlah orang melihat di dalam doa itu satu peristiwa psikologis semata-mata, yang lain lagi satu usaha konsentrasi untuk sampai kepada kekosongan batin. Ada pula yang membatasi doa pada sikap dan kata-kata ritual. Banyak orang Kristen melihat secara tidak sadar di dalam doa itu satu kesibukan yang tidak dapat disesuaikan dengan segala kesibukan lain yang harus mereka lakukan: mereka tidak mempunyai waktu. Dan mereka yang mencari Tuhan di dalam doa sangat cepat tawar hati, karena mereka tidak tahu bahwa doa juga datang dari Roh Kudus dan bukan hanya dari mereka sendiri.
| | 2727. | Kita juga harus menghadapi sikap-sikap mental "dunia ini". Kalau kita tidak berjaga-jaga, sikap-sikap itu akan merembes masuk ke dalam kita. Demikian umpamanya pendapat bahwa yang benar, hanyalah yang dapat diperiksa oleh akal budi dan ilmu pengetahuan. Berlawanan dengan itu, ada juga pandangan, bahwa doa itu merupakan satu misteri yang melampaui kesadaran dan ketidak sadaran kita. Satu pandangan lain hanya menghargai produksi dan keuntungan, lantas memandang doa sebagai tidak berguna, karena tidak produktif. Lebih jauh, satu pandangan lagi melihat kesenangan dan kenyamanan adalah takaran untuk yang benar, yang baik, dan yang indah. Tetapi berlawanan dengan itu, doa yang "adalah cinta kepada yang indah" [philokalia] hendak mencintai kemuliaan Allah yang hidup dan benar di atas segala-galanya. Akhirnya, doa digambarkan sebagai pelarian dari dunia, karena takut akan kesibukan. Tetapi doa Kristen itu bukan sikap mengundurkan diri dari sejarah; ia juga tidak memutuskan hubungan dengan kehidupan.
| << >>
|