KITAB SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja Katolik |
|
|
Katekismus Gereja Katolik
| 2513. | Kesenian-kesenian, terutama kesenian sakral, "pada hakikatnya dimaksudkan untuk dengan cara tertentu mengungkapkan keindahan Allah yang tak terperikan dalam karya manusia. Lagi pula semakin dikhususkan bagi Allah dan untuk memajukan puji syukur serta kemuliaan-Nya, karena tiada tujuannya yang lain, kecuali untuk dengan buah hasilnya membantu manusia sedapat mungkin mengangkat hatinya kepada Allah" (SC 122).
| | 2514. | Santo Yohanes membeda-bedakan tiga macam hawa nafsu atau keinginan: keinginan daging, keinginan mata dan kesombongan dunia Bdk. 1 Yoh 2:16.. Menurut tradisi katekese Katolik perintah kesembilan melarang keinginan daging, perintah kesepuluh melarang keinginan akan milik orang lain.
| | 2515. | Secara etimologis, kata "keinginan" dapat berarti setiap bentuk keinginan kuat manusia. Teologi Katolik mengartikannya dengan satu daya perasaan nafsu berahi yang kuat, yang melawan pikiran manusia. Rasul Paulus menggunakan kata itu untuk pemberontakan "daging" melawan "roh" Bdk. Gal 5:16.17.24; Ef 2:3.. Keinginan berasal dari ketidaktaatan dosa pertama Bdk. Kej 3:11.. Juga apabila keinginan itu bukan suatu pelanggaran, namun ia mengganggu tata kekuatan manusia yang susila dan membuatnya cenderung untuk melakukan dosa Bdk. Konsili Trente: DS 1515.
| | 2516. | Oleh karena manusia adalah makhluk yang terdiri dari roh dan badan, terdapatlah di dalamnya semacam ketegangan: kecenderungan roh dan badan berada dalam semacam perlawanan. Tetapi konflik ini adalah warisan dari dosa; ia berasal darinya dan serentak menyatakannya. Kita mengalaminya dalam perjuangan rohani sehari-hari.
"Bukanlah maksud Rasul untuk mendiskriminasikan badan dan mengecamnya, yang bersama dengan jiwa rohani membentuk kodrat manusia dan subyektivitas pribadinya; ia lebih banyak berbicara tentang pekerjaan-pekerjaan, atau lebih baik, tentang pola tingkah laku habitual - kebajikan dan kebiasaan buruk - yang secara susila baik atau buruk sebagai buah ketaatan (dalam kasus pertama) atau perlawanan (dalam kasus kedua) terhadap karya keselamatan Roh Kudus. Karena itu Rasul menulis: Roh Allah sudah memberikan kepada kita hidup yang baru; oleh sebab itu Dia jugalah harus menguasai hidup kita (Gal 5:25)" (DeV 55).
| | 2517. | Hati adalah tempat kediaman kepribadian susila: "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, perzinaan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, dan hujah" (Mat 15:19). Dalam perjuangan melawan keinginan daging dibutuhkan pembersihan hati dan pengekangan diri.
"Jagalah dirimu dalam kesederhanaan dan kemurnian, dan engkau akan seperti anak-anak yang tidak mengenal yang jahat, yang merusakkan kehidupan manusia" (Hermas, mand. 2, 1).
| | 2518. | Sabda bahagia keenam menyampaikan: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah" (Mat 5:8). Yang mempunyai "hati murni" ialah mereka yang sudah menyesuaikan pikiran dan kehendaknya dengan tuntutan kekudusan Allah, terutama dalam tiga bidang: cinta kasih kristiani Bdk. 1 Tim 4:3-9; 2Tim 2:22., kemurnian atau sikap tak bercela dibidang seks Bdk. 1 Tes 4:7; Kol 13:5; Ef 4:19., dan cinta kepada kebenaran dan kepatuhan kepada agama Bdk. Tit 1:15; 1 Tim 1:34; 2 Tim 2:23-26.. Kemurnian hati, badan, dan iman berhubungan satu sama lain.
Orang-orang Kristen harus mengimani artikel-artikel simbolum, "supaya sebagai orang beriman mereka taat kepada Allah; sebagai orang yang sangat taat, mereka harus hidup baik di bidang susila; sebagai orang yang hidup baik di bidang susila, mereka membersihkan hatinya, dan sebagai orang yang membersihkan hatinya mereka harus mengerti apa yang mereka imani" (Agustinus, fid. et symb. 10, 25).
| << >>
|