Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU PRAPASKAH IV/CII/2016

Yos 5:9a.10-12  2 Kor 5:17-21  Luk 15:1-3.11-32


PENGANTAR
          Pada Hari Minggu Prapaskah IV dalam rangka masa puasa ini, kita akan mendengarkan Injil Lukas dengan perumpamaan oleh Yesus tentang anak yang hilang tetapi diketemukan kembali. Intisari perumpamaan itu ialah, bahwa Allah yang maharahim dan berbelas kasih mengampuni setiap orang berdosa, apabila ia bertobat mengakui dosanya dan dengan rendah hati mohon ampun kepada-Nya.

HOMILI
          Sangat menyolok ialah, bahwa intisari pesan yang disampaikan Yesus dalam perumpamaan itu bukanlah anak yang hilang itu sendiri, keadaannya yang sangat parah, kesadarannya akan dosanya, - semua itu memang penting, - namun lebih ditunjukkan kepada kerahiman Allah sebagai Bapa mahakasih.

          Si Bapa dalam perumpamaan itu tahu, bahwa keinginan dan permintaaan anaknya memang  yang tidak pantas. Memang  bukan karena kehendak atau tujuannya yang jahat, melainkan lebih berupa keinginan, nafsu dan pengalaman seseorang yang kurang dipikirkan atau disadari sepenuhnya. Tetapi karena kasihnya kepada anaknya, keinginannya itu dikabulkannya.

          Tuhan Allah ibaratnya juga berbuat demikian! Bukankah Allah sebenarnya dapat memaksa kita manusia yang diciptakan-Nya untuk tidak berbuat salah, buruk dan berdosa? Namun dalam kenyataannya Tuhan memberikan kepada kita kebebasan kehendak dan kesempatan untuk mengambil keputusan menurut keinginan kita sendiri. Allah memberi kebebasan untuk memilih sendiri: yang baik ataupun yang jahat! Tetapi dalam keadaan apapun, yang benar ataupun yang salah, ternyata Allah akan selalu menolong kita!

          Dalam perumpamaan itu digambarkan proses jatuhnya nilai martabat si anak yang hilang: pemborosan harta, berfoya-foya, dan mengalami kelaparan tanpa mengalami pertolongan. Seperti si bapa anak itu, bukankah Allah juga membiarkan dan memberi kesempatan kepada kita, untuk menghayati hidup kita menurut pilihan kehendak kita sendiri? Apakah apapun yang kita pilih akan berhasil atau jatuh dalam hidup kita, itu tergantung dari penentuan kebebasan pilihan kita masing-masing. Kita harus meng akui, seperti kerapkali kita alami sendiri, ataupun mungkin seperti dialami oleh orang lain, bahwa apabila segalanya yang kita lakukan  berjalan dengan baik, kita mudah lupa akan Tuhan. Kita puas dapat melakukan dan mengatur segalanya menurut keinginan dan cita-cita kita sendiri. Hanya  apabila kita mulai  mengalami kesukaran dalam hidup , kita baru ingat akan Tuhan. Dan kita mulai mempersoalkan mengapa Tuhan membiarkan kita mengalami kesulitan hidup kita. Kesalahannya yang dilakukan sendiri kita lemparkan kepada Allah.

          Yang terutama harus kita perhatikan dalam perumpamaan Injil Lukas hari ini ialah sikap bapa yang kehilangan anaknya. Anak yang hilang itu akhirnya sadar akan keadaan dirinya. Ia akhirnya secara jujur mengakui: “Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa”. Anak itu sadar, bahwa ia tidak mempunyai hak lain untuk menuntut. Ia hanya berhak mengajukan permohonan untuk diterima sebagai seorang pekerja upahan harian.

          Inilah pesan Injil hari ini kepada kita. Apabila kita mengakui dan sadar akan kesalahan, kekeliruan, dosa kita dengan sungguh-sungguh, maka kita baru akan sungguh-sungguh pula menghargai kasih Allah. Kita sadar, bahwa atas kekuatan atau kemampuan sendiri kita sebagai ciptaan kita tidak dapat menolong diri kita sendiri. Kita selalu membutuhkan pertolongan rahmat Allah. Seperti si anak yang hilang itu, dan sadar akan dosanya, kita  pun sebagai manusia merasa telah kehilangan kedudukan kita sebagai putera Allah lewat baptis. Tetapi seperti bapa yang diceriterakan dalam perumpamaan, Allah Bapa juga bersedia menerima kita orang berdosa sebagai putera-puteri-Nya.

          Paus Fransiskus telah mengadakan Tahun Suci Luarbiasa Kerahiman Allah. Johanes dalam suratnya yang pertama menulis bahwa “Allah adalah kasih”  (1 Yoh 4:1.16). Ciri khusus yang tampak dalam kasih Allah ialah kerahiman-Nya yang tampak nyata seperti terdapat dalam pribadi, sikap, kata dan perbuatan Yesus Kristus. Apa yang dikatakan Yesus dalam perumpaan dalam Injil Lukas hari ini, dilaksanakan-Nya sendiri dalam peristiwa di Golgota. Ia disalib dan disalib itulah Ia mengampuni seorang penjahat yang disalib bersama dengan Dia, namun dalam kesadaran akan dosanya mohon ampun kepada Allah, dan diselamatkan oleh Yesus dan bersama Dia masuk ke hidup abadi dengan Dia.

          Gereja mengenal ungkapan bahasa Latin “felix culpa”, kesalahan atau dosa yang membahagiakan! Dosa yang disesali dan diampuni ternyata merupakan bukti kebesaran kasih Allah tanpa batas. Allah adalah Allah yang maharahim dalam kasih-Nya.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/