Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU PRAPASKA IV/B/2015

2 Taw 36:14-16.19-23  Ef 2:4-10  Yoh 3:14-21


PENGANTAR
Dalam Injil Yohanes pada hari ini diceriterakan percakapan antara Yesus dan Nikodemus pada waktu malam. Yesus mengingatkan Nikodemus sebagai tokoh agama Yahudi, bahwa banyak orang mati digigit ular tedung karena tidak mau taat kepada perintah-Nya. Maka atas perintah Musa, mereka mendirikan tiang dengan ular dari tembaga. Barangsiapa digigit ular tedung dan memandang tiang ular tembaga itu tidak akan mati. Karena itu barang siapa percaya kepada Yesus yang tergantung di tiang salib, dan memandang kepada-Nya, ia akan hidup dan memperoleh hidup kekal.

HOMILI
          Dalam masa prapaskah kita merenungkan sengsara Yesus. Kita sering berdoa Jalan Salib, dan pada perhentian keduabelas,  kita melihat Yesus yang wafat di salib bagi kita. Dalam Injil hari ini Yesus memberitahukan bahwa Ia akan mati supaya orang yang percaya akan beroleh hidup yang kekal. Hidup kekal menurut Yohanes ialah mengenal Allah, yang benar. Yesus Kristus diutus oleh Allah, yang  karena kasih-Nya mau memberikan hidup dan bukan kematian kepada umat manusia. Manusia diciptakan Allah untuk diberi hidup kekal.

          Allah mengasihi kita. Yohanes dalam injil dan surat-suratnya tak henti-hentinya menegaskan kebenaran ini. Ia mau menyakinkan kita, agar kita menaruh seluruh kepercayaan kita akan kasih Allah ini. Banyak orang beriman tidak begitu yakin dan sadar akan kasih Allah, sehingga tidak sadar akan kelemahan dan dosanya. Banyak orang terombang-ambingkan di antara imannya akan kasih Allah serta rasa sesal atas kekurangannya di satu pihak, tetapi di lain pihak  juga dikuasai oleh kehendak egoistisnya. Mereka sulit mengakui  bahwa mereka  pernah melakukan dosa. Tetapi Allah telah memberikan bukti begitu besar, bahwa Ia akan menghapus segala dosa, membuangnya jauh-jauh, apabila kita berpaling kembali kepada-Nya! Kebenaran ini seharusnya tertanam di dalam hati kita. Inilah sumber sukacita dan sekaligus sumber kekuatan kita untuk melawan dosa.

          Allah mengutus Putera-Nya kepada kita. Dan Johannes menulis : Allah telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya kita yang percaya diselamatkan. Paulus begitu terpesona oleh kasih Allah ini sehingga ia menulis kepada jemaat di Roma : “Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Rm. 8,32-33). Bila kita merenungkan sengsara dan salib Yesus, kita seharusnya ingat akan besarnya kasih Allah kepada kita. Memang salib Yesus  harus menyadarkan kita akan buruknya dosa kita, namun ” jikalau  karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagilah kasih karunia Allah(Rm.5,17). Kasih Allah yang tak terbayangkan ini, tampak dalam diri Yesus yang tersalib. Meskipun tak dapat kita fahami sepenuhnya,  marilah kita imani dengan sikap berani mempercayakan diri kepada kerahiman Bapa. Sebab Allah Bapa telah mengutus dan mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal demi keselamatan kita!

          Hidup kekal memang  tidak sama dengan hidup kita sekarang ini, dan tidak akan berakhir! Kalau  kita mau membandingkannya dengan sesuatu yang kita alami di dunia ini, sebaiknya kita ingat akan pengalaman kasih kita dengan seseorang, entah isteri atau suami, anak atau sahabat. Kasih itu  sungguh mendalam dan memberikan warna baru kepada hidup kita. Meskipun pengalaman ini pun terbatas, namun lebih mendekati kasih, yang dimaksud Yesus dengan hidup kekal: yaitu mengenal dan mencintai Allah serta Putera-Nya dalam kuasa Roh Kudus, sebagaimana kita dikenal dan dicintai oleh Allah. Dalam kasih tak ada rasa jenuh! Kasih Allah akan mengubah hidup kita seluruhnya. Kita akan mencintai Allah sebagaimana Yesus mengasihi kita! Inilah tujuan pengorbanan Yesus bagi kita. Ini sudah mulai kita terima dalam hidup ini berkat sakramen baptis, sakramen pengakuan. Dan relasi kita dengan Allah ini bertumbuh dan berbuah dalam sakramen Ekaristi : Yesus menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya, seluruh diri-Nya bagi kita semua demi pengampunan dosa.

          Penghayatan iman akan kasih Allah dalam diri Yesus kepada kita  akan mengubah hidup kita menjadi sesuai dengan hidup Kristus. Iman kita bukanlah sekadar memeluk agama kristiani, meskipun kita sudah dibaptis. Iman yang benar ialah keyakinan dan kesadaran akan kasih Kristus, yang rela tergantung dan mati di kayu salib untuk memberikan hidup kekal kepada kita. Seperti dahulu bangsa Yahudi diselamatkan dari kematian dengan melihat ke atas ke tiang dengan ular lembaga, demikian kita akan diselamatkan Allah apabila kita percaya dengan melihat tiang salib Yesus Kristus. Syaratnya: seperti Nikodemus, kita harus mau dilahirkan kembali (lih. Yoh 3:3.7). Meninggalkan manusia lama. Itulah pertobatan.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/