Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU PRAPASKAH III/CII/2016

Kel 3:1-8a.13-15  1 Kor 10:1-6.10-12  Luk 13:1-9


PENGANTAR
          Dalam perjalanan kita sehari-hari selama Masa Puasa, hari ini kita akan mendengarkan sabda Yesus, yang dengan jelas menegaskan adanya kebutuhan mutlak, yang harus kita penuhi untuk dapat diselamatkan, yakni pertobatan.

HOMILI
          Kata-kata yang diucapkan Yesus dalam Injil Lukas hari ini terdengar sangat mengejutkan! Dalam bentuk suatu perumpamaan Yesus mengemukakan syarat fundamental untuk dapat menghayati hidup kristiani sejati sebagai murid-Nya  untuk dapat  diselamatkan. Latar belakang ucapan Yesus itu ialah dua peristiwa. Perisiwa pertama: Pilatus membunuh sejumlah orang-orang Galilea, yang akan memberontak melawan pemerintahan Romawi. Perisiwa kedua: ada 18 orang penduduk Yerusalem, yang mati karena tertimpa menara yang roboh. Menghadapi itu orang-orang Yahudi menganggap kedua peristiwa itu merupakan hukuman Allah untuk dosa-dosa mereka yang menjadi korban tersebut. Tetapi Yesus dengan tegas menolak anggapan itu! Mereka yang mati sebagai korban itu bukan lebih buruk daripada orang-orang yang masih hidup. Korban-korban itu bukanlah hukuman, melainkan merupakan peringatan. Maka Yesus berkata: Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian (Yoh 13:3).

          Ucapan Yesus  itu dikatakan dua kali! Yang pertama ditujukan kepada orang-orang, yang masih hidup sezaman dengan Yesus, baik di Galilea maupun di Yerusalem. Yang kedua kepada semua orang yang masih hidup di mana pun, untuk memperingatkan kita semua akan  masa depan akhir hidup kita masing-masing, maupun  masa terakhir dunia! Kita sebagai manusia jangan merasa selalu aman, apalagi bersikap acuh tak acuh dalam hidup kita. Terutama kita tidak tahu, kapan hidup kita akan berakhir. Karena itu Yesus mengingatkan kita, supaya kita selalu menggunakan waktu  yang diberikan kepada kita sebaik mungkin, dengan penuh rasa tanggungjawab kepada Dia, yang telah memberikannya kepada kita. Hanya orang yang sadar, bahwa dirinya tergantung dari rahmat dan kerahiman Allah, dan tahu bahwa ia  sebagai orang berdosa selalu dapat mohon kerahiman-Nya, maka dialah yang akan diselamatkan. – Demikianlah pesan Yesus tentang pertobatan sebagai syarat mutlak untuk dapat diselamatkan, jangan sampai kita abaikan.

          Sangat pentingnya pertobaan dalam hidup kita itu diterangkan Yesus dengan seuatu perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah. Masih diberi kesempatan berbuah satu tahun. Bila tidak berhasil, pohon itu ditebang! Dalam Kitab Suci kita tahu, bahwa Allah telah memilih Israel sebagai bangsa terpilih. Telah selalu dilindungi dan diperhatikan secara khusus. Israel telah diberi hukum (Taurat), nabi-nabi, perjanjian dan bait Allah. Bahkan akhirnya masih diberi kesempatan terakhir, yakni Yesus Kristus sebagai Juru Selamat. Tetapi ditolak!

          Kita pun diberi kesempatan yang sama. Allah telah mendirikan Gereja, dan kita adalah anggota-anggotanya. Bagi kita disediakan sakramen-sakramen, Perjanjian Baru, Injil. Kita memiliki Tuhan yang selalu hadir dalam Ekaristi tanpa henti. Setiap orang yang jujur dan setia untuk hidup sebagai seorang kristiani sejati tidak dapat mengeluh akan perhatian dan kasih Tuhan kepadanya!

          Khususnya dalam masa puasa ini kita harus menyediakan diri untuk meninjau diri kita masing-masing. Makin menyadari diri sendiri sebagai orang berdosa, yang sungguh harus bertobat, untuk memperbaiki diri sendiri. Agama itu sendiri bukanlah jaminan untuk keselamatan kita. Agama hanyalah suatu sarana. Dan sarana hanya ada hasilnya apabila dipahami dan digunakan dengan baik. Sakramen-sakramen bukanlah juga sarana otomatis. Meskipun telah dibaptis sebagai ungkapan pertobatan, kita tidak dengan sendirinya sungguh bertobat dan menjadi murni dan bersih untuk diselamatkan.

          Tahun ini adalah Tahun Luarbiasa Kerahiman Allah. Allah Bapa kita adalah maharahim, seperti diungkapkan dalam diri Yesus Kristus Putera-Nya. Menurut Johanes “Allah adalah kasih” (1Yoh 4:8). Allah yang adalah kasih inilah yang adalah Allah yang maharahim. Allah maharahim selalu mencari dan menerima setiap orang yang bertobat dan yang datang kepada-Nya untuk diampuni dan diselamatkan. Dengan latar belakang kerahiman ilahi penuh kasih inilah, pertobatan kristiani sejati secara positif berupa melaksanakan dan menghayati kerahiman Allah kepada sesama kita. Kita sungguh mengasihi Allah, apabila kita memgasihi sesama kita, terutama justru mereka yang kurang berkenan kepada kita!

          Demikianlah berpuasa dan bertobat bukan hanya berupa mengendalikan hawa nafsu dan menyesali dosa,  melainkan mengambil tekad untuk mengubah pandangan, pikiran, sikap dan perbuatan yang mementingkan diri sendiri. Secara singkat, pertobatan adalah suatu transformasi diri seutuhnya. Bukan suatu pertobatan dengan syarat! Sikap manusia terhadap Allah tidak mengenal syarat.
Bertobat berarti mengasihi Allah sekaligus mengasihi sesama!

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/