Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XIV/A/2014

Zak 9:9-10  Rom 8:9.11-13  Mat 11:25-30

PENGANTAR
     Hari Jumat yang lalu kita umat kristiani merayakan Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus. Dan hari, Hari Minggu Biasa, kita semua khususnya yang Jumat yang lalu, karena bukan hari libur tidak sempat mendengarkan sabda Tuhan dalam misa kudus, maka Injil Matius (11:25-30) yang sama akan kita dengarkan (atau dengarkan lagi) dalam misa kudus sekarang ini. Marilah kita membuka hati kita untuk mendengarkan kata-kata Yesus, yang merupakan doa kepada Bapa-Nya dan pesan-Nya kepada kita umat-Nya,

HOMILI
     Pada kesempatan ini marilah kita semua, masing-masing menurut keadaan pribadinya, yang memang berbeda satu sama lain, namun yang bersama-sama semartabat di depan Tuhan sebagai putera-puteri-Nya, sebagai saudara Yesus Kristus, berusaha memahami kata-kata Yesus dalam Injil Matius yang disampaikan hari ini kepada kita.

     Yesus menyembunyikan misteri Kerajaan Allah bagi “orang bijak dan orang pandai”. Ternyata untuk memahami sabda Allah dituntut hati yang sederhana dan murni. Orang yang bijak atau pandai yang dimaksudkan Yesus itu, misalnya adalah orang yang pandai mengatur tetapi untuk kepentingan sendiri. Atau orang yang pandai memperoleh dan mengolah uang, namun ternyata merugikan orang lain, dan juga dirinya sendiri dalam menggunakannya. Tetapi ada juga orang yang merasa sangat pandai dan sombong, sampai tidak mau memahami pandangan atau kebijakan baik dan benar yang pada umumnya dianut banyak orang. Nah, disamping orang-orang yang disebut “bijak dan pandai” itu, juga ada orang-orang  yang disebut memiliki “kebijakan anak-anak” (bukan kekanak-kanakan), yakni yang sederhana dan penuh kepercayaan. Kebijakan sebagai anak ini lebih mudah memahami dan menerima hal-hal yang diberikan oleh Allah. Percaya kepada sabda Allah menuntut kepercayaan penuh kepada kasih dan belaskasih-Nya. Tetapi juga menuntut suatu pengakuan dan kesadaran akan begitu terbatasnya kemampuan kita sebagai manusia, bila dibandingkan dengan kebesaran serta kemuliaan Allah. Kita bertanya kepada diri kita sendiri: apakah aku memiliki dan sadar akan sikap dasar hidupku sebagai manusia terhadap Allah?

     Doa yang diucapkan Yesus dalam Injil hari ini menyadarkan kita, bahwa hanya Yesuslah yang mengenal Allah Bapa. Yesus datang untuk memperkenalkan Bapa-Nya itu kepada kita. Tidak semua orang menyadari hal ini, seperti misalnya Rasul Filipus. Yesus berkata kepadanya: Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami(Yoh 14:9). Kesadaran kita bahwa Yesus merupakan cermin Allah Bapa kita, akan sangat menolong kita apabila kita memanjatkan doa kita kepada-Nya. Seperti kita dapat dengan mudah berdoa kepada Bunda Maria, demikian juga gambaran Allah Bapa yang tampak dalam diri Yesus akan mempermudah doa kita kepada Allah Bapa kita.

     Apa syaratnya agar dapat berdoa dengan benar?
     Sadar atau tidak sadar, kita ini memiliki sikap dasar kesombongan atau arogansi. Bukankah kita ini lebih  banyak memikirkan diri kita sendiri, seolah-olah lebih baik dari pada orang lain. Dalam hidup kerohanian, kita ini siapapun juga sebagai manusia, tidak memiliki hak atau wewenang apapun untuk selalu berhasil dalam doa kita. Kita tidak berhak menuntut kepada Allah Bapa!  Tetapi apabila kita menyerahkan diri kita kepada Allah Bapa melalui Yesus, maka bukan kita sendirilah yang hidup dan berdoa dalam Kerajaan Allah, melainkan Yesuslah yang berada, bertindak dan berbuat dalam diri kita untuk kemuliaan Allah.

     Maka agar dapat berbuat demikian, kita ini pertama-tama harus mengenal dan mengakui diri kita sendiri lebih dahulu. Kita pertama-tama harus secara jujur harus mau dan berani mengakui, bahwa kita ini adalah orang berdosa. Kita ini tergantung secara total dari rahmat dan kerahiman Allah. Kita harus rela tunduk mengakui “kekecilan” atau kerendahan kita dan menghadapi dan mengakui kebesaran dan kemuliaan Allah dalam diri Yesus. Menghayati hidup rohani, hidup keagamaan, hidup batin, semua itu ibaratnya seperti seolah-olah kita naik tangga. Makin tinggi kita naik tangga, makin besar bahayanya kita akan jatuh. Hanya apabila kita mau dan rela bersikap sederhana dan rendah hati, Yesus akan selalu mendampingi kita naik tangga menuju kesucian, yakni menerima kasih Allah Bapa sepenuhnya kepada kita.

     Keselamatan yang harus kita miliki bukanlah hasil jerih payah kita sendiri, melainkan karya Yesus bagi kita. Jangan sampai kita terlalu hanya percaya kepada kekuatan kita sendiri. Karena itu marilah kita selalu datang mendekati Yesus  dengan rendah hati dan penuh kepercayaan. “Ya,Yesus Tuhan, dampingilah kami selalu! Engkau lemah lembut dan rendah hati. Semoga kami makin sadar, bahwa bagi setiap orang yang percaya kepada-Mu, kuk yang Engkau pasang adalah enak, dan beban-Mu adalah ringan”.    

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/