Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU ADVEN IV/C/2012

Mi 5:2-5a  Ibr 10:5-10  Luk 1:39-45

 

PENGANTAR
          Minggu Adven IV adalah Minggu terakhir bagi kita untuk mempersiapkan diri kita menyambut kedatangan Kristus dalam Hari Raya Natal. Sekarang adalah kesempatan untuk berusaha memahami makna spiritual atau rohani Perayaan Natal. Diceriterakan dalam Injil bahwa Maria mengunjungi Elisabet. Dan Elisabet menyambut Maria dengan kata-kata:

Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sesungguhnya ketika salammu sampai ke telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Sungguh, berbahagialah ia yang telah percaya , sebab firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana(Luk 1:42-45). Jawaban Maria: Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (ay.46-48).

          Marilah dalam perayaan Ekaristi ini kita berusaha memahami apa yang dikatakan oleh kedua dua orang perempuan ini: Maria dan Elisabet, yang dapat menolong kita menyiapkan diri menyambut kedatangan Yesus Penyelamat kita.

HOMILI
          Isi pokok yang harus kita ketahui dan sadari untuk merayakan Natal secara benar, ialah bahwa Natal adalah pesta bagi orang-orang yang rendah hatinya, dan yang disebut kaum kecil dan miskin. Kata-kata Maria itu adalah awal Kidung “Magnificat anima mea Dominum” atau “Hatiku memuliakan Tuhan, di mana ia antara lain berkata:


“Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah. Ia melimpahkan segala yang baik kepada orng-orang yang rendah; Ia menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” (Luk 1:52-43).

          Sekarang ini di dunia kita terlihat adanya dua tingkat/macam sosial di dalam masyarakat kita, yang dahulu belum ada atau belum menyolok. Ada masyarakat metropolitan di mana orang-orangnya berpergian naik mobil pribadi, dengan pesawat, menggunakan komputer, mengatur dengan internet. Hubungan antara mereka ini ibaratnya berskala metropolitan atau kosmopolitan, bahkan mondial atau global. Ibaratnya terbentuklah “desa global” (Global Village) Tetapi juga ada golongan orang banyak, yang masih hidup di desa atau di kampung. Atau ada yang sudah meninggalkannya dan menempuh jalan urbanisasi, bertujuan  mencari nafkah yang lebih baik di kota. Tetapi hubungan sosial mereka ini sangat terbatas. Mereka tidak memiliki fasilitas komunikasi sosial.- Inilah keadaan di zaman kita di mana ada orang-orang yang secara alkitabiah disebut “golongan berkuasa” dan “golongan yang rendah”. Perbedaan begitu besar di antara dua golongan inilah yang sedang berlangsung di dalam masyarakat kita, seperti disebut Maria dalam Kidungnya: “Magnificat anima mea Dominum” atau “Jiwaku memuliakan Tuhan”.

          Maria menolong kita untuk membenarkan atau meluruskan kembali keadaan  masyarakat di dunia ini seperti dikehendaki dan diciptakan Allah. Maria memberitahukan kepada kita, agar kita jangan menipu diri kita sendiri, apabila kita sungguh ingin menjadi orang beriman sejati sebagai pengikut Yesus!

          Maria menunjukkan kepada kita, bahwa kerapkali nilai-nilai luhur sejati justeru tersimpan dalam hati orang-orang kecil, orang-orang rendah. Buktinya suatu peristiwa yang begitu penting dan sangat menentukan, misalnya kelahiran Yesus (!) justru berlangsung terjadi di kalangan orang-orang kecil, bukan di kalangan istana atau di kalangan orang-orang besar atau orang-orang berkuasa. Dalam Kitab Suci antara lain juga tertulis: Tuhan itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh(Mzm 138:6).  Dan St. Petrus berkata: Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (1 Ptr 5:5).

          Dalam saat menyiapkan diri menjelang kedatangan Yesus sebagai Penyelamat, pesan-pesan alkitabiah hari ini, khususnya Kidung Magnificat Maria sungguh relevan, sungguh dibutuhkan untuk zaman kita. Allah tiap kali tampak lebih memperhatikan orang-orang yang menderita, tertinggal atau tersisih. Bukankah kita-kita ini sering lebih mengarahkan pandangan kita kepada “orang-orang besar di atas”, bukan kepada “orang-orang di bawah”? Bukankah kita lebih cenderung ingin menjadi serupa dengan keadaan orang-orang berduit, daripada memperhatikan orang-orang yang sungguh mengalami kekurangan! Bagaimana sikap hidup dan perbuatan kita, bila sungguh mengharapkan kedatangan Yesus?

          Di Yerusalem, bila orang mau memasuki gereja/basilika Kelahiran Yesus Penyeamat kita, harus masuk melalui pintu lubang yang sempit dan rendah, sehingga harus membungkukan diri. Tempat masuk sempit dan rendah itu bertujuan untuk mengingatkan kita, bahwa untuk memahami makna Perayaan Natal yang sebenarnya, kita sungguh membutuhkan kerendahkan hati dan kerelaan untuk mau menjadi orang kecil sepert Yesus di Betlehem.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/