Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU ADVEN II/C/2012

Bar 5:1-9  Fil 1:4-6.8-11  Luk 3:1-6

PENGANTAR
    Pada Hari Minggu Adven II ini Barukh mewartakan kabar gembira tentang damai-sejahtera, karena Allah akan datang. Paulus dalam Bacaan II berseru kepada umat di Filipi: “Usahakanlah supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus”. Dan dalam Injil Lukas hari ini Yohanes Pembaptis : “ Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis. Maka Allah akan mengampuni dosamu. Siapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya”. Inilah kabar gembira yang kita dengarkan dalam masa Adven ini.

HOMILI
    Seruan yang disampaikan Yohanes Pembaptis duapuluh abad yang lalu kinipun ditujukan kepada kita. Dalam seruannya itu Yohanes menyampaikan tiga syarat yang harus kita penuhi untuk dapat diselamatkan: baptis/permandian, pertobatan dan pengampunan dosa. Tiga syarat itu berkaitan erat satu sama lain.

Baptis: Baptis adalah suatu panggilan untuk memasuki suatu hidup dengan Yesus. Baptis berarti pembersihan diri dari segala cacat hidup, namun tidak secara otomatis. Secara simbolis niat dan tekad baik untuk berdamai dengan Allah itu dibuktikan dengan menerjunkan diri ke dalam sungai Yordan, agar segala kekotoran dirinya terhapuskan. Bagi kita itunterlaksana dalam pembatisan.

Pertobatan:  Bertobat berarti pengampunan dosa. Pengampunan ini merupakan suatu metanoia, suatu perubahan keadaan hati/batin. Bukanlah sekadar penyesalan  atas dosa-dosa yang sudah kita lakukan, melainkan suatu perubahan total dan radikal seluruh hati kita! Metanoia atau perubahan total inilah yang dapat mendatangkan pengampunan sejati.

Pengampunan: Di mana ada pertobatan, di situlah ada pengampunan. Dengan demikian pengampunan dari segala dosa berarti membebaskan diri dari beban berat hidup kita. Pengampunan mendatangkan rekonsiliasi dengan Allah dan dengan sesama kita. Dan itu berarti suatu penyembuhan dan pemulihan kembali hidup kita menjadi tenang dan damai.

Pesan yang kita peroleh dalam Kitab Suci tidak pernah ketinggalan zaman, bahkan selalu relevan dan aktual. Dan pesan keagamaan/kerohanian alkitabiah tidak boleh dipisahkan dari hidup dan perbuatan sehari-hari. Sebab kebenaran dan kesungguhan dari apa yang kita lakukan secara lahiriah, ditentukan oleh keadaan rohaniah/batin kita!

Maka tampillah Yohanes Pemandi. Ia tahu bahwa orang-orangYahudi percaya kepada ajaran Taurat. Mereka taat terhadap hukum, namun hurufnya bukan tujuan atau maksudnya. Dalam kenyataan di tengah masyarakat Yahudi di zaman Yesus merajalelalah sikap hidup dan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran para Nabi mereka yang sesungguhnya. Karena itu Yohanes Pemandi berseru supaya orang-orang sezamannya menyiapkan jalan bagi Almasih, meluruskan jalan yang benar. Gunung-gunung kejahatan,  jurang-jurang ketidak-adilan dan penindasan, lika-liku jalan penipuan dan kebohongan, - semua itu harus disingkirkan dan diluruskan! Itulah unsur-unsur hidup dalam hati setiap orang, bukan hanya di zaman Yohanes Pembaptis, namun kita pun tengah berlangsung dan merajalela!

Karena itu seruan Yohanes Pembaptis yang sama itu sekarangpun ditujukan kepada kita. Kita semua diajak untuk dibaptis kembali, bertobat kembali, agar mendapat pengampunan kembali, sehingga kita sungguh siap dan pantas menerima Yesus Almasih kita.

Dalam masa Adven ini dalam Gereja sebagai persekutuan umat kristiani, lewat jalan rohani dan alkitabiah kita dapat memperoleh informasi tentang kedatangan Juruselamat kita. Tetapi kita bukan hanya menerima informasi belaka. Dari kita semua tanpa kekecualian, lewat informasi gerejawi itu juga dituntut pengertian dan pelaksaaan transformasi diri, seperti disampaikan oleh Yohanes Pembaptis.

Hal lain yang patut kita perhatikan ialah kenyataan, bahwa kita sekarang hidup dalam zaman kebudayaan instan, yang tak mengenal lagi kebudayaan sabar, tekun, tak kenal lelah. Sebaliknya kita ingin cepat, mudah, segera tercapai. Perjalanan panjang hidup kristiani sejati, yang terungkap dalam masa adven, untuk benar-benar dapat menyambut kedatangan Penebus kita, harus kita pahami dan hayati penuh keyakinan, harapan dan kesediaan mengalami transformasi batin yang sungguh-sungguh. Hanya dengan sikap dasar inilah, Perayaan Natal sejati akan dapat dirayakan dengan sungguh-sungguh. Kita diajak memikirkan kembali makna pembaptisan kita, pertobatan kita dan pengampunan Allah kepada kita.

 

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/