Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

KAMIS PUTIH A/2014

Kel 12:1-8.11-14 1 Kor 11:23-26  Yoh 13:1-15

PENGANTAR
     Dalam Gereja Katolik pada Hari Kamis Putih kita sebagai umat Allah diingatkan akan tiga hal ajaran iman yang sangat penting bagi hidup kita, yakni: Yesus mengadakan pelayanan kasih lewat pembasuhan kaki, mengadakan sakramen ekaristi dan mengadakan sakramen imamat. Memang Injil Yohanes adalah satu-satunya yang berceritera tentang pembasuhan kaki oleh Yesus kepada murid-murid-Nya. Tetapi menurut Injil-Injil lain, kecuali dengan membasuh kaki, Yesus telah menunjukkan kerendahan hati, pelayanan kasih dan penyerahan diri-Nya dengan mengadakan ekaristi. Supaya pelaksanaan pemberian diri-Nya yang total dalam ekaristi itu dapat tetap berlangsung, Ia mengadakan imamat, agar supaya dapat dilaksanakan terus-menerus oleh imam-imam-Nya.

HOMILI
     Kasih dapat dilihat sebagai sekeping mata uang, yang memang hanya satu namun mempunyai dua segi, dua gambar atau dua arti. Mata uang itu sendiri memang hanya satu: yaitu kasih. Tetapi kasih menunjukkan dua segi: kerendahan hati dan pelayanan. Kasih sejati memang tidak mungkin ada apabila tidak disertai dengan kerendahan hati dan pelayanan. Misalnya dalam Pemilu, apabila seseorang sebagai anggota partai, memberikan uang dengan dalih demi cinta dan pengabdian kepada negara dan bangsa, tetapi sebenarnya hanya supaya ia dipilih menjadi caleg, capres atau cawapres demi kepentingannya sendiri, perbuatannya itu adalah kasih palsu.

     Sebelum mengadakan ekaristi, yang merupakan pemberian diri total kepada murid-murid-Nya, Yesus yang menurut Injil Yohanes disebut “Guru dan Tuhan” mereka (13:13), tidak ragu-ragu membasuh kaki murid-murid-Nya. Membasuh kaki merupakan pekerjaan seorang budak. Suatu bentuk pelayanan yang sangat rendah nilainya. Tetapi Yesus memilih cara pelayanan yang sangat rendah itu, justru untuk meyakinkan murid-murid-Nya bahwa kasih-Nya kepada mereka sungguh murni dan tanpa batas.

     Dalam Pemilu yang lalu ada caleg-caleg berusaha menunjukkan kemampuan dan janji-janji muluk tentang diri dan partai mereka kepada rakyat, dan di sana-sini disertai pemberian uang sebagai daya tarik. Cara yang dipakai oleh Yesus, yang diutus oleh Allah Bapa-Nya sebagai Penebus untuk seluruh umat manusia, ternyata memilih jalan lain, bukan untuk memperlihatkan keagungan manusiawi-duniawi, melainkan keagungan kasih ilahi-surgawi. Pelayanan kasih sejati Yesus yang membasuh kaki murid-murid-Nya, merupakan suatu bagian dari proses inkarnasi, yakni bahwa Allah “menjadi daging” atau menjadi manusia. Adakah kasih lebih  besar dan lebih nyata daripada ketulusan dan kerendahan hati Allah yang sudi menjadi manusia? Allah karena kasih-Nya kepada umat manusia yang berdosa mau menjadi manusia dalam diri Putera-Nya Yesus Kristus. Dan karena Allah mengetahui bagaimana keadaan dan sikap kita sebagai manusia yang lemah ini, Ia tidak ragu-ragu memilih jalan atau cara yang paling rendah untuk membuktikan kasih-Nya yang nyata untuk menyelamatkan manusia ciptaan-Nya.

      Kasih sejati ternyata merupakan pelayanan. Dari sikap dan cara kita melayani orang lain, terungkaplah kesungguhan dan nilai kasih kita sejati kepada sesama. Bukan sedikit maupun banyak, sederhana ataupun sangat indah, bukan ukuran kuantitas pelayanan kita, melainkan kualitas hati pribadi kita yang mau melayani, - itulah yang menentukan kesungguhan kasih kita.

     Yohanes memang tidak berbicara tentang perjamuan malam terakhir Yesus dan murid-murid-Nya. Namun dalam Gereja Katolik kita hari ini juga merayakan pengadaan ekaristi dan imamat. Intisari keyakinan iman Gereja hari ini adalah ikatan atau hubungan tak-terpisahkan antara tiga ungkapan kasih Yesus ini: Ia melayani kasih dengan membasuh kaki, dengan mengadakan ekaristi dan dengan mengadakan imamat. Ketiga-tiganya yang dilakukan Yesus itu, yang nanti  akan  berpuncak dalam kematian-Nya di salib, yang akan kita rayakan besok siang/sore, merupakan bukti kasih Allah dalam diri Yesus yang tak terbatas kepada kita.     

     Namun,Yesus bukan hanya mau menyelamatkan kita saja, tetapi semua orang. Kita harus ikut meneruskan kasih Yesus itu kepada sesama kita. Yesus datang justru untuk menyelamatkan orang berdosa, yang hidup dan berbuat bertentangan dengan kehendak-Nya. Maka kita pun harus rela untuk bukan hanya mengasihi orang-orang yang baik terhadap kita, tetapi juga kepada orang-orang yang kita anggap tidak baik bahkan bertentangan dengan kita. Bila kita hanya berbuat baik kepada orang yang kita sukai, maka kasih kita bukanlah kasih yang  kita terima dari Kristus, tetapi kasih egoistis, bukan kasih kristiani.

     Hari ini kita juga merayakan Yesus mengadakan Ekaristi. Ia memberikan diri-Nya sendiri sebagai ungkapan kasih-Nya. Marilah kita hari ini bukan hanya belajar kerendahan hati dengan kerelaan membasuh kaki sesama kita, tetapi juga bersedia menjadi ekarisi bagi sesama kita, yaitu memberikan diri sebagai tanda kasih untuk menolong sesama kita, khususnya yang membutuhkan kebutuhan rohani maupun jasmani. Dan marilah kita juga mendoakan para imam, agar mereka sebagai imam sungguh menjadi “Alter Christus”, wakil-wakil Kristus yang mengasihi semua orang, khususnya umat Allah yang diserahkan kepada mereka.   

 

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/