Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

JUMAT AGUNG A/2014

Yes 52:13-53-12  Ibr 4:14-16  Yoh 18:1-19:42

PENGANTAR
     Setiap tahun pada Hari Jumat Agung kita mendengarkan kisah kesengsaraan Yesus menurut Injil Yohanes, khususnya tentang penyaliban-Nya di Golgota. Inti pertanyaan Yesus, yang juga merupakan pertanyaan kita ialah: Di tengah peristiwa dahsyat di Kalvari itu, di manakah Allah itu sebenarnya? Di dalam Bacaan II (Ibr 5:7-9) tertulis: “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia (Kristus) telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok kselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya”

     Dari Kitab Suci ini kita dapat belajar dan memahami siapakah Allah itu sebenarnya. Dan kita dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam Jumat Agung ini. Yakni bahwa Yesus sebagai Putera Allah adalah sungguh Allah, tetapi sekaligus Ia adalah manusia seperti kita, namun tidak berdosa. Dengan demikian ternyata tidak ada jurang yang dalam atau jarak yang sangat jauh di antara Kristus dan kita manusia. Ternyata aneka pencobaan, masalah dan kelemahan kita dialami juga oleh Yesus, ternyata kita ini sungguh bersatu dengan Yesus. Tetapi bukan hanya dengan Yesus sebagai manusia, melainkan juga dengan Allah sendiri. Hal itu ternyata mungkin dan sungguh terjadi dalam diri Yesus sebagai manusia yang tergantung di kayu salib! Apakah akibatnya?

     Sejak Yesus disalib tiada seorang pun yang berada dalam situasi yang sangat menyedihkan, seolah-olah kita ini terbuang, padahal justru dalam penderitaan kita dapat bertemu dengan Kristus. Ternyata dalam kesulitan atau penderitaan kita, Dia berada di samping kita!  Karena dalam mengalami tantangan dan penderitaan-Nya Yesus tetap bersatu dengan Allah, karena itu sesudah penderitaan dan kematian-Nya Ia justru dianugerahi Allah dengan kemuliaan dan keagungan-Nya.

     Dalam hidup-Nya di dunia ini Yesus sebagai manusia seperti kita hidup dengan daging dan darah. Ia tidak menjauhkan diri dari kita manusia, Ia bergembira, berdoa, sedih dan juga menangis. Tetapi Ia memperhatikan orang lain, Ia ikut merasakan keadaan orang lain, Ia memiliki “compassio”, rasa kasihan terhadap penderitaan orang lain. Ia telah mengalami segala kesulitan hidup, karena itu Ia mengetahui segala kesukaran kita. Ia mengenal situasi dan kondisi kita baik lahir maupun batin. Karena itulah Ia memiliki “compassio”, tahu berbelarasa.

     Bila dalam Minggu Palma umat menyambut Yesus sebagai raja dan berseru “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan! Hosanna di tempat yang mahatinggi!”, kini sebaliknya pada hari Jumat Agung orang-orang berteriak: “Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia”. Orang banyak yang berteriak-teriak itu terdiri dari orang-orang yang beragama fanatik, atau kaum Farisi, atau serdadu Romawi, atau anggota Sanhedrin, atau Raja Herodes, atau Ponsius Pilatus, pendek kata mereka itu adalah orang-orang, yang tanpa berpikir secara benar dan jujur, ingin menghentikan masalah masing-masing yang mereka hadapi, dan supaya bagi mereka dapat hidup dalam masyarakat menurut keinginan mereka sendiri.

     Apa arti penyaliban Yesus itu bagi kita? Kita harus tahu dan menyadari, bahwa Yesus menderita dan disalib bukan hanya karena kesalahan orang ini atau itu. Janganlah kita ini ingin tahu dengan tepat siapa yang membunuh Yesus, Mahkamah Keagamaan Yahudi, Raja Herodes atau Ponsius Pilatus? Kematian Yesus di kayu salib mempunyai arti universal. Yesus bukan disalib dahulu saja. Sekarang pun Yesus disalib lagi dalam diri setiap orang yang memang tidak mau mengenal dan bersatu dengan Dia! Orang yang sombong, yang tidak adil,  orang penipu, orang yang hanya mencari kepentingannya sendiri, yang kikir dan tidak mau menolong, benci dan tidak mau memaafkan orang lain, orang yang selalu merasa benar dan masih banyak kejahatan lainnya, - orang-orang inilah yang sekarang pun meneruskan penyaliban Yesus di tengah masyarakat kita.

     Pertanyaan kita ialah: di manakah Allah sebenarnya?
     Allah berada di salib! Ia tergantung di salib diYerusalem. Tetapi Ia juga tergantung di salib-salib di seluruh dunia, di mana ada orang-orang yang dikhianati, ditipu, diperlakukan tidak adil, dibenci, dibiarkan hidup miskin dan sengsara, dihina, tidak dihormati. Yesus disalib di mana ada kekerasan, ada rasa dendam. Jalan salib bukan hanya dahulu, sekarang pun tetap harus ditempuh oleh Yesus bersama kita!

     Tetapi bila kita sadar akan makna salib yang sebenarnya bagi kita, maka “Via dolorosa”, Jalan duka, bisa berubah menjadi “Via gloriosa”, Jalan kegembiraan, Jalan mulia. Dengan demikian di tengah penderitaan yang kita alami, Yesus yang disalib menjadi  sumber kehidupan bagaikan cahaya di tengah kegelapan hidup. Salib yang tergantung di rumah kita atau di gereja atau di mana pun bukanlah tanda atau lambang kesedihan, tetapi sebaliknya bagaikan sumber cahaya di tengah kegelapan hidup, atau sebagai tanda kasih Allah yang memberikan kekuatan hidup. Apabila kita membuat tanda salib, bukan karena kita sedih, kecewa atau putus asa, melainkan justru karena kita yakin Kristus ada di samping kita dan selalu menyertai hidup dan perbuatan kita.

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/