Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA NATAL/CII/2015

  Yes 62:11-12  Tit 3:4-7  Luk 2:15-20


PENGANTAR

       Hari ini kita merayakan Hari Raya Natal Yesus Penebus umat manusia. Sangat menarik bahwa Kabar Gembira tentang kelahiran Penyelamat kita itu pertama-tama ditujukan kepada gembala-gembala, bukan kepada “orang-orang besar”. Agar Natal ini kita rayakan dengan kegembiraan sejati, marilah kita dalam perayaan Ekaristi ini merenungkan Injil Lukas yang akan kita dengarkan bersama.

HOMILI
       Kabar gembira singkat yang disampaikan Lukas dalam Injilnya kepada kita memuat tiga hal ini: kelahiran Yesus sebagai Penyelamat, sebagai “Ia Yang Diurapi”, dan sebagai Tuhan. 1.Yesus adalah Penyelamat, karena Ia menebus umat manusia, yang tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. 2. Ia dalam Kitab Suci disebut “Ia Yang Diurapi”, artinya kodratnya sebagai manusia diurapi dengan minyak ilahi menjadi imam, nabi dan raja. 3. Ia adalah raja, sebab segenap kuasa di surga dan di dunia diserahkan kepada-Nya.

       Dalam misa Malam Natal, Lukas dalam Injilnya berceritera tentang tanda kelahiran Yesus  kepada gembala-gembala: “Inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Luk 2:12). Ternyata tanda yang begitu sederhana dan rendah nilainya merupakan suatu tanda kebesaran dan keagungan. Yang lemah menjadi tanda kekuatan/kuasa. Yang rendah dan miskin merupana tanda kekayaan luar biasa. Kelahiran Yesus di Betlehem mengajak kita untuk berpikir secara lain! Kalau kita mau berpikir sebagai orang yang sungguh percaya kepada Allah, kita harus bersedia menggunakan ukuran lain, yang tidak hanya berpikir menurut perhitungan kepentingan manusiawi kita sendiri.

       Dalam peristiwa kelahiran Yesus justru tampaklah kebesaran, keagungan dan kemuliaan Allah. Sebab apa yang bagi manusia tidak mungkin, yaitu untuk menyelamatkan dirinya sendiri, ternyata dapat dilaksanakan oleh Allah yang tidak terbatas kasih-Nya. Dalam penjelmaan Allah menjadi manusia, perpisahan hubungan antara surga dan dunia dipulihkan kembali. Hilangnya damai dan kebahagiaan yang disebabkan oleh dosa, diganti dengan anugerah rahmat kasih Allah. Damai dan kegembiraan itu dinyanyikan oleh para malaikat: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:14).

       Dengan kedatangan Yesus mulailah karya penyelamatan umat manusia. Kedatangan Penyelamat diberitahukan kepada gembala-gembala. Mereka ini penuh kepercayaan pergi mencari apa yang diberitakan kepada mereka. Mereka menemukan Maria, Yusuf dan si Bayi di dalam palungan. Mereka terkejut dan kagum dan penuh rasa syukur menemukan Penyelamat yang lahir dalam kesederhanan. Mereka ceriterakan kepada Maria dan Yusuf “apa yang dikatakan kepada mereka tentang Anak itu” (Luk 2:17). Maria hanya diam dan “menyimpan segala perkara di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19).

       Kemudian gembala-gembala pulang ke rumah masing-masing untuk menghayati hidup mereka sehari-hari. Kesimpulan kita ialah bahwa di dunia ini menemukan Tuhan bukanlah berarti menemukan perubahan keadaan hidup sehari-hari yang serba tampak, melainkan merupakan suatu perubahan batin atau hati kita dari dalam. Kelahiran Yesus di Betlehem menunjukkan kepada kita suatu perbedaan fundamental sikap dan penghayatan hidup kita. Yesus lahir secara tersembunyi, namun akhirnya dikenal orang. Yesus datang sebagai orang kecil dan sederhana, namun menjadi terkenal dan dihormati orang. Ia lahir dari dua orang sangat biasa dan sederhana, yaitu Maria dan Yusuf, namun Ia dikelilingi malaikat-malaikat. Ia sungguh manusia, namun menjadi Penyelamat manusia.

       Dalam merayakan Hari Raya Natal, kita menurut ceritera Lukas dalam Injilnya diajak makin menyadari, bahwa Allah sungguh mengasihi kita manusia, sehingga Putera-Nya Yesus Kristus rela meninggalkan keluhuran dan keagungan ilahi-Nya menjadi manusia yang lemah dan berkekurangan, untuk membebaskan manusia dan dosanya. Peristiwa Natal merupakan suatu undangan, agar kita rela meninggalkan rasa diri kita  yang merasa agung, kuasa, bangga akan kemampuan kita, agar kita seperti Yesus sungguh mengasihi sesama kita yang sulit hidupnya dan tanpa harapan. Natal mengajak kita untuk bergembira bukan hanya bagi diri kita sendiri, tetapi dan terutama untuk menggembirakan sesama kita. Marilah kita merayakan Natal sesuai dengan ajaran Paus Fransiskus, yaitu supaya kita hidup, bersikap dan berbuat terhadap sesama dengan kerahiman ilahi, seperti telah ajarkan dan dilaksanakan oleh Yesus.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/