Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA NATAL B/2014

Misa Siang

Yes. 52:7-10; Ibr. 1:1-16; Yoh. 1:1-18


PENGANTAR
     Hari Raya Natal di selenggarakan oleh Gereja dengan perayaan Ekaristi tiga kali: 1. Vigili Natal dengan Misa Malam Natal. 2. Misa Natal Fajar. 3.Misa Natal Siang/Sore/Petang. Untuk Misa Malam Natal kita mendengarkan Injil Lukas 2:1-14; untuk Misa Fajar Injil Lukas 2:15-20; dan untuk Misa Natal petang hari ini kita mendengarkan Injil Yohanes 1:1-18. Dalam Injil yang ditulusnya itu Yohanes memberi jawaban akan pertanyaan kita yang sangat mendalam sebagai orang beriman ini: “Mengapa Allah menjadi manusia?”

HOMILI
     Dalam Credo atau Syahadat (Nikea-Konstantinopel) kita dengan tulus dan rendah hati mengakui bahwa “Ia turun dari surga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita”. Kata-kata Syahadat ini merupakan jawaban yang mendasar atau fundamental dan selalu berlaku untuk pertanyaan umat manusia: Mengapa Allah menjadi manusia? Tetapi jawaban fundamental itu masih memerlukan keterangan lebih lanjut.

     Untuk memahami jawaban yang berbunyi : “Ia turun dari Allah  untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita”, kita selanjutnya akan bertanya: Mengapa “untuk keselamatan kita”?Jawabannya cukup jelas: “Karena kita telah berdosa, maka kita harus diselamatkan”. Tetapi jawaban yang benar tidak berdasarkan pemikiran otak saja atau melulu secara rasional. Misalnya, Allah menghendaki Putera-Nya menjadi manusia, agar di luar Diri-Nya sebagai Allah Trinitas masih ada seseorang yang menghormati dan mengasihi-Nya sebagai Allah secara pantas. Jawaban rasional ini ada benarnya, namun tingkap lengkap. Secara rasional dikatakan, bahwa pertama-tama Allah menghendaki agar diri-Nya harus dikasihi. Jawaban rasional ini ada benarnya, namun tidak utuh. Jawaban yang utuh untuk pertanyaan mengapa Allah menjadi manusia kita peroleh dalam Kitab Suci.

     Kitab Suci bukan pertama-tama memberitahukan kepada kita, bahwa kita harus mengasihi Allah, melainkan malahan sebaliknya menekankan bahwa Allahlah yang mengasihi kita, ya bahkan mendahului mengasihi kita. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa. Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita(1 Yoh 4:10.19).

     Demikianlah Allah menghendaki agar Putera-Nya menjadi manusia, bukan supaya di luar Allah ada orang yang mengasihi Diri-Nya secara pantas, melainkan supaya ada orang di antara umat manusia, yang melakukan kasih Allah kepada sesama manusia tanpa batas!
     Dengan demikian dalam peristiwa Natal, yakni kelahiran Yesus sebagai Penyelamat, Allah Bapa mengutus seseorang yang mengasihi setiap orang dengan kasih tak terbatas, yaitu Yesus. Bagaimana itu mungkin? Karena Yesus adalah manusia namun juga Allah sekaligus!

     Tetapi itu bukan hanya berlaku  bagi Yesus, melainkan juga bagi kita semua sebagai umat kristiani. Kita mengambil bagian dalam kasih-Nya itu, sebab kita adalah anggota-anggota Tubuh Kristus. Dan berkat baptis kita menjadi anak-anak Allah, menjadi putera-puteri Allah. Johannes menegaskan kenyataan ini:Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya(Yoh 1:12).

     Demikianlah Kristus mau datang turun dari surga untuk keselamatan kita. Tetapi apa yang mendorong Diri-Nya untuk datang guna menyelamatkan kita ialah kasih-Nya.  Yohanes dalam Injilnya menegaskan: Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yanhg kekal(Yoh 3:16).

     Apakah pesan Natal yang disampaikan Injil Johannes kepada kita?

     Begitu banyak dan aneka ragam cara yang dapat kita lakukan untuk merayakan Natal? Kita dapat pergi ke “mal-mal” atau toko-toko membeli aneka barang yang bagis. Kita dapat menyanyikan ‘Christmas Carol” yang indah, dan sebagainya. Tetapi kiranya secara simbolis kita dapat pergi ke gua mengunjungi Yesus Si Bayi, untuk menunjukkan kasih kita yang murni kepada-Nya dengan mencium Dia! Kita ingin mencium seorang anak yang justru baru lahir. Bila kita mencium Yesus yang baru lahir di Betlehem, kita mengungapkan kasih kita kepada-Nya, tetapi juga sebagai lambang, bahwa kita ingin mencium orang-orang yang miskin, orang berkekurangan, orang menderita, orang yang dalam kesulitan!

     Mencium anak-anak Yesus dalam arti simbolis ini, kita mengucapkan kehendak dan keinginan kita untuk mengasihi dan menolong orang lain. Sebab kita semua bersukaria merayakan Pesta Natal dengan mengunjungi Yesus, yang lahir di Betlehem, tetapi juga dalam diri sesama kita, khususnya yang berada dalam situasi hidup seperti dialami Yesus di Betlehem. Betlehem adalah dan harus merupakan merupakan pusat dan sumber solidaritas hidup antar sesama yang otentik. Selamat Hari Raya Kelahiran Yesus Penyelamat kita!

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/