Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MISA SIANG NATAL A-B-C

Yes 52:7-10  Ibr 1:1-6  Yoh 1:1-5.9-14


PENGANTAR
          Dalam bacaan-bacaan Injil Misa-Misa Natal ini hati kita yang percaya sungguh tercengang, apabila memikirkan adanya Pribadi Kedua dari Tritunggal Kudus, sebagai satu-satunya Putera Allah, Sabda Abadi, Pencipta, yang bersedia mengambil kodrat kita atau menjadi manusia seperti kita, menjadi sudara kita dan tinggal bersama kita! Allah tinggal di palungan, utuh sebagai manusia, sekaligus uutuh sebagai Allah. Suatu kenyataan yang tak terpikirkan! Yaitu komunikasi diri Allah kepada kita manusia. Siapakah Allah dan siapakah kita manusia ini?

HOMILI
          Dalam Bacaan II (Ibr 1:1-6) kita dapat mendengarkan puncak wahyu Allah kepada kita manusia dalam diri Yesus Kristus Putera-Nya. Putera tunggal Allah itu sudah ada sebelum dunia kita ada. Melalui Putera-Nya itulah Allah menciptakan dunia. Dan sesudah menebus  umat manusia  dengan penderitaan dan kematian, Ia diangkat  kembali ke surga, di samping Allah Bapa  bersama  umat manusia sebagai saudara-saudara-Nya.
          Selanjutnya dalam Injil Yohanes (Yoh 1:1-18) ditegaskan: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (ay.14). Di samping dalam Injil karangannya itu, Yohanes dalam suratnya yang pertama juga menandaskan: “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya” (1 Yoh 4:9). Nah, Firman atau Sang Sabda ini bukanlah sekadar pesan atau kata-kata. Dalam diri YESUS, PEWARTA SABDA dan SABDA adalah satu! Alat atau sarana pewartaan yang digunakan adalah wartanya atau pesannya itu sendiri. Dengan  bahasa kini  dapat dikatakan, bahwa  alat komunikasi ilahi adalah apa yang komunikasikan!
          Kalau bahasa  sezaman kita  itu dikenakan  pada komunikasi atau pewah-yuan ilahi kepada kita manusia, maka dapat dikatakan bahwa iman kepercayaan kita memberi kesaksian bahwa Sang Sabda, Putera Allah Tunggal, telah menjadi salah seorang sebagai manusia seperti kita.

          Natal menegaskan kepada kita, bahwa Allah bukan mengasihi kita dari jauh! Natal mengingatkan kita, bahwa bukan hanya 20 abad lalu, melainkan sekaranag pun Allah hadir di tengah kita. Kita lazimnya mencari kehadiran orang yang merupakan sasaran perhatian dan kasih kita. Memang sukar memiliki perhatan, hubungan/relasi apalagi kasih kepada orang yang jauh dan tak hadir! Foto, alat komunikasi modern apapun, surat atuu telpon tidak mampu memuaskan keinginan berhubungan dengan orang lain. Kita menginginkan, merindukan kehadirannya bersama dengan dia. Bukankah keinginan kita itu juga kita tujukan kepada Allah? Allah sudah menjawab kebutuhan kita itu. Secara tampak dan nyata Allah Bapa telah menghadirkan diri-Nya dalam diri Yesus, yang lahir di Betlehem!
Allah mahapengasih tidak mau hidup dengan mengasihi kita dari jauh!

          Nah, Ekaristi adalah itulah jalan yang dapat kita tempuh untuk bertemu dengan Allah. Untuk tahun liturgis yang kita mulai ini di Keuskupan Agung Jakarta, kita diajak untuk merayakan Perayaan Natal ini dengan menyatukannya dengan ibadat, hormat dan penghayatan Ekaristi. Sebab terutama Ekaristi adalah sumber rahmat keluarga-keluarga kita.  Bukankah Yesus telah menegaskan: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengurniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).
          Tetapi bila begitulah kehendak Allah, yaitu bahwa hidup Kristus ditujukan dan diarahkan kepada orang-orang lain, maka Gereja-Nya yang didirikan-Nya, yaitu kita semua, harus juga mengambil bagian sepenuhnya dalam kepentingan kesejahteraan utuh hidup dunia, yakni sesama kita. Hidup Kristus yang dilahirkan di Betlehem adalah anugerah Allah Bapa kepada Gereja, tetapi juga dimaksudkan untuk diteruskan sebagai anugerah kepada dunia, segenap umat manusia. Khususnya, bagaikan kabar gembira kepada para gembala di padang rumput, di pinggiran masyarakat orang-olrang yang bercukupan, kepada orang-orang yang berkekurangan untuk dapat hidup cukup dan wajar sesuai dengan martabat kemanusiaanya seperti Yesus dari Betlehem.

          Dengan menerima Ekaristi kita ini bukan hanya menerima hidup Kristus. Sebab dengan memandang dan menerima anugerah Ekaristi yang begitu berharga, kita sebenanya juga menghormati dan meluhurkan Allah Tritunggal Mahakudus.
Amin.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/