Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA VI/A/2017

Sir 15:15-20 1 Kor 2:6-10 Mat 5:17-37

PENGANTAR
    Injil Matius hari ini memuat sebagian dari ajaran Yesus yang terdapat dalam Khotbah di Bukit (Mat 5-7), sebagai pegangan hidup kita sebagai murid-Nya. Sebagai murid-Nya kita diajak mengikut Yesus, mengambil teladan sikap, kata dan perbuatan-Nya terhadap Tuhan dan sesama kita.

HOMILI
    Menghadapi Yesus, banyak orang dalam masyarakat Yahudi di zaman-Nya, menganggap ajaran Yesus bertentangan dengan Taurat (kelima Kitab Musa atau Pentateukh, yang tidak sama dengan ajaran Nabi-Nabi!). Yesus dengan tegas berkata: "Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya (Mat 5:17)". Menurut prinsip penafsiran yang benar, makna hukum harus dilihat dan dipahami menurut tujuannya, bukan hanya secara harfiah. Dengan demikian, Yesus membenarkan adanya hukum dan adanya kewajiban untuk melaksanakannya, tetapi sekaligus ada pula kewajiban untuk menjauhkan diri dari sifat kemunafikan, sifat harfiah berlebih-lebihan, seperti dimiliki ahli Taurat dan kaum Farisi. Sebaliknya hukum/perintah Allah harus selalu dipahami dengan semangat dan sikap injili (evangelis), artinya dengan kasih dan ketulusan hati seperti diajarkan dan diberi teladan oleh Yesus seperti terdapat dalam Injil.

    Dalam menghadapi Taurat, Yesus menentukan dua sikap dasar ini: ada yang diterima, diperluas dan diperdalam-Nya (misalnya ay.21-22; 27-28; 43-44). Dan ada yang ditolak Nya, sebab hukum itu tidak berpegang sikap dasar hidup Yesus sendiri dan ajaran-Nya (misalnya ay. 31-32; 33-37; 38-39).

    Sebagai contoh perluasan dan pendalaman hukum Musa ialah, bahwa kitya harus menghilangkan rasa dendam, pembalasan atau memiliki niat jahat. Menurut Musa orang yang membunuh harus dihukum. Yesus menambahkan lagi: "Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum (ay. 22)". Apa latar belakang tambahan Yesus itu? Demi kasih! Diterjemahkan dengan bahasa kita sekarang ini Yesus ibaratnya berkata: "Apabila kamu mau ke gereja untuk beribadat dan memberi derma (kolekte), tetapi ingat dan sadar akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, jangan pergi dulu, pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu itu. Lalu baru pergilah beribadat! (lih. ay.23-24)". Itulah kasih kristiani sejati. Hanya orang yang memiliki kasih sejati akan mampu menganggap sesamanya sebagai pemilik martabat yang sama di hadapan Tuhan! Doa, korban maupun derma betapapun besarnya kepada Tuhan adalah palsu, sebab disertai rasa benci ataupun dendam.

    Contoh perintah Taurat yang ditolak Yesus ialah hukum keenam dari Perintah Dekalog sebagai Perintah Allah lewat Musa. Musa hanya melarang: "Jangan berzinah". Tetapi Yesus menuntut lebih dari itu: "Barangsiapa memandang perempuan dengan mengingingkannya, ia sudah berbuat zinah dalam hatinya". Jadi bukan hanya berbuat zinah, tetapi ingin berbuat zinah saja sudah tidak dibenarkan oleh Yesus. Maka Yesus mengingatkan kita untuk menjauhkan diri dari kesempatan untuk berdosa, yaitu demi penjagaan keselamatan jiwa dan raga kita (lih. ay.29-30). Dan selanjutnya Yesus melarang apa yang diizinkan oleh Musa, yaitu bahwa serorang suami boleh menceraikan isterinya karena zinah dengan memberi surat cerai kepadanya (ay.31). Mengapa? Karena hal itu bertentangan dengan hukum kasih. Yesus ingin menegaskan bahwa perkawinan hanya dapat dipelihara atau dipulihkan kembali dengan kesatuan kasih (lih. Mat 19:1-12).

    Akhirnya Yesus mengajarkan, agar kita sebagai murid-murid-Nya jangan saling curiga dan saling tidak percaya, yaitu dengan berpegang teguh pada kesatuan dan kesamaan fundamental kata dan perbuatan antar kita satu sama lain. "Ya" kita sungguh "Ya" dan "Tidak" kita harus sungguh "Tidak".

    Kesimpulan pesan Injil Matius hari ini ialah, bahwa sikap dasar Yesus terhadap Taurat bukanlah untuk menghilangkannya, melainkan untuk memenuhi dengan menyempurnakannya. Hukum yang lama diberikan oleh Allah sesuai dengan kehendak dan janji-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya. Yesus, yang diutus Bapa-Nya untuk melaksanakan tugas panggilan menyelamatkan umat manusia, menyempurnakan hukum yang lama. Allah dalam Perjanjian Lama adalah sama dengan Allah dalam Perjanjian Baru. Tetapi Allah yang satu dan sama itu dalam Perjanjian Baru telah menampakkan diri-Nya sebagai Bapa, Putera dan Roh Kudus. Yesus Kristus tampil sebagai Putera Allah, dan bersama dengan Roh Kudus inilah Ia memberikan makna atau arti hukum Allah yang sebenarnya atau otentik. Bahkan dalam sikap, kata dan perbuatan dalam hidup-Nya di dunia di tengah umat manusia kita ini, Kristus memberikan ajaran dan teladan dalam menghayatinya. Taat akan hukum dan hidup secara kristiani sejati berarti: mengikuti Yesus sambil memandang Yesus sebagai teladan untuk menempuh jalan hidup kita, yang harus selalu disinari dengan cahaya-Nya.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/