Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU PRAPASKAH III/C/2019

Kel 3:1-8a, 13-15; 1Kor 10:1-6, 10-12; Luk 13:1-9;

PENGANTAR
    Apapun yang kita kehendaki, atau segala sesuatu yang ingin kita lakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan baik, harus selalu kita pertimbangkan lebih dahulu secara matang. Menjelang perayaan kebangkitan Yesus yaitu Paskah, hidup kita sebagai orang kristiani diarahkan kepada pertobatan sejati. Untuk itu kita diajak mengadakan masa puasa dan pantang. Dalam Injil hari ini Yesus berkata : "Jikalau kamu semua tidak bertobat, kamu pun akan binasa".

HOMILI
    Pada suatu hari Yesus mendengar berita, bahwa di Galilea sejumlah orang beribadat dengan mengadakan korban. Rupanya terjadilah kekacauan, sehingga otoritas Romawi mengadakan tindakan keras dan membunuh sejumlah orang. Darah mereka (darah manusia) dicampurkan dengan darah binatang-binatang korban. Orang bependapat, bahwa orang-orang itu dibunuh, karena dosa-dosa mereka lebih besar dari pada orang-orang Galilea lainnya. Tetapi dengan tegas Yesus menegaskan: Tidak! Bukan demikian!

    Banyak orang berpendirian, bahwa keadaan hidup yang buruk, termasuk bencana alamiah, disebabkan oleh dosa-dosa manusia (buku Ayub). Tetapi Yesus menegaskan bahwa semua orang adalah pendosa. Karena itu dibutuhkan pertobatan! Demikian pula isi berita tentang bencana lain di Yerusalem, di mana 18 orang mati karena ditimpa menara dekat Siloam yang jatuh roboh. Tidak ada hubungan langsung di antara peristiwa di Galilea dan di Yerusalem tersebut. Namun ada kesamaan ajaran dan pesan yang ingin disampaikan oleh Yesus, yakni tentang pertobatan. Penderitaan dan bencana, bahkan kematian yang dialami orang, bukanlah bukti bahwa mereka itu pendosa dan dosanya lebih besar dari lainnya!

    Memang ada pendosa-pendosa yang dihukum Tuhan di dunia ini. Tetapi adanya hukuman itu bukanlah bukti, bahwa dosa orang yang dihukum di dunia itu lebih besar atau berat dosanya! Yesus mau mengingatkan kita, bahwa hukuman berat yang sebenarnya adalah hukuman kekal sesudah kematian! Ukuran yang dipakai ialah sejauh mana setiap orang dalam hidupnya sunguh hidup dengan semangat bertobat.

    Yesus menggunakan perumpamaan tentang pohon ara. Setiap orang di seluruh dunia inilah yang dimaksudkan-Nya sebagai pohon ara. Semua orang memang adalah pendosa. Tetapi sekaligus secara tegas Yesus juga menekankan, bahwa kerahiman atau belaskasihan Allah untuk mengampuni adalah tak terbatas!

    Tuhan tidak akan mengampuni dosa apapun, betapapun besar atau kecilnya, apabila tidak ada pertobatan. Yesus Kristus adalah pengantara Allah dan manusia. Tetapi Ia tidak akan menolong siapapun, apabila tidak ada pertobatan. Dengan kata lain, orang tidak akan diselamatkan, apabila ia tidak mau diselamatkan! Kesombongan, dendam, tidak adil, tak mau mengampuni dan mengasihi, itulah jenis-jenis orang yang tidak sanggup untuk bertobat, karena itu tak mungkin mohon permohonan kasih Allah.

    Dalam perumpamaan tentang pohon ara dalam Injil hari ini, pohon-pohon ara itu bukanlah orang-orang Yahudi yang dihadapi Yesus, akan tetapi juga kita semua sekarang ini juga! Yang menanam kita semua ini adalah Tuhan Allah. Dan dimaksudkan dan diharapkan agar pohon-pohon itu tumbuh, berkembang dan berbuah. Bila tidak berbuah, akan ditebang. Si pengurus kebun dalam perumpaan itu adalah Yesus.

    Yesus yang mau menyelamatkan pohon-pohon ara itu, yakni diri kita sekalian. Ia minta kepada Tuhan, agar diberi waktu secukupnya kepada kita untuk bertumbuh dan berkembang dengan baik. Kita diberi kesempatan secukupnya dalam hidup kita, untuk mengganti sikap dasar pribadi kita, untuk sungguh serius terhadap nasib kekal kita kelak di kemudian hari. Apabila tidak berhasil, hal itu bukan disebabkan oleh ketidakadilan Allah, melainkan karena kesalahan kita sendiri. Maka pohon-pohon yang tak berbuah itu akan ditebang.

    Tuhan memberi waktu dan kesempatan kepada kita untuk berganti secara mendasar untuk sungguh mau hidup sebagai orang kristiani sejati. Kita diundang untuk sungguh-sungguh menyadari makna hidup kita sebagai orang kristiani yang sudah dibaptis. Dan dalam segala kelemahan kita, kita selalu diingatkan akan belaskasihan Allah yang tiada batasnya.

    Hidup beragama sejati, atau hidup rohani yang otentik, bukanlah suatu hidup semu atau hidup palsu. Hidup rohani kristiani sejati bukan sekadar melakukan ibadat atau mengikuti ritualisme lahirah, betapa kerap dan banyaknya pun! Ungkapan penghormatan dan kasih kita kepada Allah sebagai orang kristiani adalah palsu dan tidak murni, apabila sekaligus tidak kita laksanakan dalam pergaulan dan hidup bersama dengan sesama. Tidak ada kasih tanpa pertobatan, tiada pertobatan tanpa kasih.

    

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/