Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU PRAPASKAH III/B/2018

Kel 20:1-17; 1 Kor 1:22-25; Yoh 2:13-25;

PENGANTAR
    Pada Hari Minggu Prapaskah III ini Injil Yohanes menyucikan Bait Allah dengan mengusir semua orang yang berjulanan di rumah ibadat itu. Kecuali Yoahnes ketiga penulis Injil, yaitu Matius, Markus dan Lukas menceriterakan juga hal yang sama. Tetapi Yoh menempatkan ceritera itu pada awal Injilnya, sedangkan Mat Mrk Luk pada bagian akhir Injil mereka. Tetapi masing-masing keempat penginjil itu mau mengajak kita mengubah dan memperdalam hidup rohani kita sebagai seorang pribadi kristiani sejati.

HOMILI
    Dalam pewartaan Injil hari ini tidak begitu penting, apakah Yesus begitu marah, sampai Ia bertindak dengan kekerasan terhadap penukar uang dan penjual merpati di Bait Allah itu. Tetapi Yesus memang marah, sejauh adanya penjungkirbalikan nilai dasar hubungan antara manusia dengan Allah, hubungan antar sesama manusia, dan di antara barang-barang duniawi. Pada waktu Yesus datang, bait Allah itu hanya dipakai untuk pelaksanaan ibadat lahiriah saja, ibaratnya sebagai sambilan belaka, sedangkan perhatian mereka lebih sibuk dengan uang dan binatang jualan (merpati), yang justru lebih mereka pentingkan. Bait Allah yang dimak-sudkan sebagai sarana atau tempat untuk berhubungan dengan Allah, justru sebaliknya dimanfaatkan oleh orang-orang yang beragama resmi Yahudi itu untuk kepentingannya sendiri dan dengan kedok keagamaan!

    Bagi orang yang sungguh beragama, bukan rumah ibadat atau bait Allah itu sendiri yang menentukan kesungguhan hidup keagamaannya, melainkan kejujuran hati orang-orang yang menggunakan-nya. Penukaran uang dan penjualan merpati di dalam Bait Allah itu dilakukan dengan dalih (motivasi) keagamaan, ibadat, tetapi sebenarnya demi kepentingannya sendiri. Ini berarti menjungkirbalikkan nilai, atau suatu penipuan rohani, yang mengubah hormat kepada Allah menjadi hormat kepada diri sendiri. Bait Allah yang dibangun dengan iktikad baik dan luhur, justru digunakan sebagai tempat untuk membesarkan dan meluhurkan kepentingan dirinya sendiri!

    Menghadapi kenyataan itu Yesus bertindak tegas, bahkan berkata : "Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali". Bait Allah baru yang sesungguhnya adalah Diri Yesus sendiri! Bangunan bait Allah yang materiil toh hanya sarana, dan akan roboh atau runtuh. Dalam kenyataannya Bait Allah besar yang dibangun oleh Herodes Agung tahun 70 telah dihancurkan oleh orang-orang Romawi. Tetapi bait Allah yang sesungguhnya ialah diri Yesus Kristus. Tubuh Yesus adalah Bait Suci sejati, yang dibangun kembali pada saat kebangkitan-Nya.

    Apa pesan Injil hari ini kepada kita? Yesus sendiri menghargai dan menghormati Bait Allah, dan seperti umat lainnya Ia juga beribadat di sana. Tetapi Bait Allah yang sesungguhnya ialah Yesus sendiri. Dalam diri Yesus Kristuslah kita dapat sungguh beribadat, menghormati, berhubungan dengan Allah. Adanya rumah ibadat (gereja), betapapun indah dan agungnya, bukanlah tujuan terakhir ibadat, hidup keagamaan, hidup batin / rohani yang sebenarnya. Bait Allah adalah sarana, dan memang perlu. Hidup keagamaan, ibadat dan hidup rohani bukanlah sekadar formalisme, melainkan hubungan batin manusia yang erat dengan Allah. Dan itu, bagi kita umat kristiani, hanya mungkin apabila kita berhubungan dengan Allah melalui dan dalam diri Yesus Kristus, Bait Allah yang sebenarnya.

    Hubungan dengan Yesus Kristus harus sungguh murni, tanpa disertai perhitungan, pertimbangan, keinginan akan kepentingan diri sendiri. Hanya dengan demikian ibadat kita adalah benar, sejati, otentik, dan dengan demikian Yesus Kristus menjadi Bait Allah kita yang benar. Paulus menegaskan umat di Korinte : "Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu" (1 Kor 3:16). Jadi seperti Kristus adalah Bait Allah sejati, kita umat yang telah dibaptis pun adalah bait-bait Allah.

    Kristus menjadi Bait Allah sesudah bangkit. Menjadi bait Allah itulah sebenarnya makna hidup kita sebagai orang kristen sejati. Dan menjadi orang kristen sejati berarti rela dan mau mengikuti pola hidup Kristus. Hanya memperhatikan dan melaksanakan kehendak Allah Bapa-Nya sepenuhnya, meskipun harus melalui penderitaan dan kematian di salib, itulah ibadat hidup Yesus yang sebenarnya. Itulah hubungan Allah dan manusia yang sejati. Itulah makna Yesus sebagai Bait Allah yang sesungguhnya!

    Dalam masa puasa ini marilah kita berusaha, untuk bukan hanya berdoa dan beribadat di dalam gereja sebagai bait Allah, melainkan berusaha menjadi bait Allah dengan memurnikan hubungan kita dengan Allah dan sesama secara jujur dan murni. Dengan merayakan Ekaristi bersama di dalam gereja, sebagai bait Allah, kita harus berhubungan erat dengan Allah melalui Kristus, dan melalui Dia pula kita sungguh harus berhubungan erat satu sama lain sebagai saudara seperti dilakukan Yesus sendiri. Dengan demikian kita semua juga semua menjadi bait Allah yang hidup.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/