Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA XXXI/B/2018

Ul 6:2-6; Ibr 7:23-28; Mrk 12:28-34;

PENGANTAR
    Dalam Injil Markus hari ini Yesus menegaskan, bahwa apa yang ditegaskan oleh Musa dalam Perjanjian Lama (PL), yaitu mengasihi Allah "dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan segenap kekuatan" harus diukur dan dinilai dengan kemurnian dan kesungguhan hati kita. Singkatnya, otentisitas atau kemurnian kasih kita kepada Allah dan kepada Kristus harus dinilai dan diukur dengan kemurnian dan kesungguhan kasih hati kita kepada sesama.

HOMILI
    Hidup kita masing-masing membuktikan, bahwa pengetahuan, ilmu bahkan keyakinan yang kita miliki, betapapun dalam dan banyaknya, tidak selalu sama atau identik dengan apa yang kita buat atau laksanakan sendiri. Hari ini dalam Injil Markus diperkenalkan seorang ahli Taurat. Ahli-ahli Taurat mengenal Kitab Suci Perjanjian Lama (PL) dengan baik, ibaratnya sudah hafal. Dan mereka itu mengajarkan Taurat dan memutlakkan pelaksanaan perintah-perintah PL. Menurut kaum Farisi di dalam Taurat ada 613 perintah yang terdapat di dalam lima buku pertama PL, yang harus ditaati. Dari sekian banyaknya perintah itu 248 buah ada perintah positif ("Kamu harus..."), sedangkan 365 buah berupa perintah negatif ("Kamu jangan..."). Inilah latar belakang pertanyaan mendasar yang disampaikan si ahli Taurat daam Injil Markus kepada Yesus : "Perintah manakah yang paling utama?"

    Ternyata perintah mengasihi Allah bukanlah baru diberikan oleh Yesus. Dalam Perjanjian Lama sudah ada! Tetapi ada perbedaan besar dan mendasar yang menyempurnakannya. Ada dua perintah kasih : kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Tambahan khusus yang diberikan Yesus ialah, bahwa kasih kepada Allah dan kepada sesama adalah sama nilainya, dan tidak terpisahkan satu sama lain. Kita tidak dapat hanya mengasihi yang satu tanpa sekaligus mengasihi yang lain. Mengasihi Allah harus sekaligus mengasihi sesama.

    Landasan atau motivasi kita mengasihi sesama harus timbul dari kasih kita kepada Allah. Atau kita bahkan dapat berkata, bahwa kasih kita kepada Allah dibuktikan dan diteguhkan dengan kasih kepada sesama kita! Kasih kita kepada sesama merupakan suatu kondisi bagi hati kita untuk dapat mengasihi Allah secara sungguh-sungguh! Jadi kasih kita kepada Allah menjadi nyata apabila kita sungguh mengasihi sesama kita. Dan kasih kita kepada sesama adalah bukti bahwa kita sungguh mengasihi Allah!

    Dalam Konsili Vatikan II dibuat suatu dokumen sangat penting, yang merupakan keterangan resmi tentang Gereja. Dokumen itu berjudul "Lumen Gentium", artinya "Terang Bangsa-Bangsa". Dalam dokumen itu tertulis : "Allah itu kasih, dan barangsiapa tetap berada dalam kasih, ia tinggal dalam Allah dan Allah dalam dia" (1 Yoh 4:16). Adapun Allah mencurahkan cinta kasih-Nya ke dalam hati kita melalui Roh Kudus yang dikurniakan kepada kita (lih. Rom 5:5). Maka dari itu kurnia yang pertama dan paling perlu yakni cinta kasih, yang membuat kita mencintai Allah melampaui segalanya dan mengasihi sesama demi Dia" (LG 42). Demikianlah cinta kasih akan Allah sekaligus akan sesama merupakan jaticiri atau identitas murid Kristus dan warga Gereja yang sejati.

  BKetika masih menjabat sebagai Paus, Paus Emeritus Benediktus XVI, menulis suatu ensiklik yang berjudul "Deus caritas est", "Allah adalah kasih" (2005). Beliau menegaskan, bahwa kita menjadi umat kristiani bukan karena kita sekadar mau memiliki suatu sikap hidup yang memang tinggi dan luhur mutu etikanya, melainkan lebih atas dorongan motivasi, bahwa kita telah mengenal dan menjumpai seorang Pribadi, yang begitu mengasihi kita, yaitu Yesus Kristus, sehingga Ia relah telah mengorbankan diri serta menyerahkan diri-Nya kepada kita! Sebab, seperti dikatakan oleh Yohanes penulis Injil, karena Allah mengasihi kita, maka kasih bukanlah hanya suatu perintah, melainkan lebih merupakan jawaban kasih kita kepada kasih Allah, yang telah rela mengorbankan dan menyatukan diri-Nya dengan kita.

   Karena kita hidup bersama dalam masyarakat dengan orang banyak, maka menurut peraturan pemerintah kita harus memiliki KTP, kartu identitas dan untuk jabatan juga ditambah dengan "business card". Santa Teresa dari Kalkuta juga harus memiliki kartu identitas sebagai penduduk di India. Namun beliau juga memiliki tanda pengenal lain. Bukan dalam bentuk kartu pengenal untuk jabatan/tugas dan alamatnya, melainkan terungkap dalam sikap, kata-kata dan perbuatan kasihnya. Di dalam suau kartu yang dibuatnya sendiri ia menulis : "Buah keheningan adalah doa. Buah iman adalah kasih. Buah pelayanan adalah damai. Tuhan memberkati Anda. Ibu Teresa".

    Di situ tidak tertulis alamat, nomor telpon, email ataupun faxnya, tetapi di situ terungkap sikap dan perbuatan pribadinya yang benar. Memang sekarang kita tidak dapat menghubungi Ibu Teresa dari Kalkuta dengan alat komunikasi modern apapun. Namun kita dapat menghubungi Santa Teresa dari Kalkuta yang berada dalam persekutuannya dengan orang-orang kudus. Santa Teresa dari Kalkuta memberi pelajaran kepada kita untuk selalu mengasihi Allah dan sesama kita dalam kesatuan persaudaraan yang utuh dan tak terpisahkan. Kasih kita kepada Allah tidak otentik bahkan palsu, apabila bukan sekaligus merupakan kasih kepada sesama kita. Dan tidak mengasihi sesama berarti tidak mengasihi Allah. Padahal Allah adalah kasih!

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/