Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU ADVEN II/C/2018

Bar 5:1-9; Flp 1:4-6.8-11; Luk 3:1-6

PENGANTAR
    Menurut Injil Lukas, pada Hari Minggu Adven II ini, Yohanes Pemandi mempersiapkan kedatangan Almasih sambil berseru : "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis. Maka Allah akan mengampuni dosamu. Siapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya". Dalam perayaan Ekaristi ini marilah kita mendengarkan, menerima dan melaksanakan seruan Yohanes Pemandi itu, agar kita sungguh dapat menerima kedatangan Yesus Kristus dalam kondisi rohani kita sebaik dan sepantas mungkin.

HOMILI
    Apa yang disampaikan Yohanes Pemandi kepada warga masyarakat zamannya, yakni lebih dari duapuluh abad yang lalu, tetap aktual dan relevan bagi kita, apabila kita sekarang pun mau menyambut kedatangan Yesus sebagai Penyelamat secara sungguh pantas. Ada tiga syarat penting atau hakiki yang disampaikan Yohanes Pemandi dalam seruannya untuk dapat diselamatkan oleh Yesus, yaitu : baptis, pertobatan dan pengampunan. Ketiga syarat itu tak terpisahkan satu dari yang lain.

    1. Syarat pertama untuk diselamatkan ialah baptis atau permandian. Pada dasarnya baptis bertujuan secara sakramental membersihkan diri dari segala cacat hidup yang kita lakukan, agar kita sungguh pantas hidup menurut dan bersama dengan Yesus. Dahulu secara simbolis hal itu dilaksanakan dengan menerjukkan diri di sungai Yordan, dan sekarang pembaptisan dilakukan dengan pencurahan air di dahi kita.

    2. Syarat kedua ialah pertobatan, sebagai rasa penyelasan secara sungguh-sungguh, yang timbul dalam hati atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Tetapi bukanlah sekadar sebagai penyesalan, melainkan merupakan suatu perubahan radikal segenap hati kita! Pertobaan itu disebut metanoia, yakni perubahan total. Perubahan total itulah yang memungkinkan datangnya pengampunan sejati.

    3. Syarat ketiga ialah pengampunan. Hanya apabila ada pertobatan total atau radikal atau ada metanoia, di situlah ada pengampunan sejati. Bukan sekadar berupa sebagai ungkapan "mohon maaf", yang bersifat profan dan hanya sebagai etiket sopan santun masyarakat pada umumnya, melainkan sungguh menyentuh hati yang paling dalam. Pengampunan dari segala dosa membebaskan diri kita dari beban berat hidup kita. Pengampunan mendatangkan rekonsiliasi atau perdamaian dengan Allah dan dengan sesama kita. Pengampunan adalah penyembuhan dan pemulihan kembali ketenangan hidup kita./p>

  Apa yang disampaikan Yohanes Pemandi itulah, yang diwujudkan oleh Yesus Kristus sebagai Penyelamat. Karena itu apa yang dahulu diserukan oleh Yohanes Pemandi tidak pernah ketinggalan zaman, selalu "up to date", aktual dan relevan. Dan pesan-pesan rohani yang tersimpan dalam Kitab Suci, seperti antara lain dalam seruan Yohanes Pemandi, jangan sampai terpisah dari pandangan, hidup dan perbuatan kita sehari-hari. Sebab apapun yang benar atau sebaliknya palsu, apa yang sungguh benar atau hanya penipuan, yang kita lakukan secara lahiriah, pada dasarnya ditentukan oleh keadaan rohani atau batin hati kita.

   Mengapa Yohanes Pemandi tampil dalam masyarakat Yahudi waktu itu? Ia tahu bahwa orang-orang Yahudi percaya akan hukum Taurat. Dan mereka memang taat terhadap hukum, namun ketaatan mereka tertuju kepada huruf hukum itu, bukan kepada tujuan atau maksudnya! Nyatanya dalam masyarakat Yahudi di zaman Yesus, yang merajalela dalam masyarakat ialah sikap hidup dan perbuatan, yang bertentangan dengan ajaran nabi-nabi yang sesungguhnya.

   Karena itulah Yohanes Pemandi berseru supaya mereka menyadari diri dan meluruskan jalan serta perbuatan mereka dalam masyarakat. Mereka harus menyiapkan dan meluruskan jalan yang benar untuk menyambut kedatangan Almasih. Ada gunung-gunung kejahatan, jurang-jurang ketidakadilan serta penindasan, ada liku-liku jalan penipuan dan kebohongan. Semuanya itu harus disingkirkan dan diluruskan! Semuanya itu adalah kenyataan unsur-unsur hidup yang dapat terdapat di dalam hati setiap orang. Dan kanyataan itu bukan hanya terdapat di zaman Yohanes Pemandi, melainkan juga di dalam masyarakat kita yang nyata juga berlangsung!

    Dengan demikian seruan Yohanes Pemandi itu sekarang pun ditujukan kepada kita juga! Kita semua ibaratnya diajak untuk dibaptis kembali. Artinya harus bertobat kembali agar pantas menerima pengampunan kembali, sehingga sungguh siap serta pantas menyambut kedatangan Yesus Almasih kita!

    Perlu kita ketahui dan sadari, bahwa dalam masa Adven ini kita sungguh membutuhkan refleksi diri. Persiapan diri untuk merayakan Natal secara tepat bukanlah terutama dengan memikirkan dan mengusahakan Perayaan Natal secara materiil, jasmani dan secara besar-besaran, yang bersifat profan, melainkan lebih baik berupa usaha mengadakan transformasi batin yang sungguh-sungguh, seperti diserukan oleh Yohanes Pemandi. Bukan kebesaran lahiriah yang tampak serba meriah, lebih menyolok indahnya, melainkan lebih sebagai hasil niat kita yang sungguh-sungguh untuk memikirkan kembali makna pembaptisan, pertobatan dan pengampunan dosa kita oleh Allah. Allah datang dalam diri Yesus memang bukan untuk menghukum, melainkan untuk menyelamatkan kita. Tetapi kita hanya akan diselamatkan oleh Yesus, apabila kita sungguh mau hidup seperti Yesus, yang begitu rendah hati hingga sudi lahir di Betlehem. Rendah hati kepada Tuhan dan kepada sesama, itulah bekal yang harus kita miliki untuk menyongsong kedatangan Yesus dalam kelahiran-Nya, yang kita rayakan pada Hari Raya Natal.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/