Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI KAMIS PUTIH C/2019

Kel 12:1-8. 11-14; 1 Kor 11:23-26; Yoh 13:1-15;

PENGANTAR
    Perjamuan makan menurut Tradisi dan juga menurut Tradisi Yahudi dan menurut Kitab Suci, bukanlah sekadar makan bersama untuk memenuhi kebutuhan kesehatan tubuh, atau untuk menikmati makan lezat, maupun untuk merayakan hari-hari peringatan khusus, melainkan meruapakan suatu pertemuan atau perjumpamaan penting, bukan hanya di antara sesama manusia, tetapi sekaligus juga di antara manusia dalam hubungannya dengan Allah! Jadi suatu pertemuan di antara apa yang manusiawi dan yang ilahi! Menurut Perjanjian Baru (PB) ada begitu banyak hal yang dilakukan Yesus, seperti pewartaan, pelayanan dan perbuatan-Nya yang lain, terutama pada kesempatan perjamuan makan terakhir! Dalam PB diceriterakan tentang Yesus dalam perjalanan-Nya dan Ia bertemu dengan banyak orang : kaum Lewi, orang-orang dagang, Simon orang Farisi, Lasarus dan saudari-saudarinya di Betania, Zakheus, orang-orang masyarakat yang tersingkir, perwira Romawi dan murid-murid-Nya.

HOMILI
    Tetapi pada akhirnya dalam perjamuan makan terakhir, Yesus berpamintan dari murid-murid-Nya dengan memberikan anugerah-Nya yang paling berharga: Ekaristi. Hari ini secara khusus kita merayakan Pesta Kamis Putih, yakni memperingati Yesus mengadakan Sakramen Pemberian Diri, Sakramen bagi diri bagi segenap murid-Nya.

    Perayaan Ekaristi berlatar belakang perayaan Paskah Yahudi, untuk merayakan pembebasaannya dari perbudakannya di tanah Mesir. Perayaan inilah yang dipakai Yesus untuk pembebasan Israel Baru, yaitu kita semua manusia. Makna baru perjamuan Paskah ini diteruskan oleh Paulus dalam suratnya, yang telah kita dengarkan Bacaan pertama (1 Kor 11:23-26). Dalam Injil Matius, Markus dan Lukas juga diceriterakan bagaimana Yesus telah mengadakan perjamuan malam terakhir sebagai institusi Ekaristi. Sedangkan Yohanes dalam Injilnya dalam Misa kudus ini ingin lebih menampilkan tokoh Yesus sebagai Guru, yang berlutut di hadapan murid-murid-Nya, untuk membasuh kaki mereka. Sebagai Guru, sebagai Bapak yang melayani murid-murid dan anak-anaknya dengan sikap dan gaya pelayanan serta kerendahan hati!

    Yesus dengan perbuataan-Nya itu mau mendidik murid-murid-Nya, bahwa pembebasan diri dari sikap hidup lama dengan sikap hidup baru, yakni hidup melayani, yang diberikan-Nya kepada kita, bukanlah dilakukan-Nya hanya dengan memerintah saja. Dan juga bukan dengan memerintah dari takhta kekuasaan, maupun dengan memberikan dana-dana resmi, yang diumumkan dan dipopulerkan agar diketahui sebanyak mungkin orang. Tetapi dilakukan-Nya dengan berlutut membasuh kaki murid-murid-Nya. Itu berarti bagi kita murid-murid-Nya, bahwa Yesus sekarang ini pun juga tetap membasuh kaki-kaki kita selama dalam perjalanan hidup kita di dunia ini!

    Demikianlah pada malam suci ini Yesus mengadakan Ekaristi, yakni dengan memberikan darah-Nya sendiri, namun didahului dengan berlutut membasuh dahulu kaki murid-murid-Nya. Dengan berbuat demi-kian Yesus menciptakan suatu perjanjian atau ikatan yang baru, yang kuat dan dinamis dengan murid-murid-Nya, jadi juga dengan kita: yaitu perjanjian kesetiaan kasih! Dengan memberikan daging dan darah-Nya, yaitu diri-Nya sendiri, Yesus sekarang bersabda kepada kita juga : "Seperti apa yang Kulakukan ini, harus kamu lakukan juga!".

    Dengan demikian menjadi jelas bagi kita, bahwa pembasuhan kaki tidak terpisahkan dari perayaan Ekaristi! Yang dilakukan Yesus pada malam suci pada waktu itu, yaitu pembasuhan kaki dan perjamuan malam, seperti disampaikan oleh para penulis Injil, merupakan pesan suci kepada kita sekarang ini juga! Kita sungguh dipanggil Yesus untuk mengasihi, melayani sampai dengan memberikan diri kepada sesama manusia! Berbuat seperti dilakukan Yesus sendiri.

    Yesus dalam Perjamuan Terakhir mengajarkan kepada kita, bahwa otoritas dan kewibawaan asli atau otentik dalam Gereja Kristus harus tampil sebagai pelayanan. Kesejatian (otentisitas) Gereja harus tampak dalam kesediaan mengorbankan hidup bagi sesama kita! Hidup Yesus adalah pesta bagi kaum miskin dan kaum berdosa! Hidup kita sebagai Kristus harus dihayati dengan menerima tubuh dan darah Kristus. Tetapi menerima Ekaristi juga berarti, bahwa kita harus juga menjadi apa yang kita terima dalam Ekaristi. Yaitu deengan kata lain: Menerima Ekaristi berarti menjadi Ekaristi bagi sesama!

    Dengan demikian tampaklah, bahwa menghadiri Misa Kudus atau merayakan Ekaristi bukanlah sekadar suatu perbuataan, untuk memenuhi ibadat ritual resmi menurut peraturan Gereja. Menerima Ekaristi berarti sungguh mau mengambil bagian dalam karya penyelamatan Kristus. Menerima Ekaristi akan sungguh berarti, apabila kita merasa terdorong untuk hidup bersama dengan baik dan penuh kasih dengan sesama. Menerima Ekaristi berarti menyediakan kerelaan dan keinginan untuk menciptakan hidup komuniter, komunitarian, atau sebagai komunitas, di mana anggota-anggotanya sungguh saling memperhatikan dan menolong.

    

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/