Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXVII/A/2011

Yes 5:1-7  Flp 4:6-9  Mat 21:33-43

PENGANTAR
     Seperti beberapa Minggu terakhir, bahkan juga Minggu depan, Yesus memberi keterangan tentang nilai-nilai dan ciri-ciri dasar, yang harus dimiliki penghuni “Kerajaan Allah”, yaitu masyarakat baru yang diwartakan dan didirikan Yesus, serta diterangkan dalam bentuk pelbagai perumpamaan. Pesan Yesus yang ingin disampaikan kepada kita dalam Injil Matius hari ini ialah, bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Kita yaitu Gereja adalah kebun anggur Tuhan, yang harus dipelihara dengan baik agar dapat diharapkan hasilnya yang baik pula.

HOMILI
     Seperti dalam Perjanjian Lama (Bac.I) Yesaya juga menggambarkan bangsa Israel sebagai kebun anggur. Yesus menggunakan gambaran yang sama untuk menerangkan siapakah dan bagaimanakah orang-orang yang ingin mengikuti Dia untuk diselamatkan. Pemelihara bangsa Israel dalam PL ialah para nabi, tetapi ternyata pohon-pohon anggur itu menghasilkan buah anggur asam! Mereka tidak menerima para nabi yang diutus Allah untuk memelihara mereka. Menolak para nabi itu berarti mereka tak menerima dan menolak kehendak Allah sendiri, yang mau menyelamatkan umat-Nya.

     Matius menggunakan gambaran tentang kebun anggur dalam PL untuk menggambarkan keadaan orang-orang Yahudi sezaman-Nya. Mereka menolak dan membunuh utusan-utusan Allah, yaitu Yohanes, bahkan juga Yesus Putera Allah. Dalam Perjanjian Baru ada kebun anggur yang baru pula.

     Dalam Perjanjian Baru kebun anggur itu adalah kita sebagai Gereja. Bagaimanapun keadaan Gereja sebagai kebun anggur, dengan  buahnya yang manis ataupun asam, kebun anggur itu tidak akan ditinggalkan Tuhan pemiliknya, apalagi dimusnahkan. Allah pemilik kebun anggur, yaitu umat manusia, ternyata masih mengadakan usaha terakhir, yaitu mengutus putera-Nya sendiri, disertai keyakinan bahwa mereka pasti akan mendengarkan dan taat kepada-Nya. Namun hasilnya justru sebalik-nya! Yesus pun dibunuh! Dalam perumpamaan itu terungkaplah sikap dasar perlawanan manusia terhadap kehendak Allah. Karena Yesus adalah putera dan ahli waris, maka dengan membunuh Dia, mereka merasa dapat langsung menjadi pemilik kebun anggur itu! Inilah suatu perlawanan, ketidaktaatan total kepada Allah, yang kemudian menjadi kenyataan dalam pembunuhan Yesus di kayu salib!

     Tetapi ada janji dari Yesus: kebun anggur itu tidak akan dimusnahkan! Sebab di antara pekerja-pekerja di kebun anggur masih ada orang-orang yang baik, dapat dipercaya dan setia. Jadi pasti ada orang-orang yang akan bersedia bekerja di sana. Itu sebabnya Yesus dalam Injil berkata: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru”. Yesus dengan kata-kata itu mau menunjukkan, bahwa kematian-Nya bukanlah berarti, bahwa Allah itu kalah. Sebab penderitaan dan kematian di salib akan diikuti dengan kemuliaan dalam kebangkitan-Nya. Bukan kekalahan melainkan justru kemenangan! Karena itu  kebun anggur itu akan tetap dapat menghasilkan anggur baik yang manis.

     Bagi kita makna perumpamaan tentang kebun anggur ini ialah, bahwa kebun anggur itu adalah kita, umat kristiani, Gereja. Nah, dalam Gereja-Nya ini kita semua diingatkan akan belaskasih Allah kepada siapapun, termasuk mereka yang akan di luar lingkungan, kelompok, Gereja kita. Kita diajak meninjau atau melihat dengan jujur keadaan hidup kita: sikap hidup dan perlakuan kita terhadap sesama kita, siapapun juga. Sikap dasar hidup kita ditunjukkan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi (Bac. II): “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Jadi, Saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap  didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, - itulah yang harus kamu pikirkan” (Flp 4:7-8).

     Maka apa sebenarnya pesan perumpamaan hari ini kepada kita? Kebun anggur itu adalah umat Gereja! Penggarap-penggarap atau pekerja-pekerja-nya adalah kita sendiri, masing-masing menurut kedudukannya. Bisa keluarga, bisa lingkungan dan paroki, bisa kelompok rekan kerja, bisa masyarakat kita. Kita semua akan diminta perhitungan sesuai dengan tanggung jawab kita. Gereja kita, baik di paroki kita, maupun Keuskupan kita, bahkan seluruh Gereja di Indonesia, adalah kebun anggur besar, yang masih membutuhkan pekerja-pekerja yang baik dan setia. Kita sekaligus harus berdoa dan mohon kepada Tuhan, Pemilik kebon anggur, yaitu Gereja-Nya, jangan sampai berkata kepada kita: “Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa, yang akan meng-hasilkan buah Kerajaan itu” (Mat 21:43). Imam, biarawan-biarawati, awam, - segenap umat Allah tanpa kekecualian - , diberi tugas oleh Yesus untuk  menggarap kebun anggur-Nya. Jangan sampai Tuhan berkata: “Aku menanti supaya dihasilkan buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam”.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/