PENGANTAR
Di waktu lampau, lagu pembukaan Gregorian pada Hari Minggu Adven III dimulai dengan seruan “Bersoraksorailah” atau “Bersukacitalah”. Dalam Bacaan I Nabi Zefanya berseru: “Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bergembiralah, hai Israel!” Juga dalam Bacaan II Paulus juga berseru kepada jemaat di Filipi: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!” Dan dalam Injil Lukas hari ini Johanes Pembaptis juga menyampaikan kabar sukacita yang sejati. Tetapi ia sekaligus menunjukkan apa yang harus dilakukan setiap orang, agar sungguh dapat bersukacita secara benar dan utuh.
HOMILI
Dalam Injil, Johanes Pembaptis memberitahukan dan menyiapkan keda-tangan Yesus sebagai Almasih. Syaratnya ialah pertobatan! Metanoia atau perubahan pandangan total. Dan orang-orang yang mendengarkan seruannya dan menerimanya lalu bertanya: “Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?”.
Suatu pertobatan sejati adalah suatu cara hidup yang sederhana. Hidup itu dihayati oleh Johannes Pembaptis sendiri dengan hidupnya yang istimewa. Pada hakikatnya ia memberI teladan penghayatan hidup ugahari dan sederhana.
Dari apa yang dikatakan oleh Johannes Pembaptis maupun dari pertanyaan yang disampaikan oleh beberapa kelompok orang-orang, baik sebagai pemungut cukai, maupun sebagai prajurit/serdadu, ternyata pertobatan sejati erat hubung-annya dengan keadilan sosial.
Bertobat berarti hidup dan berbuat adil. Dan hidup adil itu pada dasarnya sebenarnya sederhana: rela berbagi dengan sesama, terutama yang berkekurangan. Secara konkret, apabila kita mempunyai kelebihan hendaknya rela untuk membe-rikannya kepada orang lain. Ternyata pertobatan yang dimaksudkan oleh Johannes bukanlah hanya soal batin atau melulu rohaniah, melainkan juga diungkapkan dalam perbuatan sosial kepada sesama.
Tuhan menyediakan kekayaan bumi kita ini untuk mncukupi kebutuhan segenap penduduknya. Namun sangat sayang, bahwa masih begitu banyak di antara penduduk dunia atau bumi kita ini, walaupun pada umumnya memeluk agama atau kepercayaan, yang sangat baik dan suci ajarannya, dan telah dipilihnya sendiri, namun pertobatan yang harus dimiliki setiap orang itu belum merupakan kenyataan.
Orang berusaha ibaratnya berlomba mengumpulkan kekayaan dalam aneka macam rupa, seperti uang, benda-benda seperti logam, rumah, mobil, tanah, perusahaan dan lain-lainnya. Sementara itu meskipun memiliki segalanya yang kita butuhkan, bahkan berkelebihan, dapatkah kita sungguh merasa bahagia dan bersukacita, apabila kita melihat keadaan masih begitu banyaknya orang-orang, yang semartabat dengan kita di depan Allah, tetapi belum dapat hidup sebagai manusia secara wajar dan tercukupi kebutuhan hidupnya? Kita semua diciptakan menurut citra Allah sendiri.
Citra Allah asli ialah Yesus Almasih kita, yang disiapkan kedatangan-Nya oleh Johanes Pembaptis. Dan isi jawaban-jawaban Johannes Pembaptis tentang apa yang ditanyakan oleh pemungut cukai maupun prajurit-prajurit atau tentara-tentara Romawi, dilakukan oleh Yesus. Yesus tidak memiliki rumah sendiri, Ia tidak hanya bergaul dan berkecimpung hanya di antara orang-orang besar. Sebaliknya Ia mengunjungi orang-orang kecil, orang-orang sakit, orang-orang yang berkekurangan. Di situlah letak sumber kegembiraan dan sukacita Yesus, yang sebenarnya.
Berbelaskasih kepada sesama, khususnya kepada siapapun yang berke-kurangan, - di situlah pula letak sukacita atau kegembiraan sejati. Sukacita sejati tak akan hilang, bahkan atau sesungguhnya justru akan kita miliki dan rasakan bila hidup kita, yang terbatas lamanya di bumi sekarang ini, sudah selesai. Kebahagiaan dan sukacita yang tak akan berhenti di hidup kita yang akan datang: di surga. Pertobatan sejati adalah kerelaan untuk berbuat baik dan berbagi dengan sesama. Kesucian atau kekudusan sejati tidak mungkin dicapai tanpa pertobatan. Tetapi pertobatan apapun bentuknya adalah justru palsu, apabila orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Maka palsulah juga kegembiraan dan sukacita hidupnya. Kebaikan dan amal kasih, - itulah sukacita sejati yang disiapkan oleh Johannes Pembaptis, dan menjadi kenyataan dalam hidup, kata dan perbuatan Yesus sendiri.
Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.
kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm