Pada tahun 2000, saat masih frater S2, saya sempat nyantrik misi pada Sr. Xaveria PIJ, dirdios KKI Keuskupan Malang kala itu. Usai tahbisan pun saya masih membantu di Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Malang. Dan ketika pulang studi kitab suci dari Roma, saya malah diminta Mgr Pandoyoputro untuk menangani KKI Keuskupan Malang sampai keberangkatan saya kemarin ke Manila. Tugas utama KKI adalah menanamkan semangat misi kepada semua lapisan umat, dengan pelbagai cara. Intinya, berkat sakramen baptis dan krisma, kita semua diutus mewartakan Injil, dengan meninggalkan egoisme diri dan terarah pada kebutuhan orang lain. Di kalangan anak dan remaja, semangat KKI sangat terkenal dengan singkatan 2D2K: doa, derma, kurban, kesaksian. Dalam pelbagai kesempatan pengajaran pada umat pun saya menyinggung semangat ini. Jujur, terkadang sempat ada keraguan dalam hati, jangan-jangan semboyan 2D2K ini hanya indah di omongan, tetapi tidak juga terwujud dalam kenyataan.
Alkisah, saya bertemu dengan seorang putri cilik, namanya Irene Putri Ivaniasari. Panggilannya Putri. Kisah selengkapnya perjumpaan kami sudah saya tulis di refleksi: Apakah Sekedar Kebetulan? Dalam kesempatan ini saya mau berbagi, bagaimana saya justru belajar bermisi dari anak kecil ini.
Terus-terang, saya sendiri sebenarnya tidak banyak kenal dia; kalaupun beberapa kali ketemu, bahkan keluar bareng ke MOG dan MATOS, yang kami omongkan hanya hal-hal biasa, soal sekolahnya, teman-temannya, kesukaannya. Itu saja. Habis komuni pertama, dia tidak daftar jadi anggota misdinar, karena rumahnya jauh untuk bertugas misa harian.
Ketika saya singgung apakah nanti pengin jadi suster, dia bilang cita-citanya ingin jadi guru. Dengan berseloroh saya katakan, "Iya, ntar bisa sering ngunjungi Romo, kalau Romo sudah tua." Agaknya saat mengikuti misa kaul perdana para Suster Pasionis (14 Agustus 2014), kebetulan dia ikut ibunya menulis naskah Pelangi Kasih di Seminari Praja dan kami semua ikut misa kaul itu, dia mencoba duduk di depan dan berusaha untuk ambil gambar. Adakah terbersit keinginannya jadi Suster? Entahlah. Yang pasti, saat kecil tiap pagi-sore ia dititipkan di Tempat Penitipan Anak asuhan Suster Pasionis di Jl. Ciliwung. Beberapa kali diajak keluarganya mengunjungi para suster misericordia yang sepuh.
Akan tetapi, sejak dia didiagnosis oleh dokter bahwa dia memiliki kelainan dan harus dioperasi, cerita lain kemudian bergulir. Apa yang saya ceritakan berikut ini, justru saya ketahui dari keluarganya, setelah Putri dipanggil Tuhan. Selama kontak sama Putri saya tidak pernah omong yang rohani-rohani. Usai menerima komuni pertama, memang dia saya hadiahi buku: Komuni Pertamaku: Kenangan Terindah (Obor, 2005). Bisa jadi setelah membacanya, dia mendapatkan peneguhan. Tetapi yang saya tulis itu kan lebih pada wacana, sama seperti kalo saya memberikan seminar tentang misi. Contoh hidupnya justru saya temukan dalam putri cilik ini! Bahkan bisa jadi, dia sudah melakukannya jauh sebelum membaca buku itu.
KEPOLOSAN SEORANG ANAK
Sebelum dioperasi di RKZ, saya melayani Putri dengan Sakramen Tobat dan Sakramen Pengurapan orang Sakit. Sama seperti saya, kelas 6 SD sudah menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Kepolosan seorang anak, mungkin itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan jiwanya. Ketika akan dipindahkan ke ruang operasi, dengan diam-diam perawat menyuntikkan obat bius [semoga saya tidak keliru mengingatnya] pada tangannya. Entah karena terkejut atau marah, kata-kata yang keluar dari mulut Putri adalah, "Berdosa!" Saya sempat tertegun, biasanya orang jengkel dan marah, bisa jadi akan mengumpat atau omong kotor. Tapi kata itulah yang keluar dari mulutnya, yang bisa jadi "kosakata: suci-dosa" itu yang ada di benaknya.
MISTERI KEMATIAN ORANG MUDA
Kalau saya merenung kenapa anak yang dekat dengan saya ini justru cepat diambil Tuhan, saya jadi teringat Romo Hilarius Nello Pr, adik kelas saya, seorang imam praja Keuskupan Surabaya, yang sakit dan kemudian meninggal setelah ditahbiskan imam baru tiga bulan. Saya diajak merenungkan dan mengimani Firman Tuhan, "Karena berkenan pada Allah maka orang benar dikasihi, ia dipindahkan sedang masih hidup di tengah-tengah orang berdosa; ia disentak, supaya kejahatan jangan mengubah budinya, dan tipu daya jangan membujuk jiwanya" (Kebijaksanaan Salomo 4:10-11).
Dan agaknya Tuhan memang punya rencana mengenalkan saya pada Putri, supaya saya bisa belajar bermisi pada seorang anak kecil ini, bukan dalam teori misi, melainkan pada laku misi.
PENGALAMAN KONTRAS
Dalam refleksi Apakah Sekedar Kebetulan saya sudah menuliskan aneka kebetulan indah dalam peristiwa kematian Putri. Saat bacaan Injil mewartakan kebangkitan Putri Yairus berusia 12 tahun (Mrk 5:21-43), pada 3 Februari 2015 itu Putri justru dipanggil Tuhan. Pengalaman kontras ini mengingatkan saya pada Imelda Lambertini, pelindung anak-anak penerima komuni pertama, yang penasaran dengan sabda Yesus, benarkah kalo menyambut Komuni Kudus orang tidak mati selamanya (Yoh 6:51)? Setelah menyambut Komuni Kudus secara ajaib yang keluar dari tabernakel, dia justru meninggal mendadak! Tetapi jenazah Imelda Lambertini tidak rusak hingga hari ini. Hal menarik bahwa bacaan tentang kebangkitan anak Yairus itu dibacakan lagi pada hari Minggu Biasa ke-13 Tahun B (artinya bacaan ini hanya muncul tiga tahun sekali untuk bacaan hari Minggu). Kebetulannya, hari Minggu ke-13/Th B itu jatuh pada 28 Juni 2015, tepat Putri semestinya merayakan ulang tahunnya ke-12! Kebetulan demikian jelas tidak bisa dibuat oleh mereka yang belajar kitab suci atau liturgy sekalipun. Hanya Tuhan yang bisa menyelenggarakannya.
LAKU MISI 2D2K
Menyadari aneka kebetulan indah itu, saya kemudian dibuat berdecak kagum setelah mendengar dari keluarganya, tentang apa yang dilakukan Putri selama hidupnya yang relatif singkat itu. Saya mencoba membingkai pengalaman Putri dan merefleksikannya dalam paradigma semangat misi: 2D2K.
Doa Misioner
Doa misi itu bukan sekedar doa atau menjalin relasi intim dengan Tuhan dan memohon apa yang kita butuhkan, melainkan sebuah doa misioner, doa syafaat, yakni doa untuk kepentingan orang lain. Adakah kita bertekun dalam doa? Apakah kita juga memohonkan kebutuhan orang lain? Dalam buku renungan harian anak Pelangi Kasih disediakan ruang kosong bagi anak-anak untuk menuliskan niat atau doa mereka setelah merenungkan sabda Tuhan. Visi ke depannya sih agar semakin banyak anak Katolik yang lancar berdoa spontan! Apakah visi ini terasa muluk? Semoga tidak.
Lantas apa yang dilakukan Putri? Ternyata dia punya kebiasaan berdoa bersama dalam keluarga. Menariknya, yang memimpin adalah Putri, dengan doa spontan yang lancar dan panjang. Yang didoakan bukan hanya mereka yang dia kenal, tetapi juga apa yang dilihatnya di televisi: kurban bencana, kurban kecelakaan, narapidana yang akan dihukum mati, dll! Adakah pikiran kita sejauh itu? Ataukah kita melihat televisi sekedar mencari informasi dan berhenti pada rasa kasihan pada si korban. Adakah kita juga digerakkan oleh belaskasih untuk mendoakan jiwa-jiwa mereka? Inilah alasan suster-suster Karmelites Batu menyimak berita dari koran, supaya tahu, siapa dan apa saja yang perlu didoakan.
Derma
Salah satu bentuk misi adalah mengumpulkan derma; pada hari anak misioner untuk membantu anak-remaja sedunia yang membutuhkan, pada hari minggu panggilan untuk membantu pembinaan seminari-seminari tinggi sedunia, dan pada hari minggu misi untuk menunjang karya misi para Uskup. Derma juga dikumpulkan selama masa Prapaskah dalam bentuk APP dan masa Adven dalam bentuk Aksi Natal. Dalam misa hari anak misioner di Malang, biasanya anak-anak mempersembahkan kado bagi Kanak-kanak Yesus yang kemudian disalurkan pada anak-anak yang membutuhkan.
Apakah jumlah derma Putri itu banyak? Saya tidak tahu, yang pasti dia hanya seorang anak SD, dari keluarga guru. Tetapi hal khusus yang dia lakukan adalah menjelang pengumpulan Aksi Natal atau APP, dia biasanya menukarkan uang derma yang dikumpulkannya pada guru yang suaminya kerja di bank. Dia menukarnya dengan uang gres-gres. Suatu kali dia tidak sempat menukarnya, maka uang-uang kertas itu dia setrika, lalu disemprot pewangi! Ketika mamanya menanyakan mengapa mesti aneh-aneh, apa jawab Putri? "Ini kan persembahan untuk Tuhan Yesus!"
Saya tertegun mendengar kisah ini. Saya jadi teringat saat tugas di paroki, kerap kali hanya melihat laporan keuangan, berapa jumlah APP yang masuk dari lingkungan-lingkungan dan sekolah-sekolah. Bahkan ada godaan membanding-bandingkannya. Waktu dengan Tim KKI membongkar semua kado anak-anak bagi Yesus untuk disalurkan, kadang saya bergumam dalam hati, "Ngapain repot-repot membungkus bagus-bagus, toh akhirnya dibongkar juga!" Tindakan dan penjelasan Putri, jelas menghenyakkan saya.
Semua derma itu untuk Tuhan Yesus! Terserah oleh Tuhan Yesus mau diberikan siapa nantinya. Maka untuk Tuhan Yesus, harus dipersembahkan sebaik-baiknya! Jumlah nominal derma Putri, mungkin tidak seberapa; akan tetapi dia tahu, untuk siapa itu dia berikan. Maka dia memberi dan mengemasnya sebaik-baiknya. Saya jadi teringat jalan kecil rahasia kesucian St. Theresia Lisieux, "Melakukan hal-hal kecil dan sederhana dengan cinta yang besar".
Kesaksian
Sejauh saya dengar, Putri itu begitu pedulinya sama yang lain dan tidak mau mendiamkan bila ada hal yang tidak beres. Alhasil, dia sering menegur teman-temannya, dan bisa jadi dia tidak disukai oleh mereka yang ditegurnya. Tetapi inilah risiko mewujudkan kasih, dimana kasih tidak membiarkan ketidakbenaran, tetapi berani menegur dan mengingatkan yang salah. Bukankah kita cenderung membiarkan apa yang sebenarnya tidak benar karena ingin memelihara "harmoni"? Sikap kenabian kalah dengan rasionalisasi "daripada ntar rame." Sikap kasih juga ditunjukkan Putri dengan memberi perhatian pada penjual kue yang berjualan keliling di kompleks perumahannya. Umumnya anak-anak datang sekedar untuk beli kue. Tetapi Putri mau peduli pada si penjual, sampai bantu-bantu mengatur posisi dagangannya. Saat dirawat di ruangan anak RKZ, dia sempat meminta mamanya menggendong pasien lain, seorang anak kecil, yang terus menangis. Tanpa sikap peduli pada orang lain, tidak mungkin kita bisa memberikan kesaksian sebagai "garam dan terang dunia" (Mat 5:14-16).
Kurban
Seorang murid Kristus semestinya berjalan di belakang Yesus. Itu berarti tidak hanya mendengarkan ajaran Yesus, menyaksikan mukjizat-mukjizat-Nya, dan mengalami indahnya pengalaman di gunung Tabor. Tetapi juga diundang mengikuti Yesus di Getsemani, menyusuri jalan salib-Nya, sampai di Golgota! Ada banyak salib dalam pengalaman iman kita, salah satunya penyakit. Ketika hal ini menimpa pada kita, kita pun bergumul dan bertanya pada Tuhan, mengapa saya harus sakit? Apa salah saya? Ayub pun menggumuli pertanyaan ini dan tidak menemukan jawabannya (Ayb 42:5-6). Banyak misteri dalam kehidupan ini.
Saya yakin Putri juga merasa kesakitan, sedih, bergumul, dan bertanya pada Tuhan: kenapa dia harus sakit, bukankah dia juga ingin terus sekolah, sama seperti teman-temannya. Terkadang memang tidak selalu ada jawabannya. Saat dirawat di ruangan anak RKZ, Putri sempat mengatakan, nanti akan bertanya kepada Tuhan, kenapa adik-adik kecil ini diberi sakit? Dia kelas 6 SD, paling besar di ruangan anak itu. Maka saya bisa memahami makna tulisannya setelah dia sakit: "Tuhan Yesus, JANGAN ada anak kecil sakit, Biar Aku/PUTRI saja."
Keberhasilan karya misi tidak hanya ditentukan oleh sayap pertama: keuletan, ketekunan, dan kreativitas para pelaku misi, tetapi juga ditunjang sayap kedua: doa dan kurban. Pada setiap tanggal 11 Februari, kita merayakan Hari Orang Sakit Sedunia, dimana orang-orang sakit diundang mempersembahkan derita-penyakit mereka dan dipersatukan dengan penderitaan Kristus sehingga menjadi korban rohani (lih. Lumen Gentium 34; Kol 1:24). Dengan menyatukan penderitaan dan penyakit dengan korban Kristus sendiri, orang Kristen diundang untuk "naik kelas": bukan bertanya mengapa, tetapi untuk apa. Paulus pun dari penjara menasihati umat Filipi, "Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita bagi Dia" (Flp 1:29). Menderita bagi Kristus dan Gereja-Nya merupakan level kedua kekristenan, dimana level pertama percaya kepada Kristus, sebab kita diundang semakin serupa dengan Kristus yang menderita.
Saya jadi teringat akan Carlo Acutis, seorang remaja modern kelahiran Milan Italia tahun 1991, yang aktif mengembangkan minat dan kemampuan IT-nya dan mencoba mewartakan Injil dengan website dan program computer yang dibuatnya. Sejak menerima komuni pertama dia selalu mengikuti Misa harian dan meyakini bahwa "Ekaristi adalah jalan tol menuju surga".
Namun, pada usia 14 tahun dia terkena penyakit leukemia. Dia justru mempersembahkan penderitaannya untuk Gereja dan Bapa Paus. Dia menghadap Tuhan pada usia 15 tahun. Sekarang dia digelari Hamba Allah, sebuah langkah menuju proses dinyatakan Beato dan Santo.
DUA PENGALAMAN KECIL
Kendati saya punya kedekatan dengan Putri, namun sampai hari ini pun saya belum pernah bermimpi bertemu dia. Saya hanya dibantu untuk peka dengan aneka kebetulan dan kisah-kisah kecil dalam pengalaman hidup Putri, yang saya tahu justru setelah dia meninggal. Di sini saya mau mengisahkan dua pengalaman pribadi berkaitan dengan Putri, setelah dia meninggal.
Romonya anak-anak
Ketika mensharingkan pengalaman saya tentang Putri kepada pembimbing rohani saya, seorang imam senior, saya katakan keyakinan saya, tentu sekarang Putri sudah berbahagia bersama Tuhan. Tetapi Romo itu mengatakan, "Romo, jangan berhenti sampai di situ." Saya pun menanyakan maksudnya. "Masih banyak anak-anak yang telah keguguran dan digugurkan, tetapi tidak ada yang mendoakan!" tandas beliau. Saya jadi teringat pengalaman seorang imam yang setiap bulan mempersembahkan misa khusus untuk kedamaian arwah anak-anak korban aborsi. Bahkan pengalaman imam itu saya tulis dalam salah satu refleksi di buku Doa dan Refleksi Menantikan Kelahiran (Obor, 2009). Waktu itu saya merasa, bagian saya adalah menceritakan pengalaman khas romo itu, tetapi tidak terbersit sama sekali bahwa hal ini juga menjadi "bagian" saya.
Kebetulan berikutnya terjadi, begitu saya keluar dari wisma romo pembimbing rohani itu, pembantu yang membukakan gerbang, seorang umat paroki Blimbing dimana dulu saya pernah melayani sebagai pastor rekan, menanyakan dimana saya sekarang tinggal, lalu berseloroh, "Romo Didik ini dulu di Blimbing dikenal Romonya anak-anak." Deg...hati saya disadarkan oleh pernyataan dua orang yang tidak saling janjian ini.
Memang dulu sewaktu di paroki setiap bulan saya mempersembahkan misa untuk anak-anak dengan khotbah khusus yang menyapa mereka. Dan kini saya sadari, bahwa anak-anak itu tidak hanya mereka yang masih hidup dan tumbuh berkembang, tetapi juga anak-anak yang telah menghadap Tuhan, korban aborsi, baik keguguran maupun digugurkan – yang membutuhkan doa-doa! Pengalaman perjumpaan dengan Putri mengantar saya pada "perutusan" baru, ikut mendoakan anak-anak korban aborsi. Saya yakin, Anda yang membaca tulisan saya ini, juga akan ikut mendoakan anak-anak korban aborsi yang Anda ketahui dan belum sempat Anda doakan.
Doa untuk Kelahiran Keponakan saya ketiga
Kedekatan saya dengan Putri saat pertama kali berjumpa di susteran pasionis Ciliwung (2005-2006), bisa jadi didorong oleh kerinduan memiliki keponakan sendiri. Saya dua bersaudara, dan saat itu adik saya belum menikah. Tetapi sekarang saya memiliki tiga keponakan dari adik saya. Saya mau menuturkan pengalaman kelahiran keponakan ketiga, yang lumayan unik. Kandungan adik saya sudah masuk minggu ke-42, tetapi belum ada tanda-tanda akan melahirkan! Hari Sabtu, 8 Oktober 2016, saya mengajar kursus teologi di Surabaya, sehingga pulangnya menginap di adik saya sembari ikut berjaga-jaga, kalau adik saya segera melahirkan. Habis ikut Misa Sabtu sore, adik saya langsung periksa ke bidan dan disarankan segera opname di rumah sakit. Akhirnya malam itu saya ikut bermalam di mobil ikut menjaga kedua keponakan saya. Kendati adik saya sudah diinduksi, sampai Minggu siang belum ada tanda-tanda akan lahir. Bila kondisi demikian terus, hari Senin adik saya mungkin akan menjalani operasi sesar. Karena Seninnya saya harus mengajar di Malang, maka Minggu sore itu saya pulang ke Malang.
Sejak Sabtu sore ikut menunggui adik, tidak henti saya berdoa rosario dan memohon bantuan doa Santa Gianna Beretta Molla, pelindung ibu rumah tangga, dokter, dan penyayang kehidupan. Pengalaman saya dua-tiga kali mendoakan ibu yang kesulitan melahirkan, dengan perantaraan St. Gianna Beretta Molla, segera terkabul! Tetapi kali ini, sepertinya ada kendala.
Begitu saya sampai di seminari, hari Minggu pk. 20.00, saya mendapat kabar dari Ibu bahwa adik sudah bukaan 3, kata perawatnya sih akan dilihat lagi setelah 4 jam, dan bisa jadi keponakan saya akan lahir pada esok harinya. Malam itu usai mandi kembali saya berdoa Rosario, dan pada akhir peristiwa, usai kemuliaan dan terpujilah, saya sisipkan doa Fatima dan doa spontan pada St. Gianna Beretta Molla. Itu juga yang saya lakukan sejak Sabtu sore. Tiba-tiba, saya teringat akan Putri, yang di ruangan anak RKZ paling besar diantara pasien anak lainnya dan yang mau bertanya pada Tuhan, kenapa anak kecil diberi sakit. Maka pada akhir peristiwa ke-4 dan ke-5, setelah doa Fatima dan kepada St. Gianna, saya tambahkan kata-kata: "Put, Tante Nanik mau melahirkan, kamu bantu doa ya." Itu kata yang terucap dari saya dengan keyakinan bahwa Putri sudah berbahagia bersama Tuhan dan mau mendoakan juga pada Tuhan.
Usai doa Rosario, saya masih sempat menonton TV sebentar. Tiba-tiba pk. 21.45 ibu saya menelepon dan memberitahu, "Selamat ya, keponakan ketiganya sudah lahir!" Rasa syukur, gembira, dan bahagia campur jadi satu. Koq secepat itu? Konon para perawat yang menangani adik saya juga tidak percaya, bisa lahir sehat dan normal secepat itu! Yang pasti, berkat campur tangan Tuhan yang berkenan mendengarkan doa-doa kami, juga doa dari Putri.
YUK, TERUS BERMISI
Kembali ke tujuan semula tulisan ini, saya mengajak dan mengingatkan diri sendiri, lewat pengalaman Putri ini untuk terus menjalankan tugas misi, dimanapun kita berada, berani keluar dari egoisme diri dan terarah pada kebutuhan orang lain melalui doa, derma, kurban, dan kesaksian. Bila kisah pengalaman Putri menginspirasi Anda dan mengobarkan api misioner dalam hati Anda, mungkin untuk itulah saya dipertemukan dengan Putri, untuk terus belajar dan mewujudkan laku misi.
Quezon City, MANILA
Pada HR St. Yusuf, 19 Maret 2017