Menyimak dan Mengkritisi
Film The Messiah
Oleh:
F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr
hal. II
MAKANAN TURUN DARI SORGA
Selanjutnya divisualkan Yesus bersama para muridnya berjalan di padang, lalu ke-12 murid yang menyertainya meminta Dia membuat mukjizat dengan mendatangkan makanan dari langit. Yesus pun memenuhinya dan meminta mereka agar setelah itu percaya penuh kepada-Nya. Siapa yang tetap tidak percaya, akan mendapatkan penghukuman. Maka setelah Yesus berdoa, segera turunkan makanan dari langit dan kemudian terhampar di karpet mirip “warung lesehan” untuk para murid. Mereka pun menikmati makanan dari langit itu. Namun, Yudas Iskariot tidak mau makan, dia menganggap itu semua bukanlah mukjizat, melainkan hanyalah fatamorgana alias khayalan belaka. Divisualkan kemudian Yudas Iskariot menjauh dari para murid lainnya, dan segera melaporkan gossip kepada Barabas bahwa Yesus mau menjadikan dirinya sendiri sebagai raja.
Injil kanonik juga menampilkan Yesus mengadakan mukjizat pergandaan roti untuk lima ribu orang (Mat 14:13-21) dan untuk empat ribu orang (Mat 15:32-39), tidak termasuk wanita dan anak-anak. Tapi, konteksnya Yesus yang berinisiatif karena Dia menaruh belaskasihan melihat para pendengarnya kelaparan. Untuk itu Yesus meminta mereka mempersembahkan roti yang ada pada mereka, dan setelah diberkati, akhirnya berlipat ganda dan sanggup mengenyangkan mereka semua, bahkan masih tersisa banyak. Sejak mukjizat inilah para pendengar-Nya hendak menjadikan Yesus sebagai raja, namun Dia memilih untuk menghindar (Yoh 6:15).
MUKJIZAT PEMUDA NAIN DIHIDUPKAN KEMBALI
Adegan berikutnya adalah Yesus menghidupkan kembali anak dari janda di Nain. Divisualkan saat itu rombongan Yesus sedang bertemu dengan pasukan prajurit Romawi yang sedang mengawal patung dan rombongan para pelayat yang menggotong mayat si pemuda Nain. Ibu janda itu mendekati Yesus dan memohon, “O, Isa putra Maryam, kelahiranmu penuh mukjizat, tentulah Allah telah memberimu kuasa untuk melakukan segala sesuatu. Kumohon, hidupkanlah kembali anakku.” Iba akan permintaan ibu janda Nain ini, Yesus pun tergerak hati, lalu menghidupkan kembali pemuda Nain yang terbalut kain kafan itu. Menyaksikan itu semua, para pelayat terkagum-kagum dan berseru, “Mari kita wartakan kabar gembira ini.” Sementara pemimpin pasukan Romawi berkata, “Orang ini selayaknya disebut Tuhan atau Anak Allah.” Maka para prajurit Romawi pun mulai menyebarkan peristiwa itu dan menyatakan bahwa Yesus yang telah menghidupkan kembali pemuda Nain itu adalah Tuhan atau Anak Allah.
Berkaitan dengan adegan ini, perlu diberikan beberapa catatan kritis. Pertama, pengakuan kelahiran Yesus penuh dengan mukjizat agaknya dalam tradisi Islam tidak hanya berkaitan dengan Yesus dikandung dan dilahirkan oleh Perawan Maria, tetapi juga mujizat bayi Yesus yang masih dalam ayunan bisa berbicara untuk membela keperawanan ibu-Nya yang digosipkan oleh para tetangganya (QS 19:30-33). Sementara dalam Injil apokrip Kanak-Kanak Thomas juga disebutkan keajaiban Yesus kecil yang membuat burung-burungan dari tanah liat, karena ia melakukannya pada hari Sabat dan ditegur oleh Yosep. Maka Yesus pun membuka tangannya dan menghidupkan burung-burungan itu sehingga bisa terbang (4:2)5. Namun, Injil kanonik justru tidak menyebut pelbagai keanehan ini, melainkan menyebut bahwa proses pertumbuh-kembangan Yesus berjalan normal dan wajar, “Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” (Luk 2:40; bdk. Luk 2:52).
Kedua, soal klaim dan penyebarluasan oleh prajurit Romawi bahwa Yesus adalah Tuhan atau Anak Allah, sama sekali tidak sesuai dengan kesaksian Injil kanonik. Kita justru menjumpai, Yesus bertanya kepada para murid-Nya tentang pendapat orang banyak tentang Dirinya. Maka Simon melaporkan bahwa orang-orang menganggap Yesus sebagai Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau salah satu dari para nabi (Mat 16:14). Sementara ketika ditanyai tentang pendapat mereka sendiri tentang Yesus, Simon mewakili teman-temannya menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Yesus meneguhkan jawaban Simon bahwa dia dapat berkata demikian karena telah mendapat pernyataan dari Allah Bapa di sorga (Mat 16:17). Dan kemudian Dia berpesan agar para murid merahasiakan bahwa Dia sebenarnya adalah Mesias (Mat 16:20).
Pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias muncul dari mulut Yesus sendiri saat menjawab pertanyaan Imam Besar Kayafas, apakah Dirinya Mesias atau Anak Allah (Mat 26:63-65). Penegasan Yesus bahwa Dirinya adalah Mesias membuat Dia dianggap menghujat Allah sehingga harus dihukum mati (Mat 26:65-66). Akhirnya Dia memang dieksekusi di kayu salib.
Saat menyaksikan cara Yesus mati di kayu salib, kepala pasukan Romawi yang melihatnya mengakui, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah” (Mark 15:39). Para murid Yesus sendiri baru berani mewartakan bahwa Yesus, Gurunya, sungguh Mesias dan Anak Allah yang hidup, setelah mereka mengalami sendiri berjumpa dengan Yesus yang bangkit dari kematian (bdk. Luk 24; 1 Kor 15:5-8) dan mereka menerima anugerah Roh Kudus (Kis 2:1-11). Khotbah Petrus pada hari Pentakosta, “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus [Mesias]” (Kis 2:36). Dengan demikian iman Kristen akan Yesus Kristus memang merupakan iman apostolik, yakni berdasarkan pewartaan para rasul Yesus yang telah bergaul dan menjadi saksi mata akan peristiwa Yesus (bdk. 1 Yoh 1:1-4). Orang Kristen tidak akan mudah menerima aneka dongeng tentang Yesus, apalagi bila hal itu bertentangan dengan kesaksian iman para rasul Yesus yang telah menjadi saksi mata akan sabda, hidup, dan karya Yesus (bdk. 2Ptr 1:16).
ORANG-ORANG ZELOT MEMBANTAI MEREKA YANG MENGAKUI YESUS SEBAGAI TUHAN ATAU ANAK ALLAH
Adegan selanjutnya dalam film ini adalah akibat pemberitaan para prajurit Romawi, banyak orang percaya bahwa Yesus itu Tuhan atau Anak Allah. Hal ini membuat berang para pemimpin agama Yahudi dan kaum Zelot. Kata orang Zelot, “Yang kita tunggu adalah seorang raja, bukan Anak Allah!” Mereka pun bersepakat bersama dan memutuskan untuk membunuh semua orang yang mengakui Yesus sebagai Tuhan atau Anak Allah. Maka terjadilah situasi chaos, dimana selama 40 hari orang-orang Zelot membantai semua orang yang mengakui Yesus sebagai Tuhan atau Anak Allah. Karena pengakuan ini, membuat banyak orang Yahudi dibantai oleh saudaranya sendiri.
Penggambaran di atas sangatlah berlebihan dan menyesatkan. Pertama, orang-orang Zelot adalah pejuang kemerdekaan Yahudi, jadi musuh mereka hanyalah penjajah Roma, bukan memusuhi apalagi sampai membantai saudara sebangsanya sendiri. Maka masuk akal bila film The Messiah ini dinilai anti-semitis6, juga dengan adegan-adegan yang akan kita lihat berikutnya. Kedua, sebelum Yesus disalibkan, tidak ada pengikut Yesus yang sampai dibunuh. Maka Diakon Stefanus (Kis 7:1-60) kita kenal sebagai martir pertama. Bahkan penyaliban Yesus diartikan Imam Besar Kayafas sebagai cara untuk menyelamatkan seluruh bangsa Israel agar tidak dibinasakan oleh pasukan Romawi (Yoh 11:49-50). Jadi, pertumpahan darah terhadap mereka yang beriman pada Yesus sebenarnya lebih menggambarkan penganiayaan pada Gereja perdana, bukan semasa Yesus masih hidup. Tampak dalam film ini terjadi banyak kekacauan dalam konteks peristiwa dan penokohan, seperti akan kita jumpai dalam bagian-bagian berikutnya.
BENARKAH TESTIMONI “NABI ISA” INI?
Situasi chaos selama 40 hari di atas disebabkan oleh pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan atau Anak Allah. Sementara sebagian mengakui Yesus itu hanya seorang nabi. Maka pihak pemimpin Yahudi dan penjajah Romawi bersepakat mencari solusi damai dengan menanyakan pada Yesus sendiri. Akhirnya rakyat bersama dua rombongan pemimpin itu ramai-ramai mencari Yesus. Setelah bertemu, Kayafas pura-pura berlutut dan menyembah Yesus. Tapi Yesus menolak dan menegur dia dan menegaskan bahwa Dia hanyalah manusia biasa. Kemudian Yesus diminta memberikan penegasan apakah dirinya memang Tuhan atau Anak Allah.
Sekali lagi Yesus menegaskan bahwa dia hanyalah manusia biasa dan menolak aneka anggapan sebagai Tuhan atau Anak Allah. Dan kemudian dia menyatakan penghiburan bagi-Nya, “Penghiburanku adalah akan datangnya seorang nabi yang akan menghancurkan setiap kepalsuan yang dikenakan padaku. Pengajarannya akan tersebar ke seluruh dunia seperti janji Allah kepada Ibrahim. Dan pengajarannya tidak akan berakhir karena Allah sendiri akan melindungi.”
Film The Messiah ini memfokuskan diri pada identitas Yesus, apakah Dia itu sungguh Anak Allah ataukah sekedar nabi. Para pemimpin Yahudi juga menerima hal ini. Sementara dalam kesaksian Injil Kanonik justru para pemimpin Yahudi ini yang menganggap Yesus bukanlah utusan Tuhan, bukan hanya karena Dia melanggar hukum Sabat, mengakui diri sebagai Putra Allah, tetapi juga fakta bahwa kemudian Yesus mati di kayu salib. Kematian Yesus di kayu salib meyakinkan orang Yahudi bahwa Dia bukanlah utusan Tuhan. Sementara identitas apakah Yesus itu Tuhan, Anak Allah, ataukah sekedar nabi; sebenarnya lebih memproyeksikan perbedaan pandangan Kristen dan Islam dalam melihat Yesus. Dan ini jelas sekali tampak dalam testimoni Nabi Isa yang menubuatkan datangnya nabi kemudian yang akan meluruskan kesesatan tentang Yesus. Suatu pernyataan yang sama sekali tidak ada dalam Injil Kanonik.
Sebaliknya, dalam Injil kanonik kita justru mendapati peringatan Yesus sendiri, “Pada waktu itu jika orang berkata kepadamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mukjizat-mukjizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka juga menyesatkan orang-orang pilihan juga” (Mat 24:23-24).
Terhadap bahaya kesesatan yang mungkin akan terjadi di antara para pengikut-Nya, Yesus telah menjanjikan datangnya Roh Kudus, “Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26). Dan yang dijanjikan oleh Yesus ini bukanlah seorang manusia, melainkan Roh Kebenaran, sehingga sanggup menyertai Gereja selama-lamanya (Yoh 14:16-17).
IZIN DARI SENAT KEKAISARAN ROMAWI
Adegan berikutnya Pilatus melaporkan testimoni Yesus dan meminta izin dari Senat Romawi untuk melarang orang mengakui Yesus sebagai Tuhan atau Anak Allah agar tidak terjadi kekacauan lagi di Yudea. Akhirnya Senat Romawi menyetujui proposal Pilatus.
Di atas telah diuraikan bagaimana film ini dari awal melibatkan pemerintah Roma dalam menghadapi gerakan Yesus. Sesuatu yang berlebihan dan tidak berdasarkan fakta sejarah. Di tulisan lain kita bisa melihat kesaksian sejarah Romawi tentang pengikut Yesus dan peristiwa penyaliban-Nya. Namun untuk penyelesaian “masalah intern Yahudi soal doktrin”, tak mungkin pemimpin Yahudi sampai melibatkan pemerintah penjajah Roma. Seperti dijelaskan di atas, Pilatus baru dilibatkan karena hanya dia yang mempunyai wewenang untuk menjatuhkan vonis hukuman mati.
ALASAN DATANGNYA WAHYU TUHAN PADA YESUS
Adegan selanjutnya adalah Nikodemus, salah satu dari pemimpin Yahudi di Yerusalem, mengundang Yesus dan para murid-Nya untuk makan malam bersama. Di sini Yesus menegaskan pada Nikodemus bahwa misi perutusan-Nya bukanlah untuk membatalkan Taurat dan para nabi sebelum-Nya. Yesus memberikan alas an, “Seandainya saja Taurat Musa dan kitab Bapa kita Daud tidak diputarbalikkan dengan tradisi palsu kaum Farisi dan para teolog, Tuhan tidak akan mewahyukan Sabda-Nya kepadaku.” Lalu Yesus mengecam orang-orang Yahudi yang lebih tertarik mendengarkan ajaran kaum Farisi daripada mempelajari Taurat. Demikian pula pembantaian para nabi dan orang saleh dikecamnya. Kendati pemimpin Yahudi membanggakan diri sebagai keturunan Abraham dan pewaris Bait Salomon yang indah, sesungguhnya mereka adalah anak-anak Iblis. Pernyataan-pernyataan tegas-pedas Yesus ini membuat Nikodemus sampai menangis.
Wacana di atas menggarisbawahi antisemitisme dalam film the Messiah ini. Benarkah kedatangan Yesus itu hanya sekedar meluruskan ajaran para nabi yang telah dibengkokkan oleh para pemimpin Yahudi? Dengan demikian bila mereka setia pada Taurat Musa, maka Yesus tidak akan datang? Dari misteri Sejarah Keselamatan yang tertuang dalam Alkitab kita tahu, bagaimana Tuhan sejak awal merencanakan datangnya Sang Penebus atau Penyelamat (Yesus = Yoshua = Allah penyelamat), setelah manusia jatuh dalam dosa (Kej 3:15). Keturunan Hawa itu akan mengalahkan kuasa dosa dan maut. Lebih konkret lagi, Sang Penyelamat itu tak lain adalah Mesias, yang merupakan keturunan Raja Daud (2Sam 7:12-16; Yes 7:14) dan kelak akan lahir di kota Betlehem, tempat dimana dulu Raja Daud tinggal (Mik 5:1; Mat 2:6; Yoh 7:42). Kedatangan Yesus merupakan pemenuhan nubuat para nabi tentang datang-Nya sang Penyelamat yang akan mengokohkan takhta Daud (Luk 1:31-33) dan menebus dosa manusia (Mat 1:21).
5. ttp://www.earlychristianwritings.com/text/infancythomas-c-mrjames.html
6. http://www.philly.com/philly/entertainment/movies/20080404_
Muslim_view_of_Jesus__with_anti-Semitism.html
7. http://www.imankatolik.or.id/film-Mesiah-kontroversi3.html - Bagian III Menyimak Data-data Sejarah tentang Penyaliban Yesus.
ke halaman sebelumnya (1) - ke halaman terakhir (3)