page 2
BAB IV
PEMAHAMAN ULANG MAKNA KEBUNDAAN MARIA
4.1. Maria, bunda Allah dan sekaligus bunda Manusia
Pertama-tama ajaran yang harus diperhatikan adalah ajaran tentang kebundaan ilahi Maria. 'Sebab itu Anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.'73 Maria adalah bunda Anak tersebut. Dalam dirinya berkembanglah janin seorang Anak Manusia yang mulai awal keberadaanNya telah bersatu dengan Sang Sabda, Pribadi kedua dari Trinitas. Anak tersebut, Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia, kodrat manusiawi dan kodrat ilahi bersatu tak terpisahkan dalam kesatuan PribadiNya, tanpa percampuran ataupun pemisahan.74 Oleh sebab itu Maria bukan saja bunda dari Kristus, tetapi juga bunda dari Allah. Jemaat Kristen awali telah menyadari hal ini. Hal ini dibuktikan oleh fragmen papirus dari abad ke-3 yang diketemukan di Mesir yang bertuliskan 'keb awah perlindunganmu aku lari, oh Bunda Allah yang suci'.
Berbagai ajaran menerangkan bahwa Yesus Kristus secara kodrat manusiawinya adalah dikandung oleh seorang bunda manusia. Yesus adalah benar-benar Anak Maria. Sebagaimana seorang bunda yang menyediakan segala-galanya bagi buah kandungannya, yaitu Yesus Kristus. Maria bukan hanya bunda Kristus sebagai manusia, tetapi bunda Yesus Kristus, Pribadi ilahi Sang Sabda. Sang Sabda benar-benar Anak Maria dan Maria adalah bundaNya, sebagaimana seorang bunda adalah bunda dari pribadi utuh anaknya. Allah sebenamya dapat menjelma dalam orang dewasa, tetapi Allah tidak melakukannya. la memilih masuk ke dunia melalui jalan biologis biasa, mulai dari tahap awal embrio manusia.75
Setiap orang memperoleh jati dirinya dari saat dikandung oleh bundanya. Sebuah apel misalnya adalah hasil dari aktifitas pembuahan pohon apel. Pohon apel memberi kehidupan pada buahnya untuk waktu yang cukup lama, sampai buah itu masak dan dapat lepas dari pohonnya. Tetapi hubungan manusia dengan bundanya jauh lebih erat danpada buah dengan pohonnya. Menurut ajaran Gereja, sebagai buah, seorang anak manusia secara erat terkait dengan aktifitas perkembangan dalam diri bundanya, tetapi sebagai pribadi, manusia tidak seutuhnya adalah hasil dari proses pembuahan karena jiwa abadi manusia berasal langsung dari Allah. Aktifitas perkembangan dalam diri bundanya mempersiapkan suatu tubuh, di mana Allah kemudian menghembuskan nafas ilahiNya ke dalamnya. Proses ini terjadi pada fase paling awal dari kehidupan. Namun meski demikian, seorang bunda memberikan hidup bukan hanya kepada buah tetapi juga kepada sebuah pribadi. Dia adalah bunda dari sebuah pribadi, yang terdiri dari tubuh dan jiwa.
Dalam tubuh bunda yang terjadi adalah proses pembentukan menjadi manusia.76 Dalam tubuh Maria, kemanusiaan dan keilahian menjadi satul.77 Pribadi Yesus bukanlah pribadi manusia belaka, dan juga bukan pribadi Sang Sabda belaka. Pribadi Yesus adalah pribadi manusia dan pribadi Sang Sabda Abadi yang bersatu secara hipostasis. Di sinilah arti proses perwujudan menjadi manusia tersebut dan proses ini berlangsung dalam kandungan Maria.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa Yesus Kristus adalah 'Manusia yang menjadi Allah' sebagaimana istilah yang sering digunakan oleh para Bapa Gereja Yunani. Dan pada saat yang sama, dapat dikatakan Yesus Kristus adalah 'Allah yang menjadi Manusia' yang merupakan terjemahan yang lebih tepat dari nama 'Emanuel'.78 Oleh sebab itu, gereja mengajarkan bahwa Allah menjelmakan diriNya dalam diri Yesus Kristus. Dalam kaitannya dengan ajaran ini, Scheeben, seorang teolog Jerman abad lalu, menulis dengan jelas bahwa kebundaan Maria memberikan kehidupan kepada seorang Manusia yang benar-benar Allah yang sejati.79 Maria tepat disebut sebagai bunda seorang Manusia yang pada saat yang sama adalah Allah karena aktifitas dalam rahimnya menyentuh secara langsung dan segera, bahkan hampir secara eksklusif, kemanusiaan dalam diri Kristus.80 Oleh sebab itu, untuk menghindari kebingungan, maka dapat segera dikatakan bahwa hasil langsung dari aktifitas pengandungan Maria adalah Allah Manusia. Inilah dasar mengapa Maria disebut Bunda Allah.
Atas dasar pernyataan tersebut di atas, tidaklah tepat mengatakan bahwa Maria pertama-tama mengandung hakekat manusiawi Kristus sebagai benar-benar manusia, dan berikutnya mengandung hakekat Allah Manusia. Allah Manusia yang dikandung Maria dari awal mula adalah ilahi. Aktifitas dalam diri Maria mempunyai hanya satu tujuan akhir, yaitu seorang Manusia yang pada saat yang sama adalah Sang Sabda.
Dasar penetapan81 bahwa Maria adalah Bunda Allah 82 tersebut cukup sederhana, seorang bunda duniawi bukanlah hanya bunda bagi fisik atau bagi kodrat manusiawi anaknya, tetapi juga bagi pribadi aktual yang ada dalam tubuh fisik tersebut, meskipun Allah turut campur secara langsung dalam penciptaan jiwa tersebut. Maria bukanlah bunda dari tubuh fisik Kristus, tetapi juga bunda dari pribadi yang ada dalam tubuh tersebut, pribadi yang ilahi, Sang Sabda Allah. Maria juga bukan bunda dari seorang manusia yang akan bersatu dengan Allah, tetapi bunda dari seorang manusia yang dari awal pengandungannya adalah Pribadi Allah. Oleh sebab itu Maria bukanlah bunda melalui campur tangan Allah tetapi ia adalah bunda Allah. Tetapi yang harus diingat adalah bahwa Maria bukan Allah meski ia adalah Bunda Allah, dan ia bukanlah orang yang memberikan pribadi ilahi pada Yesus Kristus, Anaknya, karena Kristus adalah Allah sendiri dari abadi.
4.2. Maria, bunda yang dipilih oleh Puteranya
Kebundaan ilahi Maria menunjukkan bahwa ia telah dipilih oleh Puteranya dari kekal.83 Hal ini memang terkesan aneh dan unik. Ketika Allah memutuskan untuk menjadi manusia, sebagai Tuhan atas sejarah dan Penyelamat dunia, Ia telah memilih waktu kedatanganNya, wilayah tempat Ia akan dilahirkan, kota di mana la akan dibesarkan, latar belakang bangsa, ras, politik dan ekonomis yang akan la hayati dan bahasa yang akan la ucapkan serta kondisi psikologis yang akan la hidupi.
Semua detil tersebut sangat bergantung pada satu faktor, yaitu siapa wanita yang akan menjadi bundaNya. Dalam memilih seorang bunda, la akan melihat posisi sosial, bahasa, kampung halaman, lingkungan, generasi dan martabat orang yang akan dipilihNya. BundaNya bukan seperti perempuan-perempuan lain yang telah ditetapkan dari semula, harus diterima dan tidak dapat digantikan oleh anaknya. Putera Allah lahir dari perempuan yang la pilih sendiri sebelum la dilahirkan olehnya.84
Pemilihan tersebut juga menunjukkan suatu pertukaran yang mengagumkan. Maria memberikan kepada Sang Sabda kodrat manusiawinya. Kristus, Sang Manusia, hadir dalam citra dan keserupaan Maria; tubuhNya mencerminkan diri Maria, senyumNya, gerakan tubuhNya dan pembawaanNya, aksen dan intonasi suaraNya mengingatkan akan bundaNya. Marialah yang mengajari Dia berbicara dan memperkenalkan la kepada tata upacara agama mereka, doa, pembacaan hukum Taurat, budaya, dan kebiasaan para leluhurNya. Marialah yang menuntun Dia mengenal seribu satu detil-detil kehidupan dan bagaimana cara berperilaku. Marialah yang mengajari Dia segala yang juga dipelajari oleh anak-anak di rumah, meskipun tanpa disadari olehnya.
Tetapi apa yang Maria terima dari Puteranya adalah jauh lebih tinggi nilainya, bahkan tidak temilai. Yang pertama adalah bahwa Puteranya adalah Pencipta dirinya. Puteranya adalah Pencipta segala yang ada, termasuk juga diri Maria. Karena kemanusiaan yang la terima dari Maria dan karena hubunganNya dengan bundaNya, maka la dan Maria dapat bersama-sama berkata: Apa yang aku miliki adalah milikmu dan apa yang milikMu adalah milikku. Pada saat Maria memberikan kemanusiaannya kepada Puteranya, Puteranya memasukkan Maria ke dalam kehidupan ilahiNya.85 Ketika Maria mendidik Puteranya menurut kehendaknya, Puteranya menanamkan dalam jiwanya keilahianNya. Ketika Maria memberikan kepada Puteranya kehidupan yang mortal, la menciptakan dalam diri Maria suatu sumber air kehidupan yang mengalir sampai akhir jaman.
4.3. Maria, bunda yang perawan
Maria tetap perawan, bukan hanya setelah melahirkan Kristus, tetapi juga saat melahirkan Dia. Keperawanan pada saat melahirkan merupakan karunia saat ia dipilih olehNya. Dia menginginkan bahwa bundaNya bahagia, maka kemuliaan kebundaan ilahi ditambahkan kepada keperawanan Maria. Maria menyadari kebahagiaannya karena telah melahirkan Puteranya, namun ia sadar bahwa misteri sedang digenapi.
Agar dapat memahami dengan baik tentang campur tangan ilahi ini, kebundaan perawan yang dimiliki oleh Maria ini dapat dikaitkan dengan misteri yang lain tentang tubuh Maria, yaitu misteri pengangkatannya ke surga. Kasih ilahi yang sama yang mengecualikan dia dari kebusukan tubuh dalam makam menghindarkan dia dari kesakitan saat melahirkan. Ini merupakan bukti cinta Allah pada Maria. Dengan keilahian Putera pada Maria, Maria tidak kehilangan keperawanannya, malahan Puteranya tesebut menguduskan keperawanannya. Oleh sebab itu iman akan Bunda Perawan dan iman akan Allah Manusia sangat erat terkait. Dengan mengatakan bahwa Maria adalah Bunda Allah, dikatakan pula bahwa Kristus adalah benar-benar manusia. Dengan mengatakan bahwa Kristus adalah Allah, dinyatakan pula keperawanan Maria.
Gereja mengajarkan bahwa Maria tetap perawan, sebelum, saat dan setelah melahirkan Puteranya.86 Ajaran ini juga mengajarkan bahwa Maria tidak memiliki anak-anak lain setelah kelahiran Penebus.87 Hal ini tidak bertentangan dengan ungkapan 'saudara-saudara Tuhan' yang sering muncul dalam Injil. Dalam bahasa Ibrani dan Aram, kata 'saudara' digunakan dengan makna yang luas, dan mencakup pula 'sepupu' bahkan 'keponakan'.88 Yesus sendiri menggunakan kata 'saudara' dalam makna yang luas: 'Hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara'.89 Dan di tempat yang lain, Markus dan Matius menyebutkan Yakobus dan Yoses, saudara-saudara Yesus,90 dan pada perikop yang lain dikatakan bahwa mereka adalah anak-anak dari Maria yang lain, yang berbeda dari Maria, bunda Yesus.91
Penjelasan lain yang dapat diberikan tentang keperawanan Maria sebelum, saat dan sesudah melahirkan adalah peristiwa saat Yesus akan wafat di salib. Jika Yesus mempunyai saudara-saudara kandung, maka wajarlah la akan menyerahkan bundaNya kepada mereka, dan bukan kepada murid yang dikasihiNya. Kenyataan menunjukkan bahwa la tidak menyerahkan bundanya kepada Yakobus dan Yoses,92 yang disebut-sebut sebagai saudaraNya, tetapi kepada murid yang dikasihiNya, yang bukan anggota keluargaNya. Kisah ini menunjukkan dengan jelas bahwa Maria tidak mempunyai anak yang lain selain Yesus.
4.4. Maria, bunda yang beriman pada Puteranya
Kemuliaan Maria bukanlah pertama-tama berasal dari fungsi tubuhnya yang juga dimiliki oleh setiap bunda lainnya; bukan hubungan darahnya dengan Yesus saja yang membuat ia begitu agung. 93 Tetapi relasi iman batiniah antara Maria dan Yesuslah yang lebih utama. Yesus berkata: 'Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya'. Dan ketika seorang perempuan berteriak dari antara orang banyak: 'Berbahagialah ia yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau', 95 Yesus menjawab dengan nada yang sama. Maria bukan menjadi bunda Yesus pertama-tama karena tubuhnya tetapi karena imannya. Maria mengandung Kristus dalam hatinya sebelum ia mengandungNya dalam tubuhnya. 96
4.5. Maria, bunda yang bersatu dengan Puteranya
Persatuan antara Bunda dan Putera melebihi apa yang tampak. Seorang bunda yang biasa meski ia melahirkan anaknya, tetapi ia tidak selalu berpartisipasi dalam karir anaknya. Dia hanya meletakkan dasar bagi karir anaknya tersebut dan tidak selalu terlibat di dalamnya, karir tersebut dikembangkan oleh anaknya sendiri terpisah dari bundanya. Hal yang berbeda dialami oleh Maria. Karena kebundaannya, ia terlibat dalam karya penebusan, sebagaimana inkarnasi yang merupakan awal dari karya penebusan tersebut. Ia bukanlah seorang bunda dari seorang anak yang mungkin akan menjadi penyelamat dan penebus. Anaknya lahir sebagai Penebus dan Penyelamat dunia.97 Para Bapa Gereja Yunani menekankan fakta bahwa penyelamatan dunia telah terkandung dalam keilahian Yesus Kristus. Dari awal mengandung Yesus, Maria telah mengarah pada kebundaan dahi, dan pada saat yang sama dia mengarah pada Kalvari. Karena Anaknya, Anak Allah, menjelma dalam dirinya untuk mati di salib. Para malaikat yang bemyanyi di padang saat kelahiranNya telah menyebutNya Penebus, Tuhan dan Mesias.98 Inilah sebabnya Maria sejak dari awal penjelmaan adalah Bunda Allah, karena ia melahirkan Sang Penebus ke dalam dunia ini.
Karena Yesus lahir sebagai Penyelamat, maka sudah sewajamya Mariapun hadir di dunia ini demi menjadi Bunda Penyelamat. Keilahian kebundaannya bukanlah suatu kebetulan, tetapi merupakan tujuan keberadaannya. Kebundaannya hanya untuk melahirkan Puteranya dan hidup bagi Dia. Pada diri Maria, ungkapan Paulus: "Bagiku hidup adalah Kristus"99 adalah benar secara sempurna. Kehadiran Maria, misi dan hidupnya hanyalah untuk Sang Putera.
4.6. Maria, bunda yang historis
Berdasarkan studi historis kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya Palestina abad pertama dapat diketahui banyak hal tentang kehidupan historis Yesus dan juga Maria. Imajinasi religius yang diterangi oleh Kitab Suci dapat membentuk simbol Maria dengan kesadaran historis yang lebih konkrit, yaitu sebagai seorang bunda keturunan Yahudi, hidup di desa dan beriman.
Sebagai orang Yahudi, Maria mewarisi iman yang berasal dari Abraham dan Sara, suatu iman yang percaya pada satu Allah yang hidup, Allah yang mau mendengar jeritan kaum miskin dan yang mau membebaskan orang yang terbelenggu, Allah yang mau membuat perjanjian dengan umatNya.100 Kenyataan bahwa Yesus memiliki pengetahuan agama yang luar biasa dan melakukan praktek iman YahudiNya secara benar menunjukkan bahwa Maria dan suaminya, Yosep, benar-benar menghayati dan mempraktekkan agama mereka di rumah mereka. Mereka sekeluarga mentaati hukum Taurat, merayakan sabat dan hari raya Yahudi, berdoa, menyalakan lilin dan pergi ke sinagoga secara rutin, sesuai dengan kebiasaan di Galilea.
Lukas menggambarkan Maria di masa tuanya sebagai anggota komunitas Yerusalem awali, yang berdoa bersama 120 orang laki-laki dan perempuan sebelum kedatangan Roh Kudus pada Pantekosta.101 Keikutsertaannya dalam komunitas tersebut, bersama dengan saksi utama kebangkitan, Maria Magdalena, dan bersama perempuan-perempuan lain, menunjukkan rasa solidaritas Maria terhadap murid-murid dari Puteranya. Dalam cahaya kepercayaan dan kebangkitan Yesus, kelompok ini percaya bahwa Mesias telah datang. Keyakinan ini tidak membuat mereka meninggalkan praktek keagamaan mereka. Mereka tetap melakukan ibadat mereka di Bait Suci dan mewartakan kabar gembira ini kepada teman-teman Yahudi mereka, sebelum akhimya mewartakan kabar gembira tersebut kepada bangsa-bangsa lain. Sebelum ada pemisahan antara sinagoga dan Gereja, Maria adalah seorang penganut agama Yahudi yang menjadi pengikut Yesus.
Maria adalah seorang bunda desa. Maria tinggal di desa yang dihuni oleh orang-orang sederhana, bekerja di kebun, dan tukang (tukang kayu ataupun tukang batu) yang melayani kebutuhan mendasar mereka. Maria menikah dengan seorang tukang kayu102 lokal.103 Dia menjadi seorang ibu rumah tangga. Setiap harinya ia mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan telaten. Maria mungkin buta huruf sebagaimana para perempuan pada saat itu. Melihat kondisi hidup Maria, dapat diketahui bahwa status ekonomi keluarganya cukup rendah, apalagi mereka mendapat beban berbagai jenis pajak. Karena Maria dan keluarganya hidup di daerah konflik maka suasana ketegangan di desa cukup terasa; kekerasan dan kemiskinan merajalela.
Maria adalah seorang bunda yang beriman. Kenyataan hidupnya sebagai perempuan Yahudi yang saleh dan sederhana merupakan latar belakang bahwa Maria adalah perempuan yang beriman yang berjalan menurut kehendak Bapa. Maria adalah perempuan yang berjalan menembus kegelapan menurut imannya dan bukan menurut penglihatannya. Ia tetap memegang imannya ketika kesedihan menusuk hatinya.
Kisah tentang masa kanak-kanak Yesus yang ditulis oleh Lukas memberikan pengetahuan tentang posisi kerjasama Allah dengan Maria dalam menghadirkan perjanjian tersebut dalam sejarah manusia. Meski kisah tersebut bukan secara khusus dimaksudkan untuk menceritakan kisah hidup Maria, namun kisah tersebut mencerminkan runtutan sejarah dalam kehidupan Maria.
4.7. Maria, bunda yang tercermin pada Puteranya
Pengetahuan tentang Maria tidak banyak ditulis dalam kitab suci Perjanjian Baru. Meskipun demikian, kehadirannya dalam Injil sangat terasa, gambarannya bersembunyi di balik bayangan gambaran Puteranya. Oleh sebab itu melalui deduksi dan intuisi, gambaran Maria sebagai pribadi dan personalitas dapat disusun.
Sumber untuk merekonstruksi gambaran Maria adalah Puteranya. Semua manusia adalah hasil dari kombinasi unsur-unsur genetis dari kedua orang tuanya. Karakter psikologis dan fisik diturunkan dari kedua orang tua kepada anak-anaknya melalui kode-kode genetis, yang disebut kromosom. Yesus sebagai manusia tidak mempunyai ayah genetis. Dengan demikian ia mendapat kode genetisnya hanya dari bundaNya. Konsekuensinya adalah ada kemiripan yang besar antara sang bunda dengan Sang Putera.104 Cara bersikap dan berperilaku Maria dan Yesus pastilah mirip. Hal ini tampak sekali dalam kitab suci. Untuk melihat satu-satunya sumber yang dapat dilihat adalah Yesus.
Ada aspek lain yang menarik juga dalam Injil yang memberi informasi tentang siapa sang bunda dan bagaimanakah ia. Pada tempat yang pertama, Yesus adalah Dia yang dikirim, Dia yang sebelum menyampaikan ajaran-ajaran tentang kesucian, menghayatinya sendiri. Pada tempat yang kedua, Yesus adalah Sang Putera, yang sejak bayinya diawasi dan dididik oleh bundaNya yang memiliki kemanusiaan sempurna - kerendahan hati, kesabaran, ketabahan, yang sama dengan yang diungkapkan oleh Yesus dalam kotbahNya di bukit. Setiap kali Maria tampil dalam Injil, Maria selalu menampakkan karakterisik yang digambarkan dalam Kotbah di Bukit kesabaran, kerendahan hati, ketabahan, kedamaian, lemah lembut dan mengampuni.
Dalam kisah-kisah Injil dapat ditemukan kesamaan antara spiritualitas Yesus dan spiritualitas Maria. Pada saat Maria harus memutuskan sesuatu yang amat penting, yaitu apakah ia mau menerima kehendak Allah padanya, ia berkata 'Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.'105 Ketika tiba saatnya Yesus harus memutuskan nasib hidupnya dan nasib keselamatan dunia, ia mengatakan hal yang mirip 'Bukan menurut kehendakKu, tetapi menurut kehendakMu.'106 Dua ucapan tersebut menunjukkan adanya spiritualitas yang sama yang merasuk ke dalam seluruh hidup dan berpuncak pada kesadaran diri sebagai hamba Yahweh. Demikian pula ketika Maria mengungkapkan identitas spiritualnya di hadapan Allah, ia berkata ' Aku tni hamba Tuhan.'107 Yesus, saat mengajukan diriNya sebagai model teladan murid-muridNya, berkata 'Aku lemah lembut dan rendah hati.'108 Menurut banyak ahli dua ungkapan spiritualitas ini memiliki arti yang sama, yaitu spiritualitas hamba Yahweh. Bukti yang lain adalah bahwa Maria dalam kidung ' Magnificat'nya menyerukan bahwa Allah menurunkan orang yang berkuasa dan mengangkat yang hina dina,109 Yesus juga mengatakan 'Yang tinggi akan direndahkan dan yang rendah akan ditinggikan.' Dari kesamaan-kesamaan yang dijumpai dalam Injil ini, dapat disimpulkan bahwa Maria memiliki pengaruh yang besar pada hidup dan spiritualitas Yesus; Injil memandang Maria sebagai sumber inspirasi; ia mungkin pengajar yang baik, ia tidak banyak berbicara tetapi melalui penghayatan hidupnya ia mengajar anaknya semenjak bayi. Injil merupakan gema dari jauh tentang hidup Maria. 110
4.8. Maria, bunda Allah Putera yang adalah juga bunda Gereja
Pada saat Yesus tergantung pada kayu salib, bunda Yesus berdiri di bawah salib. Ia tidak berdiri diam di bawah salib; dia bukan pengamat pasif yang menangisi kematian Puteranya, seperti tampak pada gambar-gambar kudus. Ada hubungan baru yang ditetapkan di bawah kayu salib tersebut, suatu hubungan yang berasal dari hubungan antara bunda dan Puteranya, dan hubungan ini berlanjut dengan diterimanya sang bunda di rumah sang murid. Hubungan yang ditetapkan antara dua figur tersebut, sang bunda dan sang murid, berlanjut dengan diterimanya sang bunda di rumah sang murid. Hubungan yang ditetapkan tersebut adalah hubungan antara ibu dengan putera dan hubungan antara putera dengan ibu. Bunda Yesus telah menjadi bunda sang murid.111
Hubungan yang baru ditetapkan tersebut, sebagaimana telah dibahas di atas, adalah hasil dari perintah Yesus Kristus kepada bundaNya dan kepada muridNya, suatu perintah yang dibuatNya atas nama Allah. Dengan demikian perintah tersebut dapat dipandang sebagai suatu bentuk pewahyuan. Inti pewahyuan tersebut adalah bahwa 'mulai saat itu murid itu menerima dia di rumahnya.'112 Kata 'rumahnya' ini diartikan dari kata 'eis ta idid. Biasanya frasa 'eis ta idid' ini sering diartikan sebagai 'rumahnya', tetapi sebenarnya frasa 'ta idid' mempunyai arti yang lain. Frasa ini digunakan dalam ayat lain (Yoh 1:11) yang berbunyi 'Ia datang kepada milikNya ('ta idia), tetapi milikNya itu menolak Dia.' Dengan menerapkan arti yang baru ini ayat Yoh 19:27 berbunyi 'mulai saat itu murid itu menerima dia dalam milikNya'. Maria diterima dalam milik Yesus, yaitu kelompok para muridNya.
Dengan menggabungkan konsep hubungan antara sang bunda dan sang murid serta konsep pewahyuan Yesus kepada sang bunda dan sang murid, dapat ditarik pemahaman bahwa posisi Maria dalam kelompok para murid Yesus adalah istimewa. Posisi Maria bukanlah sebagai salah seorang dari para anggota kelompok murid Yesus, juga bukan sebagai seorang saudari, tetapi sebagai seorang bunda. la menjadi bunda kelompok tersebut; ia menjadi bunda Gereja.113 Dengan menjadi bunda Gereja, Maria menjadi bunda bagi semua orang beriman, baik mereka yang masih hidup dalam dunia ini, mereka yang ada di api pencucian dan juga mereka yang telah jaya dalam surga.
BAB V
REFLEKSI: SIAPA MARIA BAGI KITA
Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia. Hanya satu pribadi yang memiliki kedua kodrat itu Putera Allah. Kristus bukanlah pribadi rangkap. Itulah sebab umat Katolik menyembah kemanusiaan maupun keilahian dalam diri Yesus, karena kedua-duanya milik Sabda Allah, bersumber pada satu asas ke-aku-an. Itulah sebabnya kita menyembah Tuhan Kristus, Darah Kristus dan Hati Yesus. Inilah dasar tradisi Gereja yang mengungkapkan Maria sebagai Bunda Allah.
Gereja menjunjung tinggi tradisi menyebut Maria sebagai bunda Allah sebab sebutan itu menjaga misteri sentral kepercayaan Kristen. Penjelmaan Allah, Yesus adalah Putera Allah, dan dengan demikian sehakikat ilahi dengan Bapa dan Roh Kudus. Akan tetapi, Ia juga sepenuhnya manusia karena lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat'.114 Maka dari itu, Maria adalah bunda Dia yang adalah Allah dan juga manusia. Dengan menyebut Maria sebagai bunda Allah, orang-orang Kristen menyatakan baik keallahanNya sebagai Putera Allah maupun kemanusiaanNya sebagai Putera Maria. Selama pertumbuhan Yesus menjadi manusia dewasa, Maria memelihara dan menjagaiNya, mengajariNya belas kasih dan cinta kasih, dan menyampaikan kearifan dan keutamaannya sendiri. Mereka yang membantu membentuk watak Yesus - yaitu: Maria dan Yosep - dalam arti tertentu 'membentuk' pewahyuan Allah kepada dunia.
Maria rupanya tidak hadir dalam peristiwa Yesus dielu-elukan di Yerusalem, tetapi dalam persembahan kurban salib. Pada waktu datang di dunia ini, Yesus Kristus telah mempersembahkan diriNya kepada Bapa di atas tanganNya; maka dari itu, bersama Maria di dekat tiang gantunganNya; bersama Maria di dekatNya, Ia berkehendak menyelesaikan kurban diriNya. Maria pun telah mendaki lereng bukit Kalvari. Sekarang ia tahu bahwa saatnya sudah tiba, saat bagi Putera dan saat bagi bunda. Ia berdiri dengan setia di sampingnya, Maria menderita kesedihan yang amat sangat sebagai bunda yang terpaksa menyaksikan Putera satu-satunya mati secara menyeramkan. Seperti halnya di Kana di mana Maria menghadiri perjamuan pesta, di sinipun Maria menghadiri perjamuan pesta darah Allah yang menjadi Manusia dengan umatNya. Akan tetapi, penderitaan itu tidaklah tanpa buah. Sengsaranya dipersatukan dalam sengsara Puteranya, Sang Penyelamat, dan dengan demikian dunia ditebus.
Sebagai pertolongan orang Kristen, bantuan terbesar oleh Maria ialah menunjukkan cara menyambut Kabar Baik Keselamatan dan cara hidup sebagai orang Kristen sepenuhnya menurut Roh Puteranya. Maria sungguh satu dari antara kita. Sebagai orang yang ditebus, ia pun juga harus hidup menurut iman. Ia mengenal kesukaran dan kesedihan, kegembiraan dan kedamaian. Segalanya tidak selalu jelas baginya dan ia harus merenungkan jalan-jalan Allah yang gaib dalam hatinya. Kadang ia tidak paham dan perlu diberi pemahaman baru oleh Puteranya. Imannya, meskipun tidak pemah menjadi lemah oleh dosa, tidak ubahnya sepertinya iman kita - berserah diri kepada Allah pada waktu jalannya gelap dan penuh kesusahan. Maria tidak hanya murid pertama Yesus tetapi ia juga rasul pertama Yesus. Maria adalah orang yang pertama-tama memperlihatkan Mesias kepada para gembala Yahudi ketika mereka datang berkunjung pada malam Natal. Pada waktu Pentekosta, Maria juga menerima Roh Kudus bersama-sama dengan murid-murid yang lain.
Maria adalah bunda umat manusia seperti yang dikehendaki oleh Yesus sendiri. 'Inilah bundamu!' kata Yesus dari atas salib di puncak Golgota kepada Yohanes yang mewakili seluruh bangsa manusia. Dan kita adalah anak-anak Maria seperti dikatakan juga oleh Yesus sebelumnya kepada Yohanes itu: 'Bunda, inilah anakmu!' Yesus tidak memonopoli bundaNya yang sangat baik itu untuk diriNya sendiri. Oleh karena besar kasihNya kepada umat manusia, Ia memberikan bundaNya menjadi bunda kita. Memang sebenarnya Maria menjadi bunda semua manusia, bukan baru sejak hari Jumat Agung itu, melainkan sudah sejak hari penjelmaan. Tidak mungkin Maria mengandung Kepala Tubuh Mistik Kristus tanpa anggota-anggotaNya.
Maria ada di antara mereka yang menantikan dan menerima Roh Kudus. Sejak kenaikan Tuhan Yesus, para murid berkumpul di sekeliling Maria dan Petrus, mereka berdiam diri dan berdoa. Dan kemudian datanglah Sang Penolong dan Pengibur atas mereka. Ia sungguh-sungguh tampak sebagai bunda Gereja. Gereja tidak lahir tanpa dia. Maria berdiam diri dan menjaga diri karena Petruslah yang telah menerima pucuk pimpinan dan kekuasaan, tetapi tidaklah kurang pentingnya peranan Maria dalam mewujudkan perutusannya di dunia. Maria tidak menggantikan atau menggeser mereka yang oleh Sang Penyelamat sendiri telah diserahi pekerjaan merasul dan yang akan menyebar sampai ke semua penjuru dunia. Maria tidak campur tangan dalam peran yang bukan perannya. Tetapi ia mengemban karunia-karunia yang lebih luhur dan karismanya, dalam menggerakkan Gereja itu, adalah cinta kasih. Tugasnya ialah berdoa, mendampingi mereka yang akan berjuang menundukkan jiwa-jiwa dan bangsa-bangsa bagi Yesus.
Maria menjadi bunda pengharapan orang berdosa, menjadi bunda pengungsian orang berdosa.115 Ia adalah pengharapan dan pengungsian yang aman dan pasti bagi orang berdosa yang berlindung kepadanya terhadap Hakim yang Maha Adil sekalipun. Dialah yang diperlambangkan ketika Tuhan menyuruh Yosua mendirikan kota-kota pengungsian bagi anak-anak Israel dan juga bagi orang-orang asing. Maria mempunyai peranan yang serupa dengan kota itu. Memang ia tidak dapat mencegah Hakim yang Adil menjatuhkan putusanNya atas dosa-dosa kita karena belas kasih tak terbatas dan keadilan tak terbatas tidak dapat bertentangan. Namun, Sang bunda dapat berkata kepada AnakNya seperti Nabi Yeremia: 'Ingatlah bahwa aku telah berdiri di hadapanMu dan telah berbicara membela mereka, supaya amarahMu disurutkan dari mereka.'116
Bapa Suci di Roma mengajak semua orang Katolik untuk makin menggalakkan kebaktian kepada Maria karena peranannya: ' Melalui penghormatan-penghormatan kepada Bunda Allah, kebaktian kepada Maria menghendaki agar Putera dikenal, dicintai, dan dimuliakan dengan tepat.' Namnn, kebaktian kepada Santa Perawan Maria harus merupakan kebaktian yang benar. Menurut Santo Louis Marie Grignion, kebaktian kepada Bunda Perawan Maria yang benar harus selalu bersifat batiniah (berangkat dari Roh dan hati); lembut-mesra (yaitu penuh dengan kepercayaan seperti anak kepada bundanya); suci (yaitu menghindari dosa dan meneladan Perawan yang Sangat Suci); tetap (memperkokoh jiwa dalam kebaikan dan menyemangati jiwa untuk tidak begitu saja meninggalkan kebaktiannya); tanpa pamrih (yaitu: mengilhami jiwa untuk sama sekali tidak mencari kepentingan diri sendiri melainkan Allah saja, dalam BundaNya yang suci).
BAB V
PENUTUP
Umat Katolik Indonesia yang dikenal sangat berdevosi kepada bunda Maria, bahkan cenderung lebih menekankan devosi daripada liturgi seringkali lupa bahwa dalam berdevosi kepada Maria, mereka tidak boleh lepas dari Yesus Kristus. Pengantaraan Maria tidak dapat berdiri sendiri dan lepas dari Puteranya, ia adalah pengantara karena ia adalah Bunda Allah. Devosi yang benar harus sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Konsili Vatikan II, yaitu dengan menempatkan Maria bukan di atas Gereja ataupun di luar Gereja, tetapi di dalam Gereja.
Dari hasil studi atas kisah Maria dalam Injil dan juga dalam tradisi ajaran Gereja, maka dapat disusun gambaran baru mengenai diri Maria. Gambaran tersebut memuat citra Maria sebagai bunda Allah dan sekaligus bunda Manusia, bunda yang dipilih oleh Puteranya, bunda yang perawan, bunda yang beriman pada Puteranya, bunda yang bersatu dengan Puteranya, bunda yang historis, dan bunda yang tercermin pada Puteranya.
Sebagai pertolongan orang Kristen, bantuan terbesar oleh Maria ialah menunjukkan cara menyambut kabar baik keselamatan dan cara hidup sebagai orang Kristen sepenuhnya menurut Roh Puteranya. Maria adalah juga bunda umat manusia seperti yang dikehendaki oleh Yesus sendiri. Yesus tidak memonopoli bundaNya yang sangat baik itu untuk diriNya sendiri. Oleh karena besar kasihNya kepada umat manusia, Ia memberikan bundaNya menjadi bunda kita. Maria adalah juga bunda Gereja; Gereja tidak lahir tanpa dia. Maria juga menjadi bunda pengharapan orang berdosa, menjadi pengungsian orang berdosa. Sang Bunda dapat berkata kepada AnakNya seperti Nabi Yeremia: Ingatlah bahwa aku telah berdiri di hadapanMu dan telah berbicara membela mereka, supaya amarahMu disurutkan dari mereka'.
===================================================
DAFTAR PUSTAKA
Dokumen Gereja
CATATAN AKHIR
1 Istilah Bunda Maria dengan huruf B dan M besar menunjukkan gelar, sedangkan bunda dengan huruf b kecil menunjukkan makna ibu.
2 Devosi kepada Maria telah dimulai sejak akhir abad pertama. Figur yang menampakkan Maria bersama bayi Yesus sudah ada tahun 150, yaitu di katakombe Priscilla di Roma. Bdk. Maurice Hamington, 1995, Hail Mary: The Struggle forUltimate Womanhood in Catholicism, New York : Routledge, hal. 14.
3 Sejarah Gereja menunjukan bahwa pernah ada suatu aliran Kristen (Collyridias) yang lebih memuja Maria daripada Yesus.Harrington, 1995, hal. 11.
4 Maria juga bukan gambaran maternal (Kebundaan) Mari dari Allah; Maria bukan merupakan wajah feminim Allah. Bdk. Elizabeth A Johnson, 2000, Mary. Friend of God and Prophet: A Critical Reading of the Marian Tradition , dalam Theology Digest. Vol:47 No:4. St Louis : A Publication of Saint Louis University .
5 Ada tiga hal yang melatarbelakangi keyakinan Gereja akan Yesus sebagai Pengantara satu-satunya antara Allah dan Manusia. Yang pertama adalah misteri inkarnasi di mana Ia merupakan persatuan sempurna antara dua ujung ekstrem, yaitu Allah di satu pihak dan manusia di pihak yang kin. Yang kedua adalah karya penebusanNya di atas salib yang memperlihatkan pengorbananNya yang memulihkan hubungan Allah dengan manusia. Yang ketiga adalah aplikasi penebusan Yesus Kristus pada umat manusia. Bdk. A. Eddy Kristiyanto, 1987, Maria dalam Gereja, Yogyakarta : Kanisius, hal. 69.
6 Bdk. Kristiyanto, hal. 70.
7 Pandangan Maria sebagai Theotokos telah berkembang jauh sebelum Konsili Efesus, khususnya dalam Gereja Timur. Beberapa ahli Protestan menganggap bahwa konsep Theotokos berkembang dari mitos Magna Mater dengan nama Kotys, Cybele atau rhea, yang berkembang dari Thrace sampai Asia . Pemujaan Maria sebagai Theotokos menjadi pengganti pemujaan terhadap Rhea, bunda para dewa, terhadap Demeta, bunda ilahi dari semua, terhadap Persephone, bunda Eubouleus, dan tehadap isis, bunda ilahi yang agung. Bdk. Vasiliki Limberis, 1994, Divine Heiress: The Virgin Mary and The Creation of Christian Constantinople, London : Routledge, hal. 133-136.
8 Salah satu lagu pujian kepada Maria dalam bahasa Jawa berjudul 'Nderek Dewi Maria' (Ikut Dewi Maria) yang dimuat dalam buku ibadat Kidung Adhi.
9 Dalam kepercayaan Kong Hu Cu, dewi Kwan Im juga diyakini menampakkan diri kepada manusia dan selalu memberi perhatian kepada mereka yang sedang berkesusahan. Peran-peran dewi Kwan Im memang mirip dengan peran-peran Maria dalam hubungannya dengan manusia. Bdk. Wisnu Prakasa, Dewi Kwan Im di Pulau Galang, goldenmother.org
10 Bdk. Panitia Kehidupan Doa FIC, 1987, Maria: Pemikiran-pemikiran Mengenai Maria dan Doa-doa kepada Bunda Kita, Yogyakarta : Kanisius, hal.10.
11 Panduan tentang tanda prinsip negatif dan tanda positif dar devosi otentik kepada Maria dapat dilihat dalam penjelasan Petrus Maria. Handoko, 2003, Santa Perawan Maria, Bunda Allah dalam Misteri Kristus dan Gereja, Malang : STFT Widya Sasana, hal 65-67.
12 Tom Jacobs, 1984, Yesus Anak Maria, Yogyakarta : Kanisius, hal. 202.
13 Menurut para Bapa Konsili Vatikan, Maria tidak boleh ditempatkan di atas atau di luar Gereja, melainkan di dalamnya. Bdk. Ibid., hal. 202-203.
14 Encyclopedia, hal. 155.
15 Pandangan Maria sebagai bunda Allah adalah pandangan yang dianut oleh Gereja Katolik. Sedangkan dalam Gereja Protestan ada tiga macam perspektif tentang Maria. Perspektif pertama memandang Maria hanya sekedar ibu Yahudi dari Yesus, tidak punya peran karena peran terbesar ada pada Roh Kudus. Perspektif maksimalis memandang Maria sebagai seseorang yang memiliki peran khusus, Maria memiliki panggilan yang unik dalam karya keselamatan (pandangan ini dianut oleh Gereja Orthodoks dan Gereja Ekumenis, sedangkan pandangan ketiga adalah pandangan feminis yang memandang gambaran Maria sebagai gambaran sosok yang berbahaya bagi kaum perempuan karena sangat menampakkan dominasi laki-laki. Bdk. Beverly Roberts Gaventa, 1995, Mary: The Glimpses of the Mother of Jesus, Columbia ; University of South Carolina Press , hal. 17-19.
16 Injil Yohanes dalam keenam referensinya kepada bunda Yesus memang tidak pernah menyebutkan nama Maria. Hipotesis Potterie tentang hal ini mengatakan bahwa hal ini dilakukan oleh Yohanes karena ia ingin lebih menekankan segi ajaran tentang Kristuss Yesus. Bdk. Ignace de la Potterie, 1992, Mary in the Mystery of the Covenant, New York : Alba House, hal. 117.
17 Menurut pandangan Protestan, pertanyaan Maria ini menunjukkan bahwa dalam kesuciannya, Maria masih memiliki kelemahan, yaitu: keraguananya akan kebenaran kabar dari malaikat. Bdk. Joseph Fameree,2000, Mary in God's Plan and Among the Saints, dalam Theology Digest. Vol:47 No:3, St Louis : A Publication of Saint Louis University, hal. 249.
18 Bdk. Luk 1:26-38
19 Luk 1:42-45
20 Luk 1:28
21 Ada pendapat ahli Protestan yang mengatakan bahwa madah ini bukanlah diserukan oleh Maria. Alasannya adalah karena dalam madah ini tidak terkandung ungkapan bahwa ia telah mengandung seorang bayi. Para ahli Katolik menjawab pernyataan ini dengan mengatakan bahwa melalui madah ini Maria bukannya hendak mengungkapkan keadaan dirinya, melainkan ia hendak mengungkapkan harapannya akan Allah Israel . Bdk.Hilda Graef,1963, Devotion to the Blessed Virgin, London : Burns & Oates, hal. 12.
22 Menurut tradisi Kristen ungkapan ini merupakan inti dari kisah kelahiran Yesus. Dengan inti ini dalam kisah kelahiran Yesus itu sebenarnya penulis Injil mau mengatakan bahwa Allah sungguh-sungguh memiliki kerendahan hati yang besar, terbukti Ia yang adalah Allah mau menjadi manusia yang lahir di tempat yang paling liina sekalipun. Bdk. John McHugh, 1975, The Mother of Jesus in the New Testament. New York : Doubleday & Company, hal, 87-88.
23 Mzm2:7
24 Mat 2:23
25 Bdk. Bernard Haring, 1992, Maria dalam Hidup Kita Sehari-hari, Ende: Nusa Indah, hal. 71.
30 Luk 2:48
31 Luk 2:49
32 Maria dan Yosep tidak menyadari bahwa Yesus hendak menyatakan tentang masa depannya yang akan wafat dan bangkit di Yerusalem. Bdk. McHugh, 1975, hal. 124.
33 Maria tidak menganggap ucapan Yesus ini sebagai penolakan dan akhimya Yesus menuruti permohonannya. Bdk. Graef, 1963, hal. 14.
M Kis 1:12-24
35 Bdk. Francis J. Moloney, 1989, Mary: Woman and Mother, Collegevile Minnesota : The Liturgical Press.
36 Bdk. Purwaharsanta (ed), 1987, Mengenal dan Meneladan Maria: Bunga Rampai Renungan Biblis, Semarang : Keuskupan Agung Semarang, hal.2.
37 Redemptoris Mater, art. 23.
38 Kebundaan Maria dalam pandangan Gereja Orthodoks sama dengan pandangan Gereja Katolik, sedangkan Gereja Protestan memandang kebundaan Maria hanyalah sebagai pendukung Kristus. Bdk. Gaventa, 1995, 15-17. Untuk pandangan Gereja Anglikan, lihat A.M. Allchin, A M, 1988, Mary: An Anglican Approach , dalam Irish Theological Quarterly. Vol:54 No:2, Maynooth: the Pontifical University , hal, 120-130.
39 Yoh3:16
40 Gal 4:4
41 Schaberg menolak pendapat bahwa Yesus adalah Putera Allah yang berinkarnasi. la berpendapat bahwa Yesus adalah anak haram, mungkin hasil dari pemerkosaan yang terjadi dalam masa pertunangan Maria dengan Yosep. Aib ini ditutup-tutupi oleh keluarga Yesus. Bdk. Beverly Roberts Gaventa, 1995, hal. 9.
42 Bdk. Encyclopedia, hal. 658.
43 P. Hofrichter berpendapat bahwa Yesus dilahirkan tanpa seorang bunda. Pendapat ini aneh dan tidak memiliki dasar biblis. Pandangan bahwa Yesus, analogi dengan Melkisedek (Ibr 7:3) yang tidak dilahirkan, tanpa ayah dan tanpa bunda, tidak didasarkan pada argumen biblis. Dalam keseluruhan empat Injil, Maria selalu disebut sebagai bunda Yesus. Bdk. Ignace de la Potterie, 1992, Mary in the Mystery of the Covenant , New York : Alba House, hal. 117.
44 New Catholic Encyclopedia, Washington : The Catholic University of America, hal. 306.
45 Ibid.
46 Ibid.
47 Francis Ferrier, 1962, What is the Incarnation, London : Bums & Oates, hal. 89.
48 Dengan menjadi Putera seorang manusia, Yesus menjadi Allah Manusia yang mengenal pengalaman akan kemiskinan, menjalani hidup menurut kehendak Allah dan merasakan sendiri tantangan hidup bagi seseorang yang mau hidup bagi Kerajaan Allah. Bdk. Anthony J Kelly, 2004, Mary and the Creed: Icon of Trinitarian Love , dalam Irish Theological Quarterly. Vol:69 No:l, Maynooth: Die Pontifical University , hal. 21.
49 Yoh 14:9
50 Fil 1:21
51 Tentang upaya perlawanan Santo Cyrilus dari Alexandria terhadap tiga bidaah ini dapat dilihat pada O'Carroll, Michael, 1983, Theotokos: A Theological Encyclopedia of the Blessed Virgin Mary, Wilmington : Michael Glazier, hal. 111-114.
52 Bdk. C. Groenen, 1988, Mariologi: Teologi dan Devosi, Yogyakarta : Kanisius, hal. 41.
53 Tentang Proses Konsili Efesus dapat dilihat secara rinci dalam Hamington, 1995, hal. 14-15.
54 Bdk. Leon Joseph Cardinal Suenens, 1963, Mary: The Mother of God, London : Burns & Oates, hal . 46.
55 Ajaran Maria Bunda Allah ini dirayakan pada tanggal 1 Januari. Perayaan ini merupakan pesta utama Maria, yang ditempatkan seminggu sesudah Natal atas dasar kesamaan temanya. Pada perayaan ini perhatian diberikan sekaligus kepada Maria sebagai bunda dan kepada Puteranya. Maria tidak hanya dihormati sebagai bunda jasmani seluruh umat manusia tetapi juga bunda rohani, yaitu ketaatan dan penyerahan dirinya kepada Allah. Bdk. Handoko, 2003, hal. 69.
56 Bdk. Groenen, 1988, hal. 41.
57 Selama berabad-abad sebelumnya Gereja tidak pernah mengeluarkan ajaran tentang Maria. Ajaran Maria sebagi Theotokos (431) merupakan dogma tentang Maria yang pertama. Bdk. Kelly, 2004, hal. 17.
58 Dalam Ajaran tentang Maria, kenyataan Maria sebagai bunda Allah tidak dapat hanya dibatasi pada kenyataan ia melahirkan Allah Putera, melainkan juga aspek-aspek keilahian Maria lainnya, antara lain keperawanannya, keterbebasannya dari dosa asal dan dari pengangkatannya ke surga. Semuanya itu tidak terpisahkan dan saling berkaitan erat. Bdk. Potterie, 1992, hal. 117.
59 Ibr 1:1
60 Yoh 1:14; Luk 1:78
61 Hosea 11:9
62 Yes 43:19
63 Yer 31:31f
64 Injil Yohanes, terkesan tidak menampilkan Maria sebagai perawan, namun sebenarnya Yohanes sering menampilkan Maria sebagai ibu Yesus yang perawan, memang tidak secara eksplisit tetapi implisit, misalnya dalam Yoh 6:41-47. melalui analisis struktur konsentrik, dari perikop tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Yesus adalah anak Allah Bapa, yang dilahirkan secara perawan oleh Maria, dan bukannya anak Yosep. Bdk. Potterie, 1992, hal. 86-90
65 Kesalahan Nestorius ialah menolak kenyataan bahwa Maria mengandung Yesus dan tetap perawan. Jika Yesus adalah putera manusia, anak Yosep dan Maria, Yesus hanya bisa menjadi putera Allah kekal jika keputeraan ilahinya ditambahkan pada keputeraan manusiawinya. Namun bukan ini yang dimaksudkan oleh Kitab Suci Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa Putera Allah adalah sama dengan Ia yang dilahirkan oleh Maria di atas bumi ini. Jika Yesus adalah hasil cinta kasih antara Yosep dan Maria, sekudus apapun cinta mereka, hasilnya adalah manusia biasa. Hal ini tidak sesuai dengan pewahyuan Kitab Suci dan pengakuan iman bahwa Putera Tunggal Bapa menjadi manusia melalui inkarnasi. Kebenaran inkarnasi mensyaratkan kebenaran kebundaan perawan Maria. Thomas Norris, 1989, Mariology: A key to the Faith, dalam Irish Theological Quarterly. Vol:55 No:3, Maynooth: the Pontifical University , hal. 194.
66 Rom 4:25
67 Gereja Katolik memandang bahwa Maria tidak bernoda asal dan tidak perlu dibersihkan dari dosa karena ia tidak memiliki cela sedikitpun. Bdk. Robert J Fox, 1976, The Marian Catechism, Hutington: Our Sunday Visitor, hal. 31.
68 Why 13:8
69 Bdk. Fox, 1976, hal. 41.
70 Lumen Gentium, art. 56
71 IKor 15:17
72 Lumen Gentium art. 59.
73 Luk 1:35
74 Bdk. Suenens, 1963, hal. 47.
75 Bdk. Valisiki, hal. 157.
76 Bdk. Ignacio Larranaga, 1991, The Silence of Mary, Boston : St. Paul Books & Media., hal 158.
77 Bdk. Norris, 1989, hal. 193.
78 Bdk. Larranaga, 1991, hal. 15.
79 Ibid., hal.. 159.
80 Ibid. Konsili Efesus yang dipimpin oleh Santo Cyrilus (tahun 431) diadakan karena ada orang-orang tertentu yang meyalrini bahwa Maria bukanlah bunda Kristus yang ilahi, tetapi hanya bunda Kristus yang manusiawi. Nestorius, seorang patriak Konstantinopel, berpendapat bahwa Maria tidak layak disebut sebagai Bunda Allah (Theotokos); ia harus disebut sebagai bunda Kristus (Christotokos). Dengan pernyataannya ini, ia terjatuh dalam bidaah.
82 Pada tahun 1931, pada peringatan Santa Perawan Maria Bunda Allah, Paus Pius XI menekankan kembali iman Gereja purba ini: Jika Putera sang Perawan Maria adalah Allah, maka Maria berhak atas sebutan Bunda Allah, karena pribadi Yesus adalah satu dan ilahi. Dengan demikian tidak dapat diragukan lagi bahwa Maria selain adalah Bunda Manusia adalah juga Bunda Allah.
83 Suenens, 1963, hal. 47
86 Biasanya disebut virginitas ante partum, virginitas in partu dan virginitas post partum- Virginitas ante partum mengatakan bahwa Yesus lahir dari Perawan; kebenaran yang harus dipegang ialah bahwa Yesus tidak berasal dari seorang ayah manusiawi, melainkan dari seorang ibu saja, yang mengandung berkat daya ilahi. Virginitas in partu berarti Maria melahirkan sebagai perawan; dalam tradisi diartikan bahwa keperawanan Maria, keutuhan tubuhnya tidak berkurang oleh karena kelahiran Yesus, juga bahwa Maria tidak mengalami sakit bersalin. Virginitas post partum artinya adalah bahwa Maria tetap perawan setelah melahirkan; ini berarti bahwa sesudah kelahiran Yesus, Maria sebagai isteri Yosep tidak berhubungan seksual dengan Yosef, tetapi memberikan seluruh perhatian dan cintanya kepada Tuhan dalam bentuk melayani Yesus dan keluarganya. Bdk. Petrus Maria Handoko, 2003, Santa Perawan Maria, Bunda Allah dalam Misteri Kristus dan Gereja , Malang : STFT Widya Sasana.
87 Agustinus berpendapat bahwa Maria telah berianji untuk tetap perawan sebelum ia menerima kabar gembira. Lihat McHugh, 1975, hal. 446 . Sedangkan Groenen menolak pandangan ini. Bdk. Groenen, 1988, hal. 55.
88 McHugh menampilkan diagram hubungan keluarga Yesus, Yakobus dan Yoses, sebagai sepupu. Ia melengkapi diagram tersebut dengan analisis hubungan antara mereka. Bdk. McHugh, 1975, hal. 244-245.
89 Mat 23:8
90 Mrk 6:3 dan Mat 13:55
91 Mrk 15:40 dan Mat 27:56
92 Penjelasan lebih jauh mengenai Yakobus dan Yoses, saudara-saudara Yesus, menurut injil apokrip dapat dilihat pada McHugh, 1975, hal 451-454.
93 Bdk. Suenens, 1963, hal. 51-52. Bdk. pula Fox, 1976, hal. 343.
94 Luk 11:20
95 Luk 11:27
96 Bdk. Fox, 1976, hal. 63.
97 Bdk. McHugh, 1975, hal. 55.
98 Luk 2:11
99 Fil 1:21
100 Bdk. Johnson, 2000, hal. 322.
101 Kis 1:13-14
102 Bdk. O'Carroll, 1983, hal. 98.
103 Bdk. Johnson, 2000, hal. 323.
104 Hamington menyatakan bahwa Maria adalah tipe dari Kristus. Bdk. Hamington, 1995, hal. 7.
105 Luk 1:38
106 Mrk 14:36
107 Luk 1: 38
108 Mat 11:29
109 Luk 1:52
110 Larranaga, 1991, hal 173
111 Moloney, 1989, hal. 49.
112 Kata 'apo' dapat berarti 'dari' juga 'karena'. Bdk. Ibid.
113 Moleney, 1989, hal. 50.
114 Gal 4:4
115 Bdk. Johnson, 2000, hal. 323.
116 Yer 18:20
APENDIKS I
MARIA DAN ORDO KARMEL
Nama lengkap Ordo Karmel adalah Ordo Saudara-saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel. Dari namanya jelas bahwa ordo ini sangat erat kaitannya dengan Santa Perawan Maria. Para Karmelit (anggota Ordo Karmel) menganggap Maria sebagai saudari mereka.
Dalam mengikuti Kristus para Karmelit melihat pribadi Maria sebagai sumber inspirasi dan teladan yang tepat. Semasa hidupnya Santa Perawan Maria menjadi pengikut Kristus yang sempurna. Maria adalah seorang manusia yang hidup bersumber dan berpusat pada Allah. Dengan rendah hati ia terbuka bagi Allah dan menjadikan kehendak Allah sebagai pedoman hidupnya, pada awal kedatangan Sang Sabda di dunia dalam dirinya dan pada akhir hidup Putranya. Ia mencerminkan segala keutamaan dan menghayati sabda bahagia Kristus sepenuhnya. Bagi para Karmelit Maria adalah saudari perjalanan dalam mendaki gunung Karmel yang puncaknya adalah Yesus sendiri. Dalam upayanya mencapai Yesus, para Karmelit selalu bercermin kepada Maria yang begitu dekat dengan Yesus.
Sebagaimana Maria, para Karmelit mendambakan hidup dalam persatuan mesra dengan Allah dengan bersumber pada persatuan dengan Allah itu. Mereka mewujudkan hubungan manusiawi yang mendalam dan otentik dengan orang lain. Maria adalah tokoh yang sungguh mendapat tempat dalam kehidupan para Karmelit. Para Karmelit memandang Maria sebagai penguasa dan pelindung mereka. Oleh sebab itu kapel pertama para Karmelit awali di Gunung Karmel dipersembahkan kepada Maria. Mereka memberi nama kapel tersebut kapel Santa Perawan Maria dengan alasan bahwa Karmel itu adalah milik Maria dan oleh sebab itu para Karmelit wajib mengabdi kepadanya.
Hal lain yang menampakkan hubungan erat antara Ordo Karmel dan Santa Perawan Maria adalah devosi Skapulir. Devosi ini berkembang dari kultus pemujaan Maria dalam Ordo Karmel, yaitu suatu legenda tentang penampakan Maria kepada Santo Simon Stock. Santo Simon Stock adalah pimpinan Ordo Karmel pada tahun 1247-1265. Santo Simon Stock dikenal sangat berdevosi kepada Santa Perawan Maria. Dalam salah satu peristiwa akhirnya Santa Perawan Maria yang memegang skapulir di tangannya menampakkan diri kepada Santo Simon Stock dan berkata, "Inilah anugerah istimewa bagimu dan bagi orang-orangmu, barangsiapa yang meninggal saat memakai Skapulir ini, ia akan diselamatkan." Tidak ada yang tahu apakah kisah ini benar-benar terjadi atau tidak, tetapi yang jelas devosi Skapulir berkembang dan banyak orang yang meyakininya mendapatkan rahmat melalui devosi ini.
APENDIKS II
SPIRITUALITAS KARMEL
Spiritualitas adalah sesuatu hal yang diyakini dan dihayati dalam hidup dan yang menjadi pendorong seseorang dalam bertindak dan bersikap di dalam kehidupannya. Spiritualitas ada yang sifatnya pribadi, dimiliki oleh masing-masing individu dan ada yang dimiliki oleh sekelompok orang secara bersama-sama. Ordo Karmel, sebagai kelompok, memiliki spiritualitasnya, yang lazim disebut spiritualitas Karmel. Spiritualitas Karmel dapat dirumuskan sebagai berikut :
"Mengikuti Yesus Kristus dengan mengembangkan sikap dasar hidup dan berpusat pada Allah dalam hadiratNya (kontemplasi) dan sikap dasar pesaudaraan juga dengan orang-orang lain dalam semangat Maria dan Elia yang merupakan teladan serta inspirasi bagi setiap anggota Ordo Karmel."
Definisinya cukup panjang tetapi sebenarnya isinya dapat dibedakan jadi tiga. Yang pertama adalah unsur-unsur utama spiritualitas yang terdiri dari kontemplasi dan persaudaraan; yang kedua adalah tindakan mengikuti Yesus; dan yang terakhir adalah keteladanan Maria dan Elia.
Unsur-unsur Utama: Kontemplasi dan Persaudaraan
Orang sering mengartikan kontemplasi sebagai meditasi atau samadi, sehingga seringkali orang mengidentikkan spiritualitas Karmel dengan pertapaan. Tidak sepenuhnya salah, tetapi kata "identik" kuranglah tepat. Hidup bertapa merupakan salah satu bentuk pola hidup yang mungkin dan dijalankan oleh beberapa orang anggota Ordo Karmel. Dan semenjak berpindah ke Eropa Ordo Karmel juga mengambil pola hidup sebagai Ordo Mendikan (mendikan=pengemis), para anggotanya aktif berkecimpung di bidang kerasulan di tengah masyarakat sambil tetap mempertahankan unsur kontemplatif dengan setia.
Apa sebenarnya unsur kontemplatif itu? Sebenarnya artinya cukup luas tetapi secara ringkas dan padat dapat dikatakan bahwa kontemplasi adalah sikap dasar hidup bersumber dan berpusat pada Allah; hidup di hadirat Allah; dalam persatuan mesra dengan Allah; "Vacare Deo" (bersemuka dengan Allah).
Dalam kaitannya dengan kontemplasi, panggilan Karmel dilukiskan sebagai suatu persembahan kepada Allah hati yang suci sambil berusaha menjadikan diri mampu menerima anugerah Allah, tidak hanya sesudah kematian, melainkan sudah semenjak sekarang dalam hidup ini mencicipi dalam hati dan mengalami dalam Roh, daya kekuatan Ilahi serta kemanisan kemuliaan surgawi. Jadi kontemplasi di sini tidak berarti lari dari dunia dan berdoa dalam kesunyian, meski betapa pun besar nilai dan peranan tindakan tersebut. Kontemplasi lebih mengarah pada tindakan terjun ke dalam dunia untuk mencari dan menghayati kehadiran Allah yang hidup dan benar, yang bergaul dengan kita dalam Kristus.
Kontemplasi pada dasarnya merupakan anugerah yang kita terima dari Allah sendiri semenjak kita dibaptis. Anugerah ini tentu saja dapat dilaksanakan oleh setiap orang dalam setiap panggilan hidupnya dengan melaksanakan ketiga keutamaan, yaitu: iman, harapan, dan kasih. Iman itu makin berkembang dan akhirnya membuat kita melihat dan menilai segala, khususnya dalam diri sesama, seperti Yesus dan BapaNya. Harapan itu dianugerahkan pada waktu yang sama dan dapat berkembang sampai kita mampu benar-benar menaruh kerinduan hati kita melulu pada Allah dan melihat lainnya sebagai sarana, bukan tujuan yang harus dikejar.
Persaudaraan adalah unsur pokok dan merupakan perwujudan kesatuan hakiki antara cinta kasih akan Allah dan sesama. Persaudaraan sebagai unsur pokok spiritualitas Karmel diteguhkan ketika para Karmelit menerima nama resmi "Ordo Saudara-saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel". Kata "Saudara" dalam nama tersebut tidaklah bermakna dangkal tetapi menunjukkan cita-cita persaudaraan yang sedang bangkit di jaman itu, khususnya dalam gerakan pembaharuan yang dirintis oleh kelompok-kelompok mendikan dengan gagasan persaudaraan rasuli (menurut tradisi para rasul). Gagasan ini dapat kita baca juga dalam Kitab Suci yaitu dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 dan 4:32-37.
Bagi para Karmelit persaudaraan rasuli memiliki nilai yang tinggi, yang membangun Gereja dan umat manusia sebagai benih pemenuhan rencana Allah, yakni persatuan mesra dengan Allah dalam kesatuan seluruh umat manusia. Dengan melibatkan diri dalam Gereja miskin yang mengabdi para Karmelit mau membaktikan persaudaraan yang sejati dan merobohkan tembok-tembok yang memisahkan manusia satu dari yang lain dan yang memecah belah umat.
Salah satu segi persaudaraan adalah kontak dan kedekatan dengan masyarakat. Para Karmelit sebagai bagian dari Gereja yang menurut hakikatnya adalah misioner menyadari tugasnya untuk menyebarluaskan warta kebenaran Injil yang membebaskan semua orang. Sebagaimana Kristus melaksanakan karya penyelamatan manusia bukannya bagaikan seorang pendatang atau seorang asing yang tidak terlibat dalam sejarah dunia melainkan membaurkan dirinya baik dengan umatNya maupun dengan seluruh umat manusia. Para Karmelit bersolidaritas dengan sesama dalam konteks kebudayaan dan masyarakat sekitarnya.
Mengikuti Yesus Kristus
Telah dikatakan sebelumnya bahwa panggilan Karmel adalah mengikuti Kristus. Dengan sendirinya peranan Kristus begitu besar karena sikap kontemplasi dan persaudaraan tak dapat dipahami tanpa Kristus. Tetapi gagasan mengikuti Kristus tidak hanya dimengerti sebagai penyerahan diri dalam pengabdian kepada Kristus, melainkan juga memandang Kristus sebagai teladan yang penuh inspirasi. Barang siapa ingin mengembangkan sikap dasar persaudaraan tidak akan pernah menemukan teladan serta sumber inspirasi yang lebih kaya daripada dalam Kristus yang hidup dalam persatuan mesra dengan BapaNya.
Keteladanan Maria dan Elia
Dalam mengikuti Kristus para Karmelit melihat pribadi Maria sebagai sumber inspirasi dan teladan yang tepat. Semasa hidupnya Santa Perawan Maria menjadi umat Kristus yang sempurna. Ia mencerminkan segala keutamaan dan menghayati sabda bahagia Kristus sepenuhnya. Maria adalah seorang manusia yang hidup bersumber dan berpusat pada Allah. Dengan rendah hati ia terbuka bagi Allah dan menjadikan kehendak Allh sebagai pedoman hidupnya, pada awal kedatangan Sang Sabda di dunia dalam dirinya dan pada akhir hidup Putranya.
Sebagaimana Maria, para Karmelit mendambakan hidup dalam persatuan mesra dengan Allah dengan bersumber pada persatuan dengan Allah itu. Mereka mewujudkan hubungan manusiawi yang mendalam dan otentik dengan orang lain. Maria adalah tokoh yang sungguh mendapat tempat dalam kehidupan para Karmelit. Maria sungguh diakui memberikan perlindungan para Karmelit, meskipun kita ini adalah abdi-abdi (hamba) Maria. Dalam abad pertengahan gagasan Maria sebagai "tuan" sekaligus pelindung ini diungkapkan dengan Domina Loci yang berarti "yang memiliki dan berkuasa atas tempat". Para Karmelit yang tinggal di tempat itu, harus menghormati dan mengabdinya. Dia sebagai pemilik dan penguasa yang melindungi kita.
Perkataan "Gunung Karmel" dalam nama resmi Ordo Saudara-saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, bukanlah melulu keterangan tentang asal. Nama itu menunjuk kepada Nabi Elia. Tokoh Nabi Elia dengan segala kepribadian, hidup dan tindakannya yang mengesankan menjadi sumber inspirasi bagi pertapa-pertapa di Gunung Karmel. Elia adalah nabi yang berani dan bersemangat untuk berjuang bagi perkara Allah dan peka terhadap kebutuhan-kebutuhan paling mendalam dari umatnya.
Itulah segala hal yang penting tentang spiritualitas Karmel. Sebagaimana telah dikatakan bahwa kata 'spiritualitas' bermakna luas, maka dapat dikatakan bahwa penjelasan di atas hanya menyentuh aspek-aspek penting saja, katakanlah semacam panorama saja, dan bukan mencakup keseluruhan. Semoga gambaran singkat ini dapat memperjelas pengertian spiritualitas Karmel.
Perwujudan Spiritualitas dalam Karya Karmel
Spiritualitas yang dihayati dan dihidupi haruslah diwujudkan ke luar diri. Apabila buah-buah spiritualitas ini hanya dinikmati untuk diri sendiri maka ini dapat disebut sebagai keegoisan rohani. Perwujudan ke luar diri pastilah bersumber dari satu penghayatan yang dalam, karena apabila tidak maka biasanya hal itu tidak akan bertahan lama. Sesuai dengan spiritualitas Ordo Karmel, maka para Karmelit adalah berkarya di bidang-bidang berikut:
Pewartaan Injil
Pewartaan Injil merupakan salah satu bentuk perwujudan spiritualitas Karmel. Para Karmelit yang telah mencicipi manisnya Sabda Allah itu ingin membagikannya kepada sesamanya. Tujuannya bukan sekedar agar sesamanya tahu dan mengenal akan Sabda Allah itu melainkan juga agar mereka diselamatkanNya. Hanya dalam Kristus dan Injil-Nya, setiap orang akan menemukan arti sesungguhnya dari hidup, pembebasan dari semua bentuk perbudakan serta persaudaraan dan perdamaian yang menjadi keinginan hati setiap manusia. Sebagai penerima anugerah-anugerah khusus dari spiritualitas Karmel, para Karmelit berkewajiban untuk melaksanakan pewartaan Injil dengan membagikan anugerah-anugerah Roh tersebut kepada seluruh Gereja dan dunia. Pewartaan Injil dapat dilakukan dengan cara yang bermacam-macam. Beberapa cara yang ditempuh para Karmelit, antara lain karya parokial, sekolah, rumah retret dan lain-lain. Namun sesungguhnya cara yang terpenting dan terefektif dalam mewartakan Injil adalah dengan keteladanan hidup. Oleh sebab itu para Karmelit berkewajiban untuk memberikan keteladanan hidup penghayatan Injil dalam kehidupannya sehari-hari.
Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan alam ciptaan
Pewartaan Injil tidak dapat tidak harus dibarengi dengan suatu tindakan nyata. Bukankah iman yang tanpa perbuatan adalah sia-sia? Oleh sebab itu para Karmelit juga terpanggil untuk berkarya dalam bidang keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. Karya para Karmelit di bidang ini memiliki kekhasan yang membedakannya dari karya Lembaga Swadaya Masyarakat yang sekuler maupun yang dikelola religius lainnya. Mengapa? Karena karya para Karmelit di bidang ini bersumber dari kontemplasi Sabda Allah berdasarkan spiritualitas Karmel. Melalui karyanya ini para Karmelit berupaya mewarnai dunia ini dengan spiritualitas Karmel yang ia hidupi dan hayati dalam kehidupannya sehari-hari.
Tentu itu diperlukan suatu pembacaan Injil secara mendalam dan sikap memandang dunia dengan mata iman. Dalam spiritulitas inilah para Karmelit menjalin kedekatan dengan kaum miskin. Oleh sebab itu karya para Karmelit di bidang ini memiliki cirri sebagai berikut: model utama karya ini adalah Yesus: misi-Nya, keterpihakan-Nya pada kaum miskin, dan ajaran-Nya tentang cara baru berelasi dengan Allah dan sesama. Teladan yang lain adalah Elia yang selalu berada dekat dengan Allah dan manusia, serta Maria yang tanpa henti mencari kesucian dan keadilan serta menanggapi segala sesuatunya dengan iman.
APENDIKS III
SEPULUH KEBAJIKAN YANG DIANUT OLEH PARA KARMELIT
1. Hidup di hadirat Allah
Mazmur 42 mengungkapkan keriunduan jiwa manusia akan Allah, "Seperti rusa yang merindukan air, demikianlah hatiku rindu akan Dikau, Tuhanku." Para karmelit awali berkumpul bersama di gunung Karmel karena disatukan oleh kerinduan akan hidup di hadirat Allah. Mereka terinspirasi oleh perkataan Elia, "Allah hidup, di hadiratNya aku berdiri." Inspirasi dan kerinduan ini dihidupi oleh para Karmelit hingga saat ini. Mereka berusaha untuk selalu berada di hadirat Allah, vacare Deo , dalam setiap langkah kehidupan mereka. Mereka berusaha mencari dan mengenali Allah dalam kehidupan mereka sehati-hari. Usaha itu sifatnya sangat personal tergantung seberapa besar usaha untuk menemukan Dia dan untuk tinggal di dalamNya.
2. Mengikuti Yesus Kristus
Para Karmelit adalah satu-satunya di antara kelompok-kelompok religius dan awam dalam Gereja yang memulai keberadaannya di Tanah Suci, yaitu di Gunung Karmel, tanah Elia dan Elisa, tanah kelahiran Yesus dan Maria. Patriark Albertus, yang menyusun Aturan Hidup Karmel, yang nantinya berkembang menjadi Regula Karmel, dengan menyatakan, ":Setiap orang . hendaknya hidup mengikuti Yesus Kristus, setia mengbdinya dengan hati yang suci dan hati nurani yang murni." Yesus adalah pusat hidup para Karmelit. Dalam tradisi dan hidup para kudus Karmel, mengikuti Yesus Kristus adalah hal yang terpenting dalam melaksanakan Regula Karmel. Para Karmelit meneladan Santo Paulus yang mengatakan, "Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku" (Gal 2:20).
3. Martabat manusia
Para Karmelit mengakui bahwa manusia memiliki martabatnya yang tinggi. Mereka menyakini bahwa manusia sangat berharga di hadapan Allah. Ini sesuai dengan pandangan rasul Paulus yang mengatakan, "Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?" (1Kor 3:16) dan "Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." (Rom 5:5). Allah memanggil setiap orang, setiap jiwa, untuk bersatu dengan Dia, Sang Tritunggal Mahakudus. Persatuan tersebut sifatnya personal dan keotentikannya dapat diukur dari kehidupan sehari-hari, yaitu dengan seberapa dekat hubungan seseorang dengan Allah dan dengan sesama.
4. Perjalanan iman
Tema perjalanan merupakan unsur yang kuat dalam tradisi Karmel. Para Karmelit awali berjalan dari tanah leluhur mereka menuju Tanah Suci untuk mencari wajah Allah. Dengan iman yang mendalam mereka menyusuri jalan-jalan untuk akhirnya sampai ke tempat di mana Allah dapat mereka temukan. Demikian pula ketika mereka harus kembali ke Eropa pada sekitar tahun 1230-1240, mereka menempuh perjalanan yang panjang. Teladan dan teman perjalanan mereka tidak lain dan tidak bukan adalah Bunda Maria. Perjalanan rohaniah Bunda Maria merupakan model bagi para Karmelit dalam melakukan perjalanan iman pribadinya. Maria adalah teladan perjalanan iman karena ia begitu setia untuk terus bersatu dan bersama dengan Puteranya, bahkan sampai di salib.
5. Keutamaan Cinta
Ketika ahli taurat bertanya kepada Yesus tentang hukum apakah yang terutama, Yesus menjawab, "Cintailah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan seluruh pikiran dan kekuatanmu," dan kemudian Ia menambahkan, "dan cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri." Melalui pengajarannya dan khususnya melalui sengsara dan kematiannya, Yesus menunjukkan bahwa cinta adalah nilai utama dan kebenaran dalam hidupNya. Agar dapat menjadi pengikutnya, para Karmelit berusaha menjadikan cinta sebagai yang utama. Tetapi apakah sebenarnya cinta itu? Mungkin hal ini bisa dijelaskan dengan mengutip penjelasan Erich Fromm, seorang psikolog, yang mengatakan bahwa cinta adalah memiliki empat ciri berikut: penuh perhatian sebagaimana seorang ibu menjaga dan memelihara anaknya, bertanggung-jawab atas kebutuhan satu sama lain, menghargai segala kekhasan yang ada, dan bertumbuh dalam pengenalan akan mereka yang kita cintai. Para Karmelit semua diajak untuk mempraktekkan cinta ini.
6. Pentingnya doa
Doa dan Karmel telah menyatu. Apabila, para Karmelit ditanya apa yang dapat mereka sumbangkan kepada dunia, maka jawabannya adalah doa. Tulisan-tulisan para Karmelit dan Tradisi Karmel merupakan hasil dari upaya hidup di hadirat Allah dalam cinta. Regula Karmel dengan jelas menyatakan bahwa para Karmelit haruslah tinggal di selnya masing-masing, merenungkan sabda Tuhan siang dan malam dan terus berjaga dalam doa. Tujuan hidup para Karmelit dapat diungkapkan secara berikut: mencari dan mengenal Allah, mengenal dan mencintai diri sendiri dan sesama dalam cahaya wajah Allah. Doa dalam Karmel adalah suatu perpaduan antara mendengarkan Allah dan membina cinta kepadaNya. Inilah yang disebut kontemplasi.
7. Hidup berkomunitas
Nilai hidup berkomunitas ini dihayati sebagai wujud persaudaraan sebagaimana nama lengkap ordo Karmel, yaitu Ordo para saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel. Santo Albertus, pemberi regula Karmel, menekankan perlunya hidup berkomunitas sebagaimana orang-orang Kristen awali, "Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.. Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama" (Kis 2:43 dan 4:32). Kutipan itu menunjukkan tujuh ciri komunitas Karmelit, yaitu (1) bertekun dalam pengajaran para rasul yaitu mendengarkan dan merenungkan sabda Allah, (2) hidup sehati dan sejiwa dalam suasana kasih persaudaraan, (3) memecahkan roti, yaitu merayakan Ekaristi dan menjadikannya pusat hidup Kristiani, (4) berdoa, baik secara pribadi maupun bersama-sama, (5) memberikan kesaksian akan kebangkitan Yesus Kristus, (6) menghargai karunia Roh Kudus yang berbeda-beda dalam diri setiap orang, (7) memiliki semangat kebebasan.
8. Komitmen untuk melayani
Sebagai anak-anak Nabi Elia, para Karmelit tidak dapat menutup mata pada apa yang terjadi di dunia saat ini. Sebagai suatu keluarga internasional, para Karamelit diajak untuk melihat adanya ketidak-adilan yang mendasar yang membagi-bagi umat manusia menurut kekayaannya dan segala yang terkait dengannya. Sebagai manusia-manusia kontemplatif, para Karmelit berusaha menyuarakan kata-kata profetik, bukan hanya untuk mengenyahkan setan ketidak-adilan, melainkan juga untuk menyambut dan melayani dengan lembut para korban ketidakadilan tersebut. Kesadaran akan kehadiran Allah dalam diri sesamamembuat para Karmelit tidak dapat berdiam diri melihat kemanusiaan dilecehkan. Yang menjadi model bagi para Karmelit dalam melakukan pelayanan adalah Yesus sendiri, yang mengajak pengikutnya bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani.
9. Keindahan ciptaan
Para Karmelit adalah satu-satunya kelompok religius yang memakai nama yang berasal dari nama suatu tempat, Karmel. Mereka bangga akan ungkap terkenal nabi Yesaya yang mengatakan, "Semarak dan keindahan Karmel." Dalam tradisi Karmel, Bunda Maria dikenal sebagai "Keindahan Karmel (Decor Carmeli), Kusuma Karmel (Flos Karmeli) dan Bintang Samudera (Stella Maris). Para Karmelit melihat bahwa segala ciptaan terbungkus dalam suatu keindahan dan Allah serta karuniaNya ada dalam keindahan ciptaan tersebut.
10. Perlunya untuk seimbang
Dalam hubungan dengan sesama Karmelit, dalam karya dan dalam persahabatan, nilai seimbang ini diperlukan. Tantangan untuk mencapai keseimbangan, harmoni dan perdamaian dihadapi oleh para Karmeit dalam tradisi dan perjalanan sejarahnya, dan tidak jarang menghasilkan ketegangan-ketegangan. Perlunya untuk selalu seimbang juga tampak dalam regula Karmel yang menekankan perlunya keseimbangan antara kontemplasi dan karya, antara kerja dan doa, antara diam dalam kesendirian dan hidup di tengah umat, antar hidup dalam keheningan dan berdialog, dan antara menjadi biarawan aktif dan menjadi pertapa. Ketegangan, tantangan dan kebutuhan akan keseimbangan ini terus berlangsung hingga saat ini.
UNTUK MENDAPATKAN INFORMASI TENTANG ORDO KARMEL
ANDA DAPAT MENGHUBUNGI:
SEKRETARIAT PROVINSI ORDO KARMEL INDONESIA
JL. TALANG NO. 3 MALANG - JAWA TIMUR, 65112
TELP. 0341 - 574929
FAX. 0341 - 556376
EMAIL: karmelindo@catholic.org
sebelumnya....................pege 1