PENGANTAR
Dalam kisah sengsara Injil Yohanes yang kita dengarkan pada hari Jumat Agung ini, kita dapat mengenal dari misteri salib Yesus: seorang pribadi manusia yang tahan uji luarbiasa! Kita diundang untuk melihat kesengsaraan dan kematian Yesus dalam konteks hidup kita sendiri, baik dalam percobaan, penderitaan dan kematian kita. Salib Yesus merupakan suatu pesan, sepatah sabda bagi kita, suatu tanda pertentangan, namun juga tanda kemenangan dan harapan! Salib yang selalu dapat kita lihat di atas itu adalah tanda kekuatan dan harapan di tengah perjuangan hidup kita!
HOMILI
Ketika Yesus sesudah ditampar dan dimahkotai dengan duri muncul di gedung pengadilan, Pontius Pilatus berkata kepada orang-orang Yahudi: “Ecce homo!”, “Lihatlah manusia ini!” Suatu ungkapan luarbiasa untuk menggambarkan pribadi dan perutusan Sang Putera Allah sendiri! Itulah gambaran manusia sejati, gambaran kemanusiaan (humanitas), sebagai model seorang manusia yang utuh dan otentik suci!!
Lihatlah manusia ini – orang yang hidup bagi orang lain, menolong
memberi makan dan menghidupkan orang mati.
Lihatlah manusia ini - orang yang memaafkan orang lain, menjadi teman bagi setiap orang, justru khusus bagi orang kecil dan lemah.
Lihatlah manusia ini - orang yang datang di dunia sebagai orang tak berdosa, adil dan jujur, orang sempurna, namun ditolak dan di
hukum mati.
Bukankah semua itu merupakan gambaran hidup kita. Secara tradisional dikatakan kita ini mempunyai dosa asal. Tanpa disadari kita cenderung dikuasai oleh kekuatan buruk atau jahat dalam diri kita, yang dapat meng-hancurkan diri kita sendiri.
Namun selama perjalanan hidup sampai dengan kematian-Nya Yesus ternyata adalah selalu beserta kita. Ia tidak mau berpisah dan meninggalkan kita. Di salib pun Yesus menyerahkan murid-Nya Yohanes kepada Ibu-Nya, dan sebaliknya Ia menyerahkan Ibu-Nya kepada murid-Nya: “Ibu, inilah anakmu!” dan “Inilah Ibumu!” Yesus menyingkirkan segala hambatan dan rintangan perbedaanantar manusia. Relasi antar manusia tidak dibatasi pada segi fisik atau darah. Maka kematian Yesus di salib menggembalikan nilai dan martabat kemanusiaan benar dan utuh. Kita ini semuanya satu sama lain harus menjadi sesama manusia dengan sungguh-sungguh. Saling menghargai.
Dengan merayakan Jumat Suci ini kita berhimpun bersama-sama sebagai umat kristiani yang menatapkan pandangan kita kepada Yesus. “Ecce homo”, “Lihatlah manusia ini”. Kita datang dan memandang kepada-Nya dengan segala dosa dan kekurangan, kelemahan, kerapuhan kita! Apabila kita tidak sungguh mau bertemu dan memeluk Yesus sebagai “Manusia yang disalib” itu, maka segenap usaha dan jerih payah penghayatan hidup kita akan sia-sia belaka! Segenap ikhtiar kita untuk menghayati hidup kita dengan baik hanya dapat dipastikan atau ditentukan keberhasilannya, apabila kita mau memeluk Yesus di salib.
Dalam merayakan Jumat Suci ini semoga SALIB KRISTUS sungguh dapat merupakan sumber keyakinan dan kekuatan, harapan bahkan sumber kegembiraan bagi kita, khususnya bila kita menjumpai dan mengalami bahaya di dalam hidup kita.
Kita setiap kali membuat tanda salib: “Atas nama Bapa”, sambil menyinggung dahi kita. Kita tidak dapat mengetahui segala kehendak Bapa, yang ingin menciptakan keadilan, damai dan harapan. “Atas nama Putera”, sambil menyinggung pusat tubuh kita. Berarti kita berusaha menerima kesukaran dan kesulitan dalam hidup kita dengan penuh harapan. “Atas nama Roh Kudus”, kita yakin bahwa dari hati Yesus yang terluka di salib datanglah keselamatan bagi kita.
Maka nanti dengan berlutut untuk menghormati sambil mencium salib Yesus, marilah kita nanti pulang dengan gembira dan penuh harapan
Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.
kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm