H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm
MINGGU ADVEN II/B/2014
Yes 40:1-5.9-11 2 Pt 3:8-14 Mrk 1:1-8
PENGANTAR
Pada awal Injilnya untuk Minggu Adven II ini Markus mem-perkenalkan kepada kita tokoh nabi Yohanes Pembaptis sebagai model seorang pribadi yang mempunyai sikap dasar hidup yang otentik. Yohanes Pembaptis tidak berbicara berbelit-belit, melainkan terus terang seperti adanya. Ia langsung menyampaikan apa yang dianggapnya sungguh baik dan benar. Ia tampil sebagai pewarta pertobatan, yang dipercayai orang, sebab ia mewartakan sabda Allah, yang didengarkan dan juga dihayatinya sendiri. Ia memilih hidup di padang gurun. Yohanes Pemandi adalah teladan atau model pribadi orang, yang jujur, jernih dan terbuka hidupnya terhadap sabda Allah, dan meneruskannya kepada sesama. Itulah makna hidup orang beriman yang otentik.
HOMILI
Yohanes Pembaptis tinggal di padang gurun, di situlah ia menerima dan mendengarkan sabda Allah secara murni. Dari sebab itu ia mampu menerima dan mewartakan sabda Allah itu secara efektif. Mengapa? Karena pewartaan dan hidupnya adalah satu, tidak berbeda. Bukankah hambatan yang sering menghalangi hidup kita ialah perbedaan atau ketidakcocokan antara suara hati dan perbuatan/hidup kita? Ada pertentangan di antara ajaran iman dan pelaksanaan hidup. Telah kita alami sendiri, bahwa kata, pikiran dan perbuatan kita kerapkali tidak sama, dan bahkan seringkali bertentangan!? Para nabi, termasuk Yohanes Pemandi, memberi pelajaran kepada kita untuk menghindari bahkan menghilangkan segala bentuk palsu pribadi kita masing-masing, yaitu sikap dan perbuatan yang bermuka dua atau bertopeng: ketidaksamaan antara yang tampak dan yang tidak tampak! Hati dalam diri kita yang tidak tampak, tidak sama dengan apa yang kita lakukan secara tampak. Perlakuan dan perbuatan kita ternyata tidak selalu mencerminkan secara benar suara hati kita!
Itulah latar belakang makna alkitabiah padang gurun di mana Yohanes Pembanti hidup dan berbuat. Dalam Kitab Suci, padang gurun selalu dipakai sebagai gambaran, tempat, di mana kita dapat menerima dan mendengarkan dengan lebih jelas dan murni suara Allah, untuk menemukan jalan-jalan baru, yang harus kita tempuh dalam hidup kita. Padang gurun memang dapat memiliki dua arti yang berlainan, namun berkaitan satu sama lain. Sepintas lalu memberi kesan sebagai tanah tandus, liar, belantara, tak berpenduduk, panas dan serba kering. Tetapi bagi pengertian Ibrani/Yahudi, padang gurun juga bermakna sebagai tempat suci, di mana sabda Allah tidak terhalangi oleh apapun. Allah dapat didengarkan dan dihayati sabda-Nya sepenuhnya. Dengan demikian kita dapat pergi ke padang gurun untuk mendengarkan sabda Allah secara bebas dan murni. Dalam padang gurun itulah para nabi dapat merasa berhadapan dengan Allah. Mereka dapat sungguh-sungguh merasa mampu mendengarkan dan memahami kehendak-Nya. Mereka dapat merasakan kebaikan namun juga keprihatinan-Nya, bahkan juga kekecewaan Allah, namun sekaligus selalu juga mengalami kasih dan belaskasihan Allah kepada segenap umat-Nya. Inilah arti rohani padang gurun!
Yohanes Pembaptis adalah pewarta masa depan, masa harapan! Nabi Adven! Ia mewartakan dan mempersiapkan kedatangan Mesias yang diharapkan, yaitu Yesus Kristus yang bukan hanya untuk orang-orang sezamannya, tetapi juga untuk kita sekarang ini.
Kita pun terpanggil juga untuk berperan seperti Yohanes Pembaptis untuk zaman kita sekarang ini. Artinya sikap dan hidup kita harus merupakan kesaksian, seperti Yohanes Pembaptis dalam hidupnya. Ia mewartakan adanya pengampunan dan keselamatan, yang memang bukan dilaksanakannya sendiri, melainkan oleh Mesias. Kita dapat berbuat seperti Yohanes Pembaptis, yaitu ikut mewartakan adanya pengampunan dan keselamatan oleh Yesus Kristus. Tetapi untuk itu dibutuhkan persiapan. Persiapan itu ialah bersedia mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah. Bersedia “hidup di padang gurun”. Artinya mau dan bersedia mendengarkan sabda Allah secara sungguh-sungguh. Yaitu tidak hidup palsu, tidak bermuka dua, hidup menurut ajaran Yesus seperti diajarkan dalam Gereja Katolik. Hidup kristiani secara utuh berarti: suara hati dan perbuatan kita adalah satu dan sama, bukan berlainan apalagi saling bertentangan. Itulah pewartaan dan kesaksian pertobatan, pengampunan, persiapan untuk keselamatan otentik, yang akan diberikan oleh Kristus Penyelamat kita.
Yohanes Pembaptis menegaskan: Aku bukan Mesias. “Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak!”. Namun ia sadar akan tugas perutusannya. Kita pun diutus ke padang gurun ikut menyiapkan kedatangan Yesus Mesias kepada semua orang. Padang gurun kita ialah diri kita sendiri, keluarga, dan lapangan atau medan karya kita. Kita mulai di padang gurun kecil, yaitu dalam hidup dan pekerjaan kita sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari itu kita harus mendengarkan Allah. Dalam Kitab Suci dan sakramen-sakramen Allah menunjukkan arah perjalanan hidup kita untuk mendekati hati Yesus, yang kedatangan-Nya sangat kita rindukan selama masa Adven ini. Amin.
Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm
kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm