H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm
MINGGU BIASA IV/C/2013
Yer 1:4-5.17-19 1 Kor 12:31-13:13 Luk 4:21-30
PENGANTAR
Minggu yang lalu dan Minggu hari ini Injil Lukas memberitakan, bahwa Yesus menyatakan diri-Nya sebagai pewarta kabar baik tentang keselamatan, tetapi ditolak oleh penduduk sekampung-Nya di Nasaret. Ia ditolak bahkan akan dibunuh. Yesus tidak takut dan meneruskan tugas panggilan-Nya ke tempat lain.
Hari ini Saudara-Saudari kami ajak untuk merenungkan surat pertama Paulus kepada umat di Korintus (Bac.II) tentang Kidung Kasih, yang dapat disebut sebagai kidung kasih yang paling indah dan luhur. Ia menegaskan bahwa ada tiga kebajikan rohani yang harus kita miliki: iman, pengharapan dan kasih. “Dan yang paling besar di antaranya ialah kasih”, demikian kata Paulus.
HOMILI
Di panggung kehidupan kita sebagai manusia di dunia ini berlangsunglah suatu sandiwara tentang pengertian dan perlakuan manusia terhadap cinta. Tulisan, nyanyian, percakapan ataupun perbuatan di bidang cinta merupakan sasaran pandangan dan perhatian orang yang paling besar. Istilah cinta itu dalam bahasa Latin atau Yunani disebut dengan pelbagai kata: eros, amor, caritas dan agape. Jadi sebelum tahun Masehi istilah untuk cinta adalah eros. Dari istilah ini timbullah kata erotis dan erotisisme. Cinta erotis ini bercorak sebagai nafsu.
Istilah eros tidak dapat dipakai untuk menyebut suatu bentuk cinta baru, yang timbul dalam bahasa, yang dipakai untuk mengungkapkan suatu pengertian dan nilai secara alkitabiah atau biblis yang baru,yaitu agape. Istilah agape mengungkapkan suatu cinta rohani, yang dalam bahasa Latin disebut caritas. Dalam bahasa Indonesia caritas secara rohaniah lebih sedap didengar dengan istilah kasih. Ini tidak berarti menyingkirkan istilah cinta!
Di mana letak perbedaan antara eros, amor dan caritas?
Eros yaitu cinta yang bersifat erotis bersifat sangat individualistis, untuk memuaskan diri sendiri. Kepentingan diri sendirilah yang terpenting. Cinta serupa itu bersifat palsu. Amor memang memiliki sifat yang lebih mendekati cinta yang sehat dan baik dari pada eros. Tetapi belum merupakan suatu ungkapan sikap dan perbuatan yang disebut caritas atau kasih. Sasaran amor/cinta masih lebih terbatas, masih menurut pertimbangan, memakai ukuran. Tetapi caritas atau kasih menembus segala rintangan dan batas. Sasaran caritas sebagai kasih kristiani menjangkau setiap orang! Tiada seorang pun terkecuali, musuh pun tidak dihindari! Caritas/kasih kristiani jauh mengatasi eros bahkan amor yang diungkapkan oleh Violetta, yaitu tokoh perempuan yang dalam opera ahli musik Verdi dari Italia, yang disebut “La Traviata” berseru: “Cintailah aku, Alfredo. Cintailah aku sebanyak engkau mencintai aku!”
Agape atau caritas atau kasih kristiani sejati diucapkan oleh Yesus yang berkata: “Seperti Aku telah mengasihi kamu, kasihilah kamu satu sama lain”. Nah, kasih ini adalah kasih yang harus diarahkan ke segala penjuru kepada semua orang.
Perbedaan lain antara eros/amor dan caritas yang patut diperhatikan ialah, bahwa cinta erotis tidak menetap, tak tahan lama, selalu berbeda bila beda pribadi sasarannya. Ibaratnya seperti orang jatuh cinta berkali-kali dengan pelbagai orang! Padahal Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus berkata: “Kasih itu sabar; kasih itu murtah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong…Kasih tidak berkesudahan” (1 Kor 13:4.8). Kasih inilah yang tidak hanya untuk sementara. “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih (ay.13). Kasih akan tinggal selamanya!
Apa artinya untuk hidup berkeluarga? Eros dan amor merupakan tahap gerak hubungan pertama. Pada awal ada rasa tertarik, keinginan saling mendekati, usaha mengenal yang lain. Dalam tahap itu suatu egoisme masih kuat. Apabila dalam proses saling mendekati itu kedua pihak tidak berikhtiar memperkaya diri untuk saling mendekati dengan cara yang baru, misalnya dengan saling memahami, saling memaafkan, saling terbuka satu sama lain, bersedia melupakan kepentingan diri untuk yang lain, kemampuan saling memperkuat, - bila semua ini tidak diperhatikan dan dilakukan, kita tahu bahwa cinta (eros, amor) belum berubah menjadi kasih (caritas). Cinta ini akan gagal!
Dewasa ini masalah seksualitas adalah santapan hangat untuk bacaan dalam media komunikasi apapun. Karena itu Kidung indah Paulus tentang kasih sungguh sangat berguna untuk kita baca dan renungkan. Dengan demikian kita dapat menghindari kekecewaan, rasa frustrasi dalam hidup bersama apapun bentuknya dan terutama hidup berkeluarga Kita diperteguh oleh berkat Tuhan bagi kita, untuk dapat hidup penuh kasih, khususnya dalam keluarga.
Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm
kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm