Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

Didik Bagiyowinadi Pr

UMAT KATOLIK KERAJAAN BLAMBANGAN -
Sebuah Refleksi dalam Terang "Persekutuan Para Kudus"

PENGANTAR
    Dua puluh lima tahun lalu, tepatnya 6 Agustus 1992, kedua senior saya, Rm. Yulius Agus Purnomo Pr dan Rm. Bernardus Winuryanto Pr menerima tahbisan imamat sebagai imam praja Keuskupan Malang. Dan hari Kamis sore ini, 10 Agustus 2017, rekan-rekan Unio Keuskupan Malang akan merayakan pesta perak imamat mereka di Probolinggo dengan menyuguhkan tampilan kethoprak iman, mengangkat kisah heroik misi Katolik di Kerajaan Blambangan abad XVI. Yang akan bermain ketoprak adalah kolaborasi dari para romo, seminaris Seminarium Marianum, dan siswa-siswi TKK, SDK, dan SMPK Mater Dei, di bawah asuhan sutradara Rm. F.A. Dimas Satyawardhana Pr. Sebenarnya saya juga mau daftar jadi salah satu pemainnya, tetapi saya sudah keburu pulang ke Manila karena liburan kuliah sudah habis, sehingga saya hanya menyambut pesta perak imamat mereka dengan menyajikan tulisan ini yang kiranya senafas dengan para romo yang bersemangat bermain kethoprak iman.

HOMILI
    Selama 25 tahun menjadi imam, kedua yubilaris sudah bertugas di banyak paroki. Salah satu paroki yang sama-sama pernah mereka layani adalah Paroki Maria Bintang Samudra Situbondo. Tentang paroki ini kita ingat akan Peristiwa Situbondo, dimana terjadi kerusuhan dan gereja-gereja dibakar pada 10 Oktober 1996 silam. Sementara salah satu stasi Situbondo, yakni Stasi Panarukan, dulunya merupakan kota pelabuhan dari Kerajaan Blambangan dan pada abad XVI para misionaris Portugis sudah menjejakkan kaki di sana. Konon bekas situs Gereja dan pemukiman Kristen berada di tempat yang biasa disebut "Kutho Bedah" (kota/benteng yang dihancurkan).

    Informasi tentang karya misionaris Fransiskan di Kerajaan Blambangan (mencakup sekarang wilayah Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember, Lumajang, dan Probolinggo sekarang) pada abad XVI, bisa disimak dalam buku: Sejarah Gereja Katolik Indonesia, Jilid I, hlm. 347 dst dan Eddy Kristianto OFM, Khresna Mencari Raga: Mengenang Kehadiran Fransiskan (di) Indonesia. Maumere: Lamalera, 2009, hlm. 64-72. Saya hanya akan mengangkat beberapa fakta yang menarik untuk direfleksikan dan selanjutnya merenungkan korelasinya dengan fenomena pastoral di wilayah ini pada akhir-akhir ini dalam terang misteri "Persekutuan Para Kudus".

    REALITAS MISI DI KERAJAAN BLAMBANGAN

      1. Enam ratus orang pribumi Blambangan dibaptis, termasuk kerabat raja

    Setelah kerajaan Demak muncul dan meruntuhkan Majapahit, kerajaan Blambangan menjadi satu-satunya kerajaan Hindu yang masih bertahan di tanah Jawa. Untuk membendung serangan kerajaan pesisir itu, raja Blambangan mencoba menjalin kerjasama dengan Portugis yang sudah menguasai Malaka pada 1511. Maka sejak tahun 1528 para pedagang Portugis sudah bermukim di Panarukan, kota pelabuhan kerajaan Blambangan. Namun saat itu belum ada misionaris yang berkarya di Blambangan. Baru pada 1579 undangan untuk para misionaris di Malaka dititipkan adipati Panarukan kepada Pater Bernardino Ferrari SJ, yang kapalnya menuju Maluku terpaksa berlabuh karena angin badai. Namun saat itu misi di Malaka sedang keterbatasan tenaga, para Yesuit sudah melayani Halmahera Utara dan Maluku, sementara para Dominikan melayani kepulauan Solor dan Timor.

    Baru pada 1585 pembesar misi di Malaka mengutus empat misionaris fransiskan (OFM) berkarya di Kerajaan Blambangan. Pedro Aronca dan Jorge de Viseu menetap di kota Panarukan, sementara Manuel de Elvas dan bruder Jeronimo Valente berkarya di pusat kerajaan. Kedatangan mereka disambut baik oleh raja, bahkan diberi izin untuk membangun gereja. Selama empat tahun berkarya di Blambangan, Pater Manuel de Elvas sudah berhasil membaptis 600 orang Blambangan, di antaranya juga ibu suri raja, anak raja yang sayangnya kemudian meninggal karena wabah cacar, dan dua orang pangeran kerabat raja, bapak dan anak yang kemudian memilih nama Don Antonio dan Don Paschoal. Demikian pula karya misi di Panarukan, membuahkan hasil. Bahkan seorang pedande yang masih kerabat raja juga menjadi Katolik!

    Maka jelaslah di sini bahwa di kerajaan Blambangan agama Katolik bukanlah "agama Londo", karena misionaris pertama di sini adalah Portugis. Dan sudah ada 600 orang pribumi Blambangan yang dibaptis menjadi Katolik. Dengan demikian di Kerajaan Blambangan, agama Katolik urutan kedua setelah agama Hindu. Pembaptisan para kerabat raja tentu berpengaruh pada rakyat. Dan bisa jadi ajaran Kristiani yang tidak mengenal sistem kasta menjadi daya tarik tersendiri.

      2. Bercucuran darah para martir dari Umat Katolik Kerajaan Blambangan

    Selama ini kita mengenal martir-martir yang darahnya tertumpah di bumi Nusantara, kebanyakan adalah para misionaris Eropa (Dionisius dan Redemptus, karmelit tak berkasut (OCD) yang tewas di Aceh, Simon Vaz, imam praja dari Portugis yang tewas di Halmahera Utara, para yesuit yang berkarya di Maluku dan seterusnya). Adakah orang Katolik pribumi yang telah menjadi martir, mati karena alasan iman yang dipeluknya? Ataukah filosofi "harmoni" kita yang terbiasa dengan "ngono yo ngono, ning ojo ngono" membuat Umat Katolik Indonesia tidak memiliki martir-martir pribumi yang dengan heroik berani mati karena imannya akan Kristus, seperti para martir di Jepang, Korea, dan Vietnam? Adakah dari umat Katolik pribumi Indonesia?

    Sesungguhnya kita sudah memiliki teladan iman; para pendahulu yang berani mati demi iman. Di Kerajaan Blambangan telah tercurah darah para martir pribumi. Agaknya raja Blambangan tidak senang bahwa banyak orang menjadi Katolik. Bahkan Ibu suri raja diracun hingga mati atas perintah raja. Ada yang menduga motifnya lebih karena iri hati. Sebab ibu suri yang dekat dengan para misionaris ini sebenarnya lebih berhak mewarisi tahta. Lalu, pedande di Panarukan yang menjadi Katolik itu kemudian dikejar-kejar dan dibunuh atas sepengetahuan raja. Sementara Don Paschoal, orang muda Katolik asli bumi Blambangan, tidak tergoda oleh bujuk rayu sepupunya, putri raja yang jatuh hati kepadanya. Akibatnya, dia difitnah di hadapan raja dan kemudian divonis hukuman mati. Pater Manuel de Elvas memakamkan Don Paschoal di gereja yang didirikannya. Ketika kemudian dia kembali ke Malaka, dia membawaserta tulang-belulang Don Paschoal dan memakamkannya di gereja fransiskan di Malaka. Bagi Pater Manuel de Elvas, anak muda Blambangan ini adalah martir kemurnian!

    Selanjutnya karya misi para misionaris dipersulit, bahkan empat tahun mereka dipenjarakan. Harta milik orang Katolik, baik Portugis maupun pribumi, dirampas dan tidak sedikit yang dibunuh! Kini menjadi nyata bahwa mengikuti Yesus Kristus mereka sungguh dihadapkan pada salib. Tetapi mereka tidak menyerah. Kiranya mereka meresapkan janji Sabda Yesus sendiri, "Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (Mat 5:11-12).

      3. Apakah dengan demikian berarti Karya Misi Gagal?

    Keempat misionaris itu kemudian kembali ke Malaka. Selanjutnya masih dikirim misionaris-misionaris lain ke Kerajaan Blambangan. Karya misi fransiskan ini baru berakhir ketika kerajaan Blambangan pada 1599 diserang dan ditakhlukkan oleh pasukan Muslim dari Pasuruan dan Surabaya. Godinho de Heradia melaporkan, "Kediaman umat Kristen di Panarukan dihancurleburkan dan sekarang tempat itu kosong tidak berpenghuni lagi!" (Eddy Kristiyanto, Khresna Mencari Raga, hlm. 71). Kediaman orang Kristen yang dimaksudkan barangkali merujuk situs "Kutho Bedah" (kota yang hancur), arah timur laut Panarukan.

    Karya misi fransiskan di Blambangan memang berakhir. Umat Katolik Blambangan telah tewas semua. Kerajaan Blambangan sendiri telah ditakhlukkan oleh Pasuruan. Apakah dengan demikian karya misi telah gagal? Menurut hemat saya, ketika seorang Kristen bertumbuh dalam kasih dan dengan setia mengikuti Gusti Yesus sampai mati, justru disanalah keberhasilan pewartaan Injil. Inilah doa dan harapan Paulus bagi jemaat di Filipi, "semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus" (Flp 1:9-10).

    Maka, kiranya bukan kuantitas pertambahan jumlah umat yang menjadi patokan, bukan pula megah menterengnya bangunan gereja yang menjadi tolok ukur, bukan pula banyaknya aset dan deposito yang terhimpun menjadi kriteria, melainkan pertumbuhan iman dan kasih umat, terlebih bila mereka setia pada imannya kendati mengalami penganiayaan, bahkan berani mati karenanya. Saya yakin, di antara "Semua Orang Kudus" yang kita rayakan setiap 1 November, di antaranya juga termasuk para kudus "yang tidak dikenal dan tidak terkenal" dari Kerajaan Blambangan. Semoga doa-doa mereka menyuburkan karya misi di bekas wilayah Kerajaan Blambangan khususnya, dan di Indonesia pada umumnya. Kiranya adagium sanguinis martyrum semen christianorum, darah martir adalah benih orang-orang Kristen, boleh kita amini bersama.

    MEMAKNAI PERSEKUTUAN PARA KUDUS DENGAN UMAT KATOLIK KERAJAAN BLAMBANGAN

    Umat Katolik di Keuskupan Malang sekarang ini tentu bukanlah hasil kelanjutan misi awal di Kerajaan Blambangan abad XVI. Barangkali ada yang memang umat pendatang dari keuskupan lain, atau ada juga yang menerima pembaptisan dan pembinaan iman dari para misionaris yesuit dan karmelit, dan tentunya tidak sedikit yang hanya mengenal para imam yang saat ini tengah berkarya di keuskupan Malang. Bisa jadi di antara para pembaca yang dari Keuskupan Malang pun ada yang baru tahu adanya umat Katolik dan martir-martir dari Kerajaan Blambangan ini. Saya membayangkan betapa "ngenes" (nelangsa) hati para martir Blambangan, bahwa umat Katolik di Keuskupan Malang sendiri tidak sadar bahwa darah para martir telah tercurah di tanah yang mereka pijak. Walaupun secara historis kita menjadi Katolik tidak ada keterkaitan langsung dengan Umat Katolik Kerajaan Blambangan, dalam misteri "Persekutuan Para Kudus", bukankah kita telah disatukan karena iman akan Gusti Yesus dan pembaptisan suci?

    Saya sangat tersentuh oleh pernyataan para Fransiskan Belanda yang pada tahun 1929 menapakkan kaki di Batavia. Dalam kenangan sepuluh tahun kehadiran mereka di Jawa Barat itu, mereka menyadari diri sebagai penerus para Fransiskan Portugis yang berkarya di Blambangan. Tulis mereka, "Diusir dan ditumpas pada tahun 1599 di ujung timur Pulau Jawa, Saudara-Saudara Dina (Fransiskan) muncul kembali 330 tahun kemudian (yakni tahun 1929) di ujung barat Pulau Jawa" (Eddy Kristianto, Kresna Mencari Raga, hlm. 71, catatan kaki no. 123). Bukankah kesadaran demikian juga perlu dihidupkan, secara khusus di antara Umat Katolik Keuskupan Malang, bukan saja karena menghuni tempat yang sama, melainkan juga karena telah disatukan oleh iman akan Gusti Yesus dalam Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Ada persekutuan rohani di antara semua orang yang telah dibaptis, antara kita yang masih berziarah di dunia ini dengan mereka yang masih berada di api penyucian (Gereja Menderita) dan yang sudah berbahagia di surga (Gereja Jaya). Bila para kudus ikut mendoakan kita yang masih berziarah, saya yakin bahwa doa-doa para kudus dari Kerajaan Blambangan juga ditujukan bagi pertumbuhan iman Umat Katolik, khususnya yang sekarang tinggal di wilayah Kerajaan mereka.

    MENYADARI CAMPUR TANGAN TUHAN DI BALIK PERISTIWA SERBA KEBETULAN

    Pada bagian ini saya mencoba mengangkat dua peristiwa yang terjadi dalam kurun 25 tahun terakhir ini, khususnya yang terjadi di wilayah yang dulunya termasuk Kerajaan Blambangan. Saya mengangkat peristiwanya dan mencoba merenungkannya apakah di balik peristiwa-peristiwa yang serba kebetulan ini sebenarnya ada campur tangan Tuhan sendiri. Di balik "lima roti dua ikan" usaha manusia, bukankah Tuhan sendiri yang memberkati dan melipatgandakannya. Keberhasilan karya misi tidak hanya ditentukan oleh keuletan, keteguhan, dan kreativitas mereka yang berkarya aktif, tetapi juga dukungan doa-doa banyak orang. Bila ada banyak hal yang terjadi melampaui apa yang bisa kita pikirkan, bukankah di sana kita boleh yakin bahwa Tuhan sendiri ikut campur tangan di dalamnya dan bagaimana Dia berkenan mendengarkan doa-doa. Apakah doa-doa kita sematakah? Dalam permenungan saya, tentunya juga doa-doa para kudus dari Kerajaan Blambangan.

      1. Rahmat terselubung di balik Peristiwa Situbondo

    Kita tahu apa yang terjadi dengan peristiwa Situbondo pada 10 Oktober 1996 lalu, dimana terjadi kerusuhan dan banyak gereja dibakar. Di sini saya mengajak kita melihat salah satu "rahmat terselubung" di balik peristiwa itu. Setelah peristiwa Situbondo, dilakukanlah dialog intensif antara tokoh Katolik-Kristen dan Muslim, khususnya di Jawa Timur. Aneka forum kerukunan umat beragama dan kegiatan lintas iman digalakkan. Secara khusus Gereja Katolik merasakan kedekatan dengan NU dan pengikut-pengikut Gus Dur (para Gus Dur-ian)


Gereja Paroki Maria Bintang Samudra Saat Kerusuhan Situbondo


Gereja Paroki Maria Bintang Samudra Situbondo Pasca Kerusuhan Situbondo

    Salah seorang yang terlibat langsung dalam pelbagai forum dialog pasca peristiwa Situbondo itu adalah Romo Antonius Benny Susetyo Pr, yang setelah ditahbiskan pada 3 Oktober 1996 menjadi pastor pembantu di Paroki Situbondo mendampingi Rm. Blasius Tira Pr. Keaktifan Romo Benny dalam dialog lintas iman dan kegiatan sosial kemasyarakatan ini agaknya menjadi alasan beliau kemudian dipercaya menjadi sekretaris Komisi HAK KWI selama tiga periode. Dan pada awal tahun 2017 ini Romo Benny Susetyo Pr, dengan seizin Mgr. Pidyarto O.Carm, mendapat kepercayaan untuk tugas kenegaraan, masuk dalam Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila. Kendati beliau tidak pernah studi khusus ataupun menjadi dosen "Filsafat Politik atau Filsafat Pancasila" penunjukan beliau dalam UKP-PIP ini menurut saya, bila ditarik jauh ke belakang, ada keterkaitannya dengan aktivitas beliau pasca kerusuhan Situbondo 1996. Dari momentum inilah beliau kemudian berkenalan dengan Gus Dur dan Romo Mangunwijaya Pr. Intinya, peristiwa Situbondo telah memberikan rahmat tersendiri untuk Gereja Katolik Keuskupan Malang.


Romo Bennny Susetyo Pr bersama Gus Sholah, adik Gus Dur, dalam suatu forum

    Selain Romo Benny Pr, tentu masih banyak romo-romo lain yang berkiprah dalam dialog lintas iman. Secara kelakar rada serius, para romo praktisi dialog lintas iman, khususnya dengan kalangan NU, biasanya kami tambahi gelar "Gus" (sebutan kehormatan anak kyai); sehingga saat ini di Keuskupan Malang ada Gus Ben (Romo Benny Susetyo Pr), Gus Fajar (Romo Fajar Tedjosukarno Pr) dan Gus Hugo (Romo Hugo Susdianto O.Carm). Dialog lintas iman merupakan salah satu bentuk misi Keuskupan Malang. Peristiwa Situbondo bolehlah menjadi pengingat kita semua bagaimana Gereja mesti bergandengan tangan dengan semua orang yang berkehendak baik untuk mewujudkan nilai-nilai universal Kerajaan Allah di bumi Pancasila.

      2. Pengangkatan Mgr Pandoyoputro O.Carm sebagai Pinisepuh (Tetua) Masyarakat Osing di desa Kemiren (14 Januari 2012)

    Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi, keturunan dari penduduk Kerajaan Blambangan di masa lalu. Kata Using atau Osing berasal dari kata "sing" atau "hing" yang berarti "tidak". Latar belakangnya, penduduk kerajaan Blambangan terus menerus mendapatkan serangan dari Kerajaan Majapahit, Pasuruan-Demak, Bali, Mataram dan VOC. Hal ini mengakibatkan jumlah mereka berkurang drastis karena peperangan dan genocide oleh VOC dan Mataram pada abad ke-18, maka bisa dimengerti bila mereka cenderung menutup diri ("menidak") terhadap orang luar. Tidak seperti bahsa Jawa umumnya, bahasa Osing bersifat egaliter dan banyak kata merupakan tutunan bahasa Jawa Kuno. Suku Osing tidak mengenal sistem kasta. Saat ini komunitas Osing banyak tersebar di Banyuwangi bagian tengah dan utara. Komunitas Osing yang cukup besar dan menjadi desa adat adalah di desa Olehsari dan desa Kemiren, kecamatan Glagah. Kendati mereka memiliki kesenian khas suku Osing seperti Gandrung Banyuwangi, Janger, Kuntulan, Kendang Kempul, dan Jedor, kedua desa adat ini memiliki tarian yang berbeda. Masyarakat Osing Olehsari memiliki tarian Seblang, sedangkan Osing Kemiren memiliki tari Barong.

    Ketika bertugas di Paroki Banyuwangi, Romo D. Fajar Tedjo Soekarno Pr bersama Bapak Setiawan Subekti (ahli dalam bidang kopi di Genja Arum) mencoba mencari kontak masuk dengan masyarakat Osing desa Kemiren. Perjumpaan dan dialog dengan budaya setempat ini berbuah, salah satunya pada 14 Januari 2012 Mgr. Pandoyoputro O.Carm diangkat menjadi pinisepuh (tetua) masyarakat Osing desa Kemiren. Selanjutnya perwakilan Masyarakat Osing Kemiren juga menghadiri perayaan 25 tahun episkopat Mgr. Pandoyo (2014) dan dalam Misa requiem pemakaman beliau (Oktober 2016). Dalam misa pesta perak episkopat Mgr. Pandoyo, menurut kesaksian Romo Fadjar, mereka cukup terkesan akan keteraturan dan kekhidmatan orang Katolik selama misa kudus berlangsung. "Iki suwarga hang katon" (Ini surga yang kelihatan) demikian komentar mereka tentang perayaan Ekaristi yang mereka ikuti itu.


Mgr. Pandoyoputro O.Carm menerima pakaian adat Masyarakat Osing Kemiren

    Setiap tahunnya, pada tanggal 2 Syawal (Idul Fitri hari kedua) masyarakat Osing Kemiren mengadakan upacara bersih desa, yang diberi nama Barong Ider Bumi. Prosesi ini diawali dengan Sembur Otik-Otik dimana tokoh adat berjalan di depan sambil melemparkan uang logam, bunga dan beras kuning. Menariknya, sudah sepuluh tahunan ini Romo Fadjar Pr dipercaya menjadi tokoh adat untuk ritual Sembur Otik-Otik ini. Dalam ritual ini beliau dipercaya untuk mendoakan pada awal prosesi itu dan melemparkan uang logam, bunga dan beras kuning sepanjang jalan prosesi. Kedekatan mereka dengan Romo Fadjar Pr memungkinkan ritual Sembur Otik-Otik ini dipercayakan kepada orang luar, bahkan seorang imam Katolik.


Romo Fadjar Pr memimpin "Sembur Otik-Otik" dalam ritual "Barong Ider Bumi"

    Bila kita menengok akan leluhur orang Osing, dimana sudah cukup banyak orang Kerajaan Blambangan yang dibaptis menjadi Katolik, bahkan menjadi martir, kiranya kedekatan Gereja Katolik dan masyarakat Osing ini bukanlah sekedar kebetulan belaka. Mayoritas masyarakat Osing adalah Muslim yang punya kedekatan dengan alam dan sesama, sebagian memeluk Hindu, dan hanya satu-dua orang yang beragama Katolik. Namun, kabar gembiranya adalah:

1. Visi Misi Keuskupan Malang sudah dibuatkan lagu dalam Bahasa Osing dengan judul "ggayuh Idaman" (Menggapai Cita-cita, Lihat Lampiran)
2. Pusat Musik Liturgi (PML) telah mengadakan work shop dan menerbitkan buku nyanyian Liturgi dalam Bahasa Osing
3. Tim Lembaga Alkitab Indonesia (LAI – Jakarta) sedang memproses penerjemahan Alkitab dalam bahasa Osing.

    Di balik aneka hal yang kelihatannya serba biasa dan mungkin juga kebetulan ini, bisa jadi Tuhan hendak menyatakan sesuatu. Yang pasti, leluhur orang-orang Osing ini yang sudah berdekatan dengan Gusti Yesus nicaya juga mendoakan generasi penerus mereka.

    Itulah dua fenomen pastoral dewasa ini yang terjadi di wilayah Kerajaan Blambangan, tempat darah para martir telah tertumpah. Namun, peziarahan iman kita masih terus berlanjut dengan pelbagai tantangan dan juga rahmat penyertaan Tuhan. Maka menutup refleksi ini, kita boleh berseru: para kudus dan para martir dari Blambangan, doakanlah kami!

    Quezon City - Metro Manila, PW St. Dominikus, 8 Agustus 2017



Klik Gambar teks lagu untuk memperbesar ukuran gambar.
Lampiran : Lagu "Nggayuh Idaman" - Visi Misi Keuskupan Malang (bahasa Osing)

jika Lagu tidak terputar otomatis, silahkan download Lagu "Nggayuh Idaman" - Visi Misi Keuskupan Malang (bahasa Osing), klik DISINI...

 

Didik Bagiyowinadi Pr

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/