Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Materi iman
Dokumen Gereja

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN

Tahun A/2 Januari 2011

Yes 60:1-6 Ef 3:2-3a.5-6 Mat 2:1-12

PENGANTAR

Hari ini kita merayakan penampakan Tuhan (Yunani: epiphaneia). Artinya, Allah menampakkan diri untuk dikenal. Orang menampakkan diri supaya dikenal. Dan dengan saling mengenal orang ingin saling berhubungan, saling berkomunikasi, mengadakan relasi satu sama lain. Dalam merayakan Pesta Natal Tuhan menampakkan diri dalam Yesus kepada orang-orang biasa dan sederhana, kepada golongan orang "kecil", seperti para gembala. Tetapi hari ini Gereja lewat Injil Matius menghidangkan penampakan diri Yesus Kristus sebagai Tuhan, sebagai Almasih Israel, Putera Allah dan Penyelamat dunia. Gereja hari ini merayakan penghormatan dan penyembahan orang-orang Majus atau orang-orang Bijak dari Timur, yang sering disebut juga Ketiga Raja. Ternyata Almasih datang bukan hanya untuk orang-orang Yahudi, tetapi kepada semua bangsa. Baik untuk orang kecil, maupun untuk orang besar! Tanpa beda.

 

HOMILI

Injil hari ini, bila dibaca dan dipahami dengan baik, mengajak kita untuk bertumbuh dan berkembang menjadi orang beriman sejati secara dewasa . Kita bukan hanya ikut terharu, tergerak oleh kesederhanaan kelahiran Yesus di Betlehem, tetapi kita juga harus memiliki kepekaan dan keberanian orang-orang "Besar", yaitu "orang-orang Majus", untuk mau dan bersedia meli-hat "bintang" Allah di langit di tengah dunia hidup kita yang memang menarik, tetapi juga makin penuh tantangan. Perayaan epifani/penampakan diri adalah ajakan kepada kita, untuk menjadi orang beriman yang sungguh dewasa, dan mau meninggalkan status iman dan sikap hidup kristiani, yang masih hanya bersifat formal/resmi, namun sebenarnya masih bersifat keanakanakan. Bangsa Yahudi Israel secara resmi adalah sebangsa dengan Yesus sebagai Penyelamat. Para Majus dari Timur, memang orang-orang besar, tetapi dianggap "kafir", karena bukan orang Yahudi. Tetapi justru mereka ini peka melihat "bintang", yang menunjukkan dan membawa mereka kepada Penyelamat sejati yang mereka nantikan. Kita ini resminya disebut kristiani, tetapi apakan kita sungguh mengenal Kristus?

Orang-orang Majus, yang disebut dalam Injil Matius, oleh masyarakat dianggap sebagai orang-orang, yang dapat melihat lebih jauh daripada melulu lewat pengetahuan biasa. Mereka disebut kaum ahli bintang (astrolog), yang dapat membaca tanda-tanda peristiwa penting yang dapat terjadi di bumi. Mereka itu adalah "orang-orang penting". Para Majus melihat bintang sebagai lambang raja yang harus datang. Patut diperhatikan perbedaan yang dialami para gembala sederhana di sekitar Betlehem dan yang dialami oleh "orang-orang besar" dari Timur itu. Para gembala yang sederhana dapat langsung melihat dan bertemu dengan Yesus Almasih, sedangkan orang-orang Majus, orang-orang Besar itu, harus berjerihpayah datang dari jauh, dan harus mencari dan bertanya di mana mereka dapat menemukan raja yang ditunjukkan oleh bintang itu.

Apakah pesan yang terdapat dalam ceritera Injil itu kepada kita?

Ternyata kedatangan bayi Yesus di Betlehem menimbulkan masalah dan kebingungan dalam hidup Maria, Yusuf, Herodes, Para Majus, seluruh penduduk Yerusalem dan semua bayi di Betlehem. Tetapi sekarang pun, bila kita sungguh ingin berhadapan dengan Allah secara serius, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri ini. Bila dahulu Yesus sebagai bayi menimbulkan masalah bagi orang-orang sezaman-Nya, apakah Yesus yang adalah Kristus yang dewasa kini dapat menggerakkan dan menantang hidup kita sekarang ini juga? Apabila masyarakat di Betlehem bereaksi terhadap Yesus sebagai bayi, baik para gembala yang sangat sederhana maupun Raja Herodes dan ketiga orang Majus dari Timur, sebagai orang-orang "besar", apakah kita sekarang ini, yang merasa diri sebagai orang yang maju, terpelajar, berpendidikan tinggi atau bergaya sebagai orang modern juga bereaksi terhadap Yesus Kristus yang dewasa?

Ceritera tentang ketiga orang Majus itu besar artinya bagi kita! Ternyata perkembangan rohani, pengalaman batin, hubungan pribadi manusia dengan Allah sekarang ini sangat alot, separo-separo, bahkan sangat lambat . Ketiga orang Majus itu dahulu harus menempuh jalan jauh untuk menemukan Yesus Penyelamat sebagai bayi. Tetapi mereka rela. Dan sekarang perjalanan kita untuk bertemu dengan Kristus pun ternyata tidak mudah dan harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh! Ketika orang-orang Majus bertemu dengan Yesus di Betlehem, berubahlah sikap hidup mereka. Mereka berani memutuskan pulang melalui jalan lain, walaupun lebih jauh dan lebih sempit. Mereka itu berubah sikap hidupnya! Mereka tak mau bersahabatan dengan Herodes!

Apakah begitu juga hidup kita yang kita miliki dan hayati sejak kita mengenal Yesus Kristus sebagai Penyelamat kita, baik sebagai bayi di Betlehem maupun sebagai orang dewasa di Nasaret? Seperti juga dialami oleh ketiga orang Majus itu, kita pun harus berubah. Kita menyebut diri orang kristiani, namun sikap hidup kita masih jauh dari hasil perjumpaan kita lewat baptis dengan Yesus Kristus. Bila kita sungguh mau berjumpa dengan Kristus dan mengenal diri-Nya secara nyata, kita pasti tidak akan mau tetap selalu sama seperti orang yang belum mengenal Dia, seolah-olah belum dibaptis! Kita harus sungguh berani berubah! Apakah hidup kita sungguh kristiani?

Apa yang dialami oleh ketiga orang Majus yang diceriterakan dalam Injil Matius hari ini ialah kegembiraan sejati. Yaitu merasa sungguh mene-mukan Penyelamat yang sebenarnya. Mereka menemukan Penyelamat mereka justru di Betlehem, yang justru begitu sederhana. Kita yang hidup sekarang ini, yang makin maju, diajak untuk sering mau melihat ke atas untuk melihat bintang yang harus menunjukkan jalan, yang harus kita tempuh, apabila kita mau sungguh menjadi kristiani, menjadi pengikut Kristus sejati. Kita harus berani menempuh jalan hidup yang lain daripada yang masih kita miliki dan kita tempuh!

Seperti ketiga orang Majus, kita harus berani untuk tidak mendekati dan mengikuti tawaran Raja Herodes, yang mau menyingkirkan Yesus, tetapi justru berani memilih jalan yang ditunjukkan oleh bintang menuju keselamatan yang telah diketemukan di Betlehem. Jalan itu memang jauh, sempit dan berat, namun benar dan pasti! Raja kita bukan Herodes yang memperkenalkan diri di Yerusalem, melainkan Yesus yang menampakkan diri di Betlehem! Amin.

 

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/