3 Langkah Pewartaan yang Mujarab di Jaman Tempe-Tahu Mahal
(Belajar dari Umat Israel di Masa Pembuangan)
P. Josep Susanto Pr
Seorang pastor akan bahagia sekali kalau setelah ia mempersembahkan Perayaan Ekaristi pada hari Minggu, ada umat yang berkomentar : “Pastor, terima kasih atas kotbahnya tadi, bagus dan sangat menyentuh saya.” Sebab dengan demikian segala kerja kerasnya dalam mempersiapkan kotbah sepanjang minggu, tidaklah sia-sia. Selain itu juga seorang pemandu Kitab Suci di lingkungan, akan merasa berbungga-bungga kalau sesama umat yang diajarkan tentang Kitab Suci memperoleh semangat tambahan dengan melihat kesaksian hidup dari si pewarta sendiri.
Tuhan Yesus dalam perutusan agungNya, mengutus para muridNya dan juga kita untuk mewartakan Injil atau kabar gembira. Tugas itu ditempuh oleh Gereja dengan berbagai macam cara salah satunya adalah dengan pewartaan. Kita semua yang telah dibaptis dan menerima Sakramen Krisma, mau tidak mau, suka tidak suka adalah seorang pewarta. Pewartaan mencakup dua bidang, yaitu kotbah/pengajaran dan juga kesaksian hidup sehari-hari sebagai murid Kristus.
Dalam bagian ini kita akan memperdalam bagaimana menjadi seorang pewarta yang baik, khususnya dalam kotbah dan kesaksian hidup sehari-hari. Kita mungkin bertanya : “Seperti apakah pewartaan yang baik itu? Apa saja kriterianya? Apakah harus lucu (sedikit saru)?, dengan alat peraga?, banyak ceritanya?, menggunakan soundsystem yang mahal?, banyak mengutip ayat-ayat Kitab Suci?, atau apa?” Mari kita melihat lebih jeli lagi, sebetulnya apakah yang membuat suatu pewartaan menjadi menarik, menyentuh dan membawa diri si pewarta dan juga pendengarnya mengalami kehadiran dan sapaan Allah dalam hidup mereka?
Untuk menjawabnya, saya mengajak kita semua untuk memahami terlebih dahulu apa saja yang harus disadari dan dimiliki oleh seorang pewarta untuk mewartakan firman Allah. Kita bisa belajar dari pengalaman umat Israel di masa pembuangan, bagaimana mereka mampu menghidupkan kembali iman dan harapan mereka setelah krisis di pembuangan.
Belajar dari Umat Allah di Pembuangan
Pembuangan ke Babel merupakan suatu krisis besar dalam bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah. Mereka kehilangan segala sesuatu yang selama ini menjadi sandaran iman mereka, yaitu : tanah, yang kepemilikannya merupakan lambang kesetiaan Allah terhadap janjiNya; Bait Allah, sebagai tanda tempat tinggal Allah di tengah umatNya; Raja, seseorang yang atas nama Allah membimbing umatNya. Pada saat pembuangan dan setelah pembuangan, semua unsur tersebut telah dimusnahkan. Jati diri mereka sebagai umat Allah telah dihancurkan. Umat Allah berjalan tanpa arah tujuan, tanpa kuasa, tanpa hak privilese apapun dan tercerai berai. Pada saat itu ada godaan di antara sekelompok umat Israel untuk berpikir seolah-olah tidak ada satu pun yang mampu menumbuhkan harapan bagi Israel, Allah nampaknya sudah tidak peduli lagi dan sudah melupakan Israel. (Bdk. Yes 40:27; Mzm 22:2).
Tetapi pada kenyataannya, Allah tidak pernah meninggalkan umatNya. Ia tetap hadir dengan kasih yang sama seperti sedia kala (Yes 49:15). Allah selalu hadir secara baru di tengah-tengah umatNya. Nah tantangannya adalah bagaimana memahami dan mengalami pengalaman baru akan kehadiran Allah tersebut dalam sejarah umat manusia? Bagaimana menterjemahkan dan merumuskan pengalaman baru tersebut? Baru dalam semangatnya, juga dalam metodenya dan pengungkapannya, sehingga pewartaan Sabda Allah sungguh mampu menyentuh dan menyapa setiap orang yang mendengarnya sepanjang segala jaman.
Bagaimana Pewartaan Kabar Gembira Diperbaharui dalam Pembuangan
1. Pengalaman Baru akan Allah
Ternyata oleh sebagian kecil umat Israel (murid-murid nabi Yesaya), krisis yang mereka alami tidak membuat mereka melepaskan imannya. Mereka tidak berhenti percaya bahwa Allah selalu ada di pihak mereka. Kesempatan krisis justru menjadi kesempatan bagi mereka untuk pemurnian dan kelahiran kembali iman mereka. Mereka menemukan kehadiran Allah secara baru dan mampu mengolahnya menjadi Kabar Baik bagi orang-orang sejamannya (Bdk. Yes 49:9-11, 52:7-10; 61:1).
Kehadiran Allah secara baru itu mereka ungkapkan dalam berbagai kiasan-kiasan yang lebih personal, misalnya : Allah adalah Bapa (Yes 63:16; 64:67), Allah seperti seorang ibu (Yes 49:15; 46:3; 66:12-13), Allah adalah seorang pembebas (Yes 41:14; 43:14; 44:6), Allah adalah suami umatNya (Yes 54:5; 62:5). Dalam pengalaman baru akan Allah ini, umat Israel bertemu kembali dengan Allah para leluhurnya. Mereka menemukan bahwa Dia masih YHWH, yang artinya Allah beserta kita. Dari pengalaman baru itulah, mereka mampu sampai pada penghayatan dan pengenalan akan Allah secara baru pula. Kalau sebelum pembuangan, Allah hanya dikenal dan dihayati sebagai pencipta, pengasih, pribadi yang memberikan berkat serta kutuk, setelah pembuangan Allah diimani secara pribadi, dalam ungkapan yang lebih dalam dan personal sifatnya.
Langkah pertama ini penting dimiliki oleh seorang pewarta. Maksudnya adalah setiap pewarta dituntut hari demi hari untuk memiliki pengenalan yang makin mendalam tentang Allah. Iman serta pengenalan akan Allah yang diterima oleh seorang pewarta ketika masih kanak-kanak (muda) haruslah berkembang seiring dengan tingkat kedewasaannya. Seorang pewarta diajak untuk semakin dekat dengan Allah dan memiliki hubungan yang semakin erat dan pribadi sifatnya. Sikap puas diri hendaknya dijauhkan dalam diri seorang pewarta. Apa yang ia baca dan pelajari, harus diolah terus menerus, diuji dalam kehidupan nyata dan dikembangkan bagi sesama. Salah satu pertanyaan pembantu dalam langkah pertama ini adalah : Siapakah Yesus bagiku ketika aku masih anak-anak, remaja dan dewasa seperti sekarang ini? Apakah aku mengenalNya semakin mendalam atau semakin kabur? Bagaimana kehadiran Allah aku rasakan dan maknai dalam saat-saat penting dalam hidupku (bahagia, sukses, sedih, krisis, gagal)?
2. Membaca Masa Lalu secara Baru
Pewahyuan Allah kepada Israel ternyata tidak ditangkap secara utuh oleh umat Israel sebelum masa pembuangan. Setelah Israel mengalami pembuangan, mau tidak mau mereka harus berinteraksi dengan bangsa lain dan hidup bersama dengan mereka. Bagi murid-murid nabi Yesaya, ternyata pengalaman baru tentang Allah mampu memberikan pandangan baru pula yang lebih luas dan mendalam sehingga mereka dapat memahami secara lebih baik apa yang telah dikerjakan Allah di masa lampau terhadap Israel. Mereka mampu menangkap perwahyuan Allah dengan lebih jernih, menangkap nilai-nilai yang lebih dalam, dan mampu memahaminya di dalam situasi mereka sendiri. Selain itu juga pengalaman yang baru akan Allah, mampu mengkoreksi kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu. Israel yang lebih memahami iman mereka dengan lebih baik setelah pembuangan contohnya :
- Umat Allah, sekarang bukan lagi suatu bangsa, melainkan terdiri dari bangsa-bangsa, termasuk orang asing di dalamnya (Yes 56:3.6-7).
- Tanah dan Bait Allah akan dibagikan juga kepada penduduk asing (Yeh 47:22-23).
- Bait Allah bukan hanya untuk orang Yahudi, melainkan untuk semua orang (Yes 56:7)
- Ibadat, bersifat universal dan orang-orang asing pun bisa mengambil bagian di dalamnya (Yes 57:7).
- Para imam, diambil bukan hanya dari Lewi atau Zadok, melainkan juga dari luar (Yes 66:21)
- Kerajaan bukan lagi Kerajaan Daud, melainkan Kerajaan Allah yang universal. Allah sendiri yang akan memegang kuasa (Yes 52:7).
- Status umat pilihan bukan lagi suatu privilese, melainkan suatu pelayanan yang menyangkut semua orang, untuk menjadi pembawa keadilan dan menjadi terang bangsa-bangsa (Yes 41:8; 49:6).
Langkah kedua ini juga diperlukan dalam diri seorang pewarta. Pewartaan yang baik adalah pewartaan yang berpijak pada pengalaman hidup nyata. Yang kita wartakan adalah pengalaman hidup kita yang konkret termasuk jatuh bangun kita dalam mengasihi Allah dan sesama. Pengalaman hanya akan menjadi cerita biasa bila tidak diolah terlebih dahulu dalam iman. Pengalaman baru kita akan Allah hari demi hari, diharapkan juga mampu membaca sejarah hidup kita, setiap pengalaman yang pernah kita alami di masa lalu. Seorang pewarta diharapkan mampu mengolah setiap pengalamannya termasuk pengalaman pahit dan menyakitkan di masa lalu. Allah hadir dalam hidup manusia untuk memanusiakan manusia itu sendiri. Artinya, bersama Allah kita mampu memberi makna hidup kita bahkan pengalaman di masa lalu menjadi lebih berarti. Itulah yang kita wartakan sebagai kesaksian yang sejati kepada orang yang kita wartakan. Harapannya, semoga mereka pun terbantu untuk memaknai hidup mereka sendiri.
Langkah ini penting, karena masih banyak orang jaman sekarang yang sebenarnya masih dihantui oleh masa lalunya. Masa lalu seseorang dapat memenjarakan seseorang sehingga orang tersebut tidak bisa menjadi manusia yang sejati. Seorang pewarta harus berani mengolah pengalaman-pengalaman pahitnya di masa lalu yang timbul dari hasil didikan orang tua, luka-luka batin yang timbul karena penolakan, kedosaan, kegagalan dan lain sebagainya. Harapannya, seorang pewarta mampu melihat semua pengalaman itu dalam terang kasih Tuhan dan mampu berdamai dengan masa lalunya.
3. Membaca realitas sekarang secara baru
Memahami dan menangkap pengalaman Allah secara baru ternyata membawa kita untuk menghadapi berbagai macam peristiwa masa sekarang dan masa depan secara lebih realistis dan kritis seperti yang dialami oleh sekelompok orang Isreal.
Pada waktu Israel kembali dari pembuangan, kota Yerusalem sudah menjadi puing, tembok-temboknya runtuh, tak ada lagi gerbang-gerbangnya. Tanah mereka telah dibagi-bagi dan diduduki oleh orang lain, orang asing beribadat di Bait Allah. Setelah mereka kembali ke pembuangan, mereka tidak lagi mempunyai raja. Mereka tidak lagi mempunyai kekuasan politik atau militer. Mereka hanya sekelompok kecil orang beragama yang tak punya arti apa-apa, tenggelam di tengah kerajaan Persia yang luas. Suka tidak suka mereka dituntut oleh situasi untuk hidup bersama orang lain. Apa yang harus mereka perbuat???
Bagi sebagian orang Israel, bangsa pilihan Allah, situasi semacam ini adalah suatu mala petaka besar. Ada godaan untuk bersikeras kembali ke tata kehidupan mereka yang lama, seperti : usaha untuk mengusir bangsa-bangsa lain dari tanah mereka, melarang bangsa lain beribadah di Bait Allah mereka, mengangkat lagi raja baru dan membangun kekuatan politik yang baru. Tetapi usaha itu tidaklah realistis. Namun murid-murid nabi Yesaya ternyata mampu untuk melihat keadaan saat itu dengan lebih realistis. Seperti bunga cantik di padang yang diterpa badai, benihnya tersebar dan melahirkan bunga yang baru di tempat yang lebih luas. Dengan cara yang sama, murid-murid nabi Yesaya dipersiapkan untuk tugas yang baru yaitu menjadi terang bagi segala bangsa dan menjadi berkat bagi semua bangsa. Itulah arti beriman dalam realitas kehidupan.
Relevansi bagi kita di jaman sekarang
Pewartaan kabar baik tentang Allah tidak cukup hanya dengan berbicara tentang Allah. Allah juga harus ditampakkan dan dihadirkan. Pada langkah ketiga ini seorang pewarta diharapkan mempunyai sikap mendengarkan, berdialog, lemah lembut, mau menerima dan mempergunakan bahasa yang sederhana dan segar. Kita tidak perlu bersikap sebagai seorang pakar yang mengetahui segala sesuatu, melainkan sebagai orang yang ingin berbicara dengan semua orang.
Kemajuan zaman beserta ilmu pengetahuan dan teknologinya sedemikian pesat dan mengagumkan. Hal-hal yang pada masa sebelumnya dianggap mustahil menjadi mungkin dan mudah. Di satu sisi tampaknya manusia mampu mengatasi alam, - suatu hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya - , tetapi di sisi lain fakta kemajuan ini harus dibayar sangat mahal dengan rusaknya keseimbangan alam karena telah terjadi penggunaan sumber daya alam secara berlebih-lebihan. Hal itu membuat alam tidak lagi bersahabat dengan manusia, karena harmoninya telah dirusak oleh manusia itu sendiri. Sampai-sampai kita bingung, mengapa harga tempe-tahu bisa melambung tinggi dan tidak terjangkau oleh masyarakat luas. Padahal hampir semya orang Indonesia sudah sangat “akrab” dengan makanan yang satu ini.
Yang terjadi dengan harga tempe-tahu pun hanyalah riak-riak kecil dari pergolakan yang terjadi sesungguhnya. Masih banyak hal lain lagi yang mampu membuat kita terus mengelus dada. Di tengah-tengah perubahan dan arus yang semakin tidak menentu ini, sanggupkah seorang pewarta membaca tanda-tanda zaman ini? Dan yang lebih penting lagi adalah : Bagaimana kabar gembira dapat terus diwartakan di tengah pergolakan-pergolakan itu? Ini tantangan yang tidak mudah, tetapi bukan berarti mustahil. Seorang pewarta diajak untuk membantu umat supaya imannya bertahan serta bertumbuh dan dalam imannya itu umat diharapkan dapat menghadapi berbagai macam gejolak dalam hidupnya dengan lebih arif.
Salah satu alasan orang tidak mau bertumbuh dalam iman dan menolak pewartaan adalah cara pandang lama yang mereka hidupi. Mereka terkungkung oleh pikiran-pikiran sempit mereka sendiri dan berenang dalam limbah dosa mereka. Sebagai seorang pewarta kita diajak untuk menawarkan suatu cara pandang baru dan cara hidup yang baru pula, yaitu hidup bersama Allah, sesama dan lingkungan alamnya, membentuk suatu harmoni atau tata dunia baru. Karena dengan demikian hidup manusia diangkat martabatnya oleh Allah sehingga memperoleh hidup yang sejati sebagai cita Allah yang sejati.