Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXXII / B

1 Raj 17:10-16 Ibr 9:24-28 Mrk 12:38-44

PENGANTAR
      Dalam perayaan Ekaristi Hari Minggu ini, dalam Bac.I dari Perjanjian Lama dan dalam Injil Markus, kita diperkenalkan dengan 2 orang janda, yang dengan menantang kita dengan keyakinan, kemurahan hati dan iman mereka yang bulat. Ibaratnya kedua perempuan janda itu mengundang kita untuk meninjau kembali pengertian dan sikap kita terhadap kaum miskin dan pengertian kita tentang kemiskinan. Marilah kita berusaha memahami pesan Kitab Suci kepada kita tentang kemurahan hati dengan teladan kedua janda tersebut.

HOMILI   

1. Dalam Bacaan Pertama disebut Nabi Elia. Apa yang dilakukan oleh janda dalam Perjanjian Lama itu harus dilihat dalam hubungannya dengan Elia sebagai nabi. Nabi adalah pewarta sabda Allah. Ia hanya melalukan apa yang dikatakan Allah kepadanya. Bagi siapapun sangat mutlak hakiki untuk berhubungan dengan Allah, mendengarkan sabda-Nya, sebelum melakukan sesuatu. Nabi Elia diutus melaksanakan sabda Allah, yaitu pergi ke Sarfat, yang artinya “tempat percobaan”, yaitu daerah orang-orang yang anti Allah bangsa Israel. Meskipun begitu besar risiko yang dihadapi Elia di Sarfat untuk memasuki daerah anti-Yahwe itu, Elia bersedia melakukannya.

Di Sarfat itu sorang janda miskin mendengarkan dan melaksanakan perintah Elia untuk mencarikan makanan baginya, seperti Elia juga mendengarkan dan melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Mengapa? Karena janda itu yakin akan kekuasaan Allah, yang akan memberikan kepada Elia, anaknya dan dirinya apa yang dibutuhkan untuk hidup mereka!

Apa pesan Kitab Perjanjian Lama itu kepada kita?
Berkat kesediaan dan kemurahan hati si janda, dan berkat kesetiaan Elia kepada perintah Allah, maka Allah meneguhkan kepercayaan Nabi Elia, memper-kuat kemapuannya untuk melaksanakan tugasnya. Dan Allah menggunakan Elia untuk menjaga dan meneguhkan adanya kebutuhan hidup untuk si janda dan anaknya. Allah akan memperhatikan kita selalu sampai di luar yang kita harapkan, juga bila kita bersalah ataupun takut!

2. Dalam Injil hari ini Yesus memuji sumbangan atau korban si janda. Ternyata bahwa ukuran yang harus dipakai untuk menilai “besar” atau “kecil”nya sumbangan atau pemberian bahkan persembahan kita sungguh lain dengan ukuran kita pada umumnya! Nilai sumbangan itu bukan dilihat dari berapa besar atau berapa banyaknya yang kita persembahkan kepada Allah, atau berapa banyaknya diberikan dalam kantong kolekte dalam misa. Tetapi justru berapa banyaknya yang masih tersimpan dan tertinggal untuk kita sendiri! Orang yang memberikan sebagian dari miliknya, masih selalu ada sisanya!

Si orang perempuan dalam Injil itu miskin, sebab ia adalah janda. Ia total tergantung dari orang-orang lain. Sebagai janda yang kehilangan suaminya, ber- arri kehilangan juga sumber kebutuhan hidupnya. Seorang janda tergantung hidupnya dari kebaikan sanak saudara atau dari salah seorang dari linkungan yang bersedia membantunya. Uang dua peser yang dimiliki si janda rupanya adalah seluruh miliknya. Baik dengan dua peser itu maupun tanpa uang sekecil itupun ia adalah seorang yang total tergantung hidupnya. Ia tidak memiliki status hidup yang minimal wajar. Ia total tergantung dari rahmat Allah, namun….ia sungguh kaya dalam kerahiman Allah!

Yesus tidak pernah mengutuk orang kaya. Ia hanya menegaskan, bahwa sukarlah bagi orang kaya memasuki Kerajaan Allah. Apakah Yesus memuji si janda yang menghabiskan/menguras miliknya yang begitu kecil untuk Bait Allah? Apakah Yesus mau membuat orang miskin sebagai tokoh ideal? Apakah Yesus menganjurkan supaya semua orang menjadi miskin? Kiranya pada umumnya tidak ada orang yang ingin hidup hanya atas pemberian orang lain untuk segala kebutuhan minimal untuk hidupnya! Apakah uang memang bertujuan untuk disimpan dalam bank, dan bukan digunakan untuk memenuhi tujuan adanya uang itu? Apakah uang tidak lebih baik digunakan untuk membantu orang lain? Untuk memberi makan kepada orang lapar; menyembuhkan orang sakit; memberi tempat tinggal atau rumah yang lebih pantas; untuk membangun masyarakat yang warga-warga saling menghargai dan menghormati secara lebih manusiawi, tanpa perbedaan begitu besar? Apakah hidup dan perhatian kita hanya berkisar di soal uang dan kekayaan? Apakah kita sungguh merasa dan sadar, bahwa kita sebenanya tergantung total dari Allah? Dan bahwa Allahlah yang membuat kita ini kaya? Kita menganggap dan merasa diri kita sebagai pemilih total ataukah sebagai pengurus, bendahara atau pengatur milik Allah, yang ditujukan kepada semua orang secara manusiawi, artinya secara adil dan demi kasih?

Si janda itu adalah teladan seseorang yang memiliki iman/kepercayaan yang berlandasan pada kasih kepada Allah: kasihnya kepada Allah dan kasih Allah kepadanya. Ia adalah pengurus/pengatur dan bukan pemilik miliknya yang begitu sedikit itu! Si janda itu memberi pesan kepada kita, bahwa suatu ketergantungan bukanlah menekan atau menghilangkan harapan, melainkan dapat membimbing kita untuk hidup dengan tenang, sungguh gembira dan penuh rasa syukur.

Semoga si janda miskin ini menolong kita untuk memiliki dan menghayati kehidupan kita di dunia ini secara sadar akan kebaikan Allah kepada kita, yang haru kita balas dengan kasih kita kepada-Nya, tetapi juga kepada sesama kita, yang juga dikasihi-Nya bersama kita.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/