Dokumen Gereja
Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id |
Cari Kata dalam Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id |
|---|---|
| 32. | Karena refleksi ini ditujukan kepada semua orang yang punya kehendak baik, bukan hanya kepada orang katolik saja, maka tepatlah bahwa untuk lebih mendekatkan diri kepada mereka, berbicara mengenai Yesus sebagai salah satu teladan bagi para komunikator. ?Pada jaman akhir ini? Allah Bapa ?telah berbicara kepada kita dengan perantaraan seorang Putera? ( Ibr. 1:2 ); dan Putera ini mengkomunikasikan kepada kita sekarang dan selalu kasih Bapa dan arti terdalam dari hidup kita. ?Selama Dia ada di dunia ini, Kristus mewahyukan Diri-Nya sebagai komunikator yang sempurna. Lewat Penjelmaan-Nya, Dia sepenuhnya menyamakan Diri-Nya dengan mereka yang harus menerima komunikasi-Nya, dan Dia memberikan pesan-Nya bukan hanya dengan kata-kata tapi dalam seluruh cara hidup-Nya. Dia berbicara dari dalam, yakni dari desakan umat-Nya. Dia mewartakan pesan ilahi tanpa takut atau kompromi. Dia menyesuaikan diri kepada cara bicara dari umat-Nya dan pada pola pikir mereka. Dan Dia berbicara mengenai tanda-tanda jaman (Communio et Progressio 11 ) Selama hidup Yesus di muka umum orang banyak darang dari mana-mana untuk mendengarkan Dia berkotbah dan mengajar (lih. Mat. 8: 1,18; Mrk. 2:2, 4I; Luk. 5:1 dst), dan Dia mengajar mereka ?sebagai seseorang yang mempunyai kekuasaan? ( Mat. 7:29; lih. Mark. 1:22; Luk. 4:32 ). Dia menceriterakan kepada mereka mengenai Bapa dan pada saat yang sama mengarahkan mereka pada Diri-Nya sendiri, dengan menjelaskan ?Aku adalah jalan, kebenaran dan kehidupan? (Yoh. 14:6) dan ?dia yang melihat Saya telah melihat Bapa? (Yoh. 14:9). Dia tidak membuang-buang waktu dengan percakapan yang sia-sia atau untuk membenarkan diri, juga tidak ketika Dia didakwa dan dikutuk (lih. Mat. 26:63, 27:12-14; Mark. 15:5, 15:61). Karena makanan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa yang telah mengutus-Nya (Yoh. 4:34), dan semua yang dikatakan-Nya dan dilakukan-Nya, dikatakan dan dilakukan dalam kaitan dengan hal tersebut. Kerap kali ajaran Yesus menggunakan bentuk perumpamaan-perumpamaan dan kisah yang hidup yang menggambarkan kebenaran yang mendalam dengan istilah yang sederhana dan dengan istilah sehari-hari. Bukan hanya kata-kata-Nya tapi perbuatan-Nya terutama mukjijat-mukjijat-Nya, merupakan tindakan komunikasi, dengan menunjukkan identitas-Nya dan menampakkan kuasa Allah ( lih. Evangelii Nuntiandi, 12 ). Dalam komunikasi-Nya Dia menunjukkan sikap hormat terhadap para pendengar-Nya, simpati terhadap keadaan mereka dan kebutuhan mereka, ikut merasakan penderitaan mereka (mis Luks. 7:13), dan kepastian yang teguh untuk mengatakan kepada mereka apa yang perlu mereka dengarkan, dengan scara demikian rupa sehingga akan menarik perhatian mereka dan membantu mereka untuk menerima pesan, tanpa paksaan atau kompromi, penipuan atau manipulasi. Dia mengundang orang-orang lain untuk membuka pikiran dan hati mereka kepada-Nya, sadar bahwa ini merupakan jalan bagaimana mereka akan tertarik kepada-Nya dan kepada Bapa-Nya (mis.Yoh. 3:1-5,4,7-26). Yesus mengajarkan bahwa komunikasi merupakan suatu perbuatan moral: ?Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggung jawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum? (Mat. 12: 34 ? 37). Dengan keras Dia mengingatkan agar jangan memberikan sandungan ?anak-anak kecil?, dan memperingatkan bahwa orang yang melakukannya ?lebih baik bila sebuah batu gilingan yang besar dikalungkan ke lehernya dan dia ditenggelamkan ke dalam lautan? (Mark. 9:42; lih Mat. 18:6; Luk. 17:2) Dia juga terus terang, seseorang yang dapat dikatakan bahwa ?tak ada kesalahan ditemukan dalam bibirnya? dan ?bila Dia dihina, Dia tidak membalasnya; bila Dia menderita, Dia tidak mengancam; tapi Dia menyerahkan-Nya kepada Dia yang menghakimi dengan adil? (1 Petr. 2:22-23). Dia menekankan perlunya kejujuran dan kepercayaan kepada orang lain, seraya mengutuk sikap munafik, tidak jujur ? setiap bentuk komunikasi yang bengkok dan busuk ?Hendaknya apa yang kamu katakan? Ya ?atau? Tidak, ?tidak lebih dari itu sebab apa yang lebih berasal dari si jahat? (Mat. 5:37). |