Dokumen Gereja
Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id |
Cari Kata dalam Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id |
|---|---|
| 25. | Para komunikator profesional bukanlah orang satu-satunya yang mempunyai kewajiban etika. Para pendengar/pemirsa ? para penerima, juga mempunyai kewajiban. Para komunikator yang mencoba memenuhi tanggung jawab mereka patut mendapatkan pendengar yang sadar akan tanggung jawab mereka. Kewajiban utama dari para penerima komunikasi sosial ialah membeda-bedakan dan bersikap selektip. Mereka hendaknya menginformasi diri mereka mengenai media, - struktur mereka, cara kerja mereka, isinya ? dan melakukan pilihan-pilihan yang penuh tanggung jawab, menurut kriteria yang sehat menurut etika, mengenai apa yang dibacanya atau dilihatnya serta didengarnya. Pada jaman sekarang ini setiap orang memerlukan beberapa bentuk pendidikan media yang terus menerus, entah dengan studi pribadi atau ikut ambil bagian dalam suatu program yang terorganisir atau kedua-duanya. Lebih dari hanya sekedar mengajarkan mengenai tehnik-tehnik, pendidikan bermedia membantu orang untuk membentuk standar dari selera yang baik dan penilaian moral yang benar secara moral, salah satu segi dalam pembentukan suara hati. Melalui sekolah-sekolahnya dan program-program pendidikannya, Gereja hendaknya menyediakan pendidikan bermedia semacam itu (lih, Aetatis Novae, 28; Communio et Progressio, 107) Aslinya kata-kata berikut ini ditujukan kepada lembaga-lembaga hidup bakti, namun mempunyai penerapan lebih luas: ?Suatu komunitas, yang sadar akan pengaruh media, hendaknya belajar untuk menggunakannya untuk pertumbuhan pribadi dan komunitas, dengan kejelasan Injili dan kebebasan batin dari mereka yang telah belajar mengenal Kristus (lih. Gal. 4:17-23). Media menyampaikan, dan kerap kali memaksakan, suatu mentalitas dan model kehidupan yang terus menerus bertentangan dengan Injil. Dalam hubungan dengan hal ini, di banyak bidang orang mendengarkan keinginan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih mendalam dalam menerima dan menggunakan media, baik secara kritis maupun secara berdayaguna ?(Konggregasi untuk Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan, Hidup Persaudaraan dalam Komunitas, 34). Dengan cara yang sama, para orang tua mempunyai kewajiban yang serius untuk membantu anak-anak mereka bagaimana menilai dan menggunakan media, dengan membentuk hati nurani mereka secara tepat dan mengembangkan kemampuan kritis mereka (lih. Familiaris Consortio, 76). Demi kepentingan anak-anak mereka maupun kepentingan mereka sendiri, para orang tua harus belajar dan mempraktekkan ketrampilan dari para pemirsa yang bisa mengadakan pembedaan serta pembaca dan pendengar, serta bertindak sebagai contoh dalam menggunakan media secara bijaksana dalam rumah mereka. Sesuai dengan umur mereka dan keadaan, para anak-anak dan kaum muda hendaknya terbuka terhadap pendidikan yang menyangkut media, dengan menolak jalan yang mudah yaitu sikap pasip yang tidak kritis, tekanan dari rekan-rekan seusia, serta tekanan komersial. Para keluarga, yaitu para orang tua bersama anak-anak ? akan menemukan bahwa bergunalah untuk datang bersama-sama dalam kelompok untuk mempejarai dan mendiskusikan problem dan kesempatan yang diciptakan oleh komunikasi sosial. |