Dokumen Gereja
Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id |
Cari Kata dalam Dokumen Gereja
www.imankatolik.or.id |
|---|---|
| 16. | Kebudayaan. Para pengkritik kerap kali mencela kedangkalan dan selera rendah dari media, dan meskipun media tidak harus suram dan membosankan, tapi media hendaknya tidak harus menyolok mata dan merendahkan diri. Jangalah berdalih dengan mengatakan bahwa media mencerminkan standar yang populer; karena media juga dengan secara kuat mempengaruhi standar populer dan dengan demikian juga mempunyai kewajiban serius untuk mengangkatnya dan bukannya membuatnya menjadi merosot. Persoalan ini mempunyai macam-macam bentuk. Seharusnya media menjelaskan persoalan yang kompleks dengan secara hati-hati dan dengan benar, namun media pemberitaan menghindari atau menyederhanakannya. Media yang bersifat hiburan menyampaikan sajian yang merusak dan merendahkan martabat manusia, termasuk mengeksploitir seks dan kekerasan. Sungguh tidak bertanggung jawab untuk mengingkari atau menolak kenyataan bahwa ?pornografi dan kekerasan yang sadis memerosotkan seksualitas, merongrong hubungan antar manusia, memeras individu, lebih-lebih para wanita dan kaum muda, meremehkan perkawinan dan kehidupan keluarga, memupuk sikap anti sosial dan melemahkan jaringan moral dalam masyarakat itu sendiri? (Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial, Pornografi dan Kekerasan dalam Media Komunikasi: Suatu Jawaban Pastoral, 10) Pada tingkat internasional, dominasi kebudayaan yang dipaksakan lewat alat-alat komunikasi sosial juga merupakan suatu persoalan yang serius, yang berkembang. Ungkapan tradisional kebudayaan disingkirkan dari media populer di beberapa tempat dan menghadapi kemusnahan, sementara itu nilai-nilai masyarakat yang makmur yang sekuler semakin mendesak nilai-nilai tradisional masyarakat yang kurang kaya dan tidak mempunyai kekuasaan. Dalam memperhatikan soal-soal ini, perhatian khusus harus diberikan untuk menyediakan kepada anak-anak dan kaum muda penyajian media yang menyebabkan mereka secara hidup berhubungan dengan warisan budaya mereka. Komunikasi antar lintas budaya sangat diharapkan. Masyarakat dapat dan hendaknya saling belajar satu sama lain. Tetapi komunikasi lintas budaya hendaknya jangan sampai mengorbankan yang kurang kuat.Pada jaman sekarang ini ?kebudayaan-kebudayaan yang sangat kurang tersebar tidak lagi terasing. Mereka diuntungkan karena semakin bertambahnya hubungan antara mereka, namun mereka juga menderita karena tekanan dari suatu kecenderungan yang sangat kuat untuk mengadakan penyeragaman? (Menuju ke suatu Pendekatan Budaya terhadap Kebudayaan , 33) Sedemikian hal itu terjadi sehingga komunikasi sekarang mengalir dalam satu arah saja ? dari bangsa-bangsa yang sudah berkembang kepada bangsa-bangsa yang sedang berkembang dan miskin ? menimbulkan persoalan-persoalan etika yang serius. Apakah bangsa yang berkembang tidak punya sesuatu yang bisa dipelajari dari bangsa yang miskin? Apakah bangsa yang kuat tuli terhadap suara bangsa yang lemah ? |