Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

PESTA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI KENISAH A/2014

Mal 3:1-4  Ibr 2:14-18  Luk 2:22-40

   Setia sebagai warga masyarakat Yahudi, keluarga Yusuf ,Maria dan Yesus memenuhi ketentuan Taurat, yakni  empat puluh hari sesudah kelahirannya, anak laki-laki harus dipersembahkan kepada Tuhan. Tindakan ini harus dilakukan setiap keluarga Yahudi. Sepintas lalu apa  yang dilakukan oleh keluarga Yusuf  itu adalah hal biasa. Tetapi dari apa yang diucapkan oleh Simeon dan Hana, sebagai dua orang yang sudah  berusia tinggi tentang Yesus, terungkaplah  apa peranan Yesus, Si Bayi yang dilahirkan oleh Maria dan pernanan Maria sendiri. Yesus datang sebagai Penyelamat, yang sudah dinanti-nantikan, namun sekaligus Ia akan menjadi tanda, yang menimbulkan perbantahan (pertentangan) di antara orang banyak. Bukan Dia sendiri, Maria Ibu-Nya pun hatinya harus menanggung tembusan pedang.

  Yesus yang tampil bertugas sebagai Penyelamat, harus mengakhiri hidup-Nya sebagai orang muda. Dalam keempat Injil, termasuk Injil Lukas, nyaris tidak diceriterakan tentang kehidupan dan apa yang dilakukan Yesus di masa muda-Nya di Nasaret sebelum tampil di depan umum sebagai pewarta kabar gembira. Lukas hanya menyebut Yesus disunatkan, Ia mendapat nama Yesus seperti dikatakan oleh malaikat, yang menerangkan hakikat tugas perutusan-Nya sebagai Penyelamat.
Dan pada usia duabelas tahun Yesus pernah hilang di Yerusalem dan baru diketemukan dalam tiga hari. Hanya itu diceriterakan tentang masa muda Yesus.

   Apa yang ingin disampaikan Lukas dalam Injilnya kepada kita, sebenarnya sangat mendalam makna rohaninya. Menurut latar belakang pandangan Yahudi, seorang perempuan mulai saat menikah, dalam pergaulan suami isteri, mengandung dan melahirkan mengandung hal-hal manusiawi negatif, yang bertentangan dengan kehendak Allah. Karena itu seorang perempuan yang melahirkan anak harus “dimurnikan”. Demi pemurnian itu agar dapat mempersembahkan anaknya laki-laki kepada Allah, Maria harus mempersembahkan suatu korban kepada Allah menurut kemampuannya. Bukan anak domba melainkan sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

   Tetapi secara rohani keadaan seorang perempuan yang bernama Maria ini total berlainan! Maria memang  seorang ibu, tetapi tidak bernoda! Ia tidak mengandung dari seorang manusia, melainkan dari Roh Kudus. Yesus ibaratnya bukan dibeli dari Allah lewat persembahan korban sepasang burung, yang hanya merupakan simbol belaka. Kenyataannya, Yesus adalah Putera Tunggal Allah sendiri. Yesus tidak perlu dibebaskan atau dibeli kembali secara simbolis lewat anak domba atau sepasang burung. Sebaliknya Ia justru harus membebaskan atau membeli kembali umat manusia yang berdosa. Bukan dengan harta betapa besarnya pun nilainya, melainkan membayarnya dengan darah-Nya sendiri!

   Apa kesimpulannya? Yesus di zaman-Nya taat memenuhi peraturan, baik dari pemerintahan Romawi maupun dari hukum Yahudi. Kita pun sekarang sebagai umat kristiani harus taat kepada peraturan dan hukum yang baik dan berlaku untuk umum. Sebab apa yang hakiki dan menentukan bagi kedudukan dan hidup kita sebagai orang kristiani dalam masyarakat tidak menyolok secara lahiriah. Tetapi apa yang lebih dituntut dari kita sebagai orang kristiani sejati ialah sikap pribadi kita di hadapan Tuhan. Bila tuntutan terhadap Tuhan  kita penuhi, secara lahiriah akan terungkap,  dan akan dikenal orang juga kesungguhan sikap dasar pribadi kita sebagai orang kristiani. Memang dari diri kita dibutuhkan banyak perubahan yang cukup mendasar, baik dalam hidup kita dalam masyarakat, maupun dalam Gereja. Masyarakat keluarga, masyarakat  lingkungan kerja, masyarakat dunia memang membutuhkan  perubahan  dan  perbaikan.  Namun perubahan itu bukan dilakukan langsung dengan mengadakan revolusi dalam situasi dan kondisi masyarakat, melainkan dengan revolusi batin atau perubahan hati kita masing-masing.

   Kata-kata Simeon, sebagai orang berusia tinggi, yang disampaikan kepada Maria sangat mendalam isinya: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan; suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang”. Seperti Maria yang telah melahirkan Yesus sebagai Penyelamat harus ikut mengambil bagian dalam pengorbanan diri puteranya, maka kita pun harus ikut rela dan bersedia menerima tembusan pedang, yang kita hadapi dalam pengalaman pahit hidup kita.

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/