Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

PESTA KELUARGA KUDUS B/2017

Kej 15:1-6; 21:1-3; Ibr 11:8.11-12.17-19; Luk 2:22-40;

PENGANTAR
    Beberapa hari yang lalu kita merayakan Hari Raya Natal. Yesus Almasih dilahirkan di Betlehem sebagai putera suatu keluarga dari Nasaret, yaitu keluarga Maria, Yusuf dan Yesus. Yesus dibesarkan dan bertumbuh sebagai anak sampai dewasa didampingi oleh kedua orangtua-Nya. Suatu keluarga sederhana, yang hidup di Nasaret sebagai suatu kampong, namun sebagai suatu keluarga yang hidup dalam kasih, saling pengertian dan penuh damai. Keluarga Kudus,Yesus, Maria dan Yusuf inilah yang sekarang ini kita peringati dan kita rayakan.

HOMILI
    Gereja Katolik mengajarkan kepada kita, agar supaya hidup keluarga kita sebagai keluarga kristiani dihayati menurut teladan Keluarga Suci di Nasaret. Makin maju perkembangan pengetahuan orang di zaman modern sekarang ini, yang makin pandai dan makin sadar akan kemampuannya, ajaran dan ajuran Gereja untuk menghayati hidup keluarga menurut teladan "Keluarga Nasaret" yang sederhana makin sulit dipahami, apalagi untuk dihayati.

    Kesulitan orang modern itu bisa dipahami, karena ajaran Kitab Suci yang disampaikan oleh Gereja bukan supaya dipahami secara ilmiah atau secara logis apalagi secara matematis, melainkan harus dipahami dengan pandangan iman alkitabiah. Keadaan dunia dan masyarakat di zaman Yusuf, Maria dan Yesus duapuluh abad yang lalu sangat berlainan dengan keadaan dunia kita sekarang ini. Keadaan negara kita Indonesia sejak tahun 1945 sampai sekarang sudah sangat berbeda. Bahkan keadaan kehidupan di Jakarta sebagai ibukota Metropolitan pun, ibaratnya setiap tahun berubah luarbiasa di segala bidang. Memang banyak kemajuan, namun banyak pula kemunduran. Banyak yang mengembirakan, banyak juga yang membuat hidup sedih dan tegang. Menghadapi fakta atau kenyataan ini, yang dalam siaran TV Metro disebut "Realitas", kita bertanya : bagaimana kita harus dan dapat hidup berkeluarga menurut teladan keluarga di Nasaret itu? Bagaimana mungkin kita yang hidup dalam zaman modern, dengan segenap kemungkinan dan fasilitas yang tersedia harus hidup menurut cara hidup keluarga Nasaret, yang begitu sederhana?

    Tanggal 5 s/d 20 Oktober 2014 di Roma Paus Fransiskus mengadakan Sinode Uskup luarbiasa dengan tema "Tantangan-tantangan Keluarga Dalam Konteks Evangelisasi". Sinode itu bertujuan sebagai persiapan untuk penyelenggaraan Sinode Biasa 2015 dengan tema "Panggilan dan Perutusan Keluarga Dalam Gereja dan Dunia Zaman ini".

    Tantangan-tantangan keluarga adalah aneka ragam. Hal kesetiaan suami-iateri, orang tua dan anak, masalah ekonomi, penyakit atau penderitaan lahir maupun batin, masalah keagamaan, pekerjaan, perbedaan agama, tetapi juga pengaruh kemajuan pengetahuan, teknologi, khususnya kemajuan alat komunikasi, yang mempermudah hubungan antar manusia untuk jarak jauh, namun justru mempersukar komunikasi pribadi yang berdampingan dekat satu sama lain. Menghadapi keadaan itu betapa sulitnya untuk membangun dan menghayati hidup berkeluarga menurut teladan Keluarga Nasaret.

    Bila keluarga kita masih sungguh memiliki keyakinan iman yang asli atau otentik dan mendalam kepada Yesus Kristus, dalam mengalami keadaan atau situasi hidup apapun, keluarga kita akan mampu menghadapinya dengan tabah dan teguh. Untuk setiap zaman Tuhan selalu memperhatikan, melindungi dan menolong kita menurut tuntutan zaman itu dan kemampuan yang kita miliki. Tuntutan keadaan zaman yang dihadapi Yusuf, Maria dan Yesus tidak sama dengan tuntutan zaman kita. Tetapi seperti evolusi fisik bumi kita, demikian juga keadaan fisik, lahiriah, juga berubah dan berkembang. Bahkan harus demikian. Namun dalam perkembangan fisik dan tampak dalam masyarakat itu, kita tidak boleh menyimpang, bahkan bertentangan dengan segi rohani bahkan hakiki dari martabat kita sebagai manusia, yaitu hidup menurut kehendak Allah, yang selalu tertuju kepada-Nya. Dahulu maupun sekarang martabat manusia, sebagai ciptaan kasih Allah tidak akan berubah, walaupun keadaan zaman hidup berubah. Sikap dasar kita sebagai manusia terhadap Tuhan Allah, yang mengasihi dan selalu mau menyelamatkan kita dalam Yesus Kristus dan Roh-Nya, harus selalu kita miliki. Iman kita dalam keadaan apapun jangan berubah. Iman ini harus dipupuk, dipelihara dan diperdalam dalam keluarga-keluarga kita. Sikap dasar hidup Yesus, Maria dan Yusuf sebagai keluarga di Nasaret, ialah hubungan bapak, ibu dan anak dalam kasih, menurut kehendak Allah Bapa di surga. Itulah intisari ajaran Gereja, agar supaya keluarga-keluarga kita menghayati hidup bersama daam kasih menurut teladan Keluarga Nasaret.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/