Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Materi iman
Dokumen Gereja

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA PENTAKOSTA C/2010

Kis 2:1-11 1 Kor 12:3b-7.12-13 / Rm 8:8-17 Yoh 14:15-16.23b-26

PENGANTAR

Lima puluh hari sesudah Yesus naik ke surga, murid-muridNya bersama Maria berhimpun sambil berdoa dan menantikan pencurahan Roh yang dijanjikan Yesus. Kisah Rasul menceriterakan peristiwa kedatangan Roh Kudus dalam bentuk bagaikan suatu tiupan keras dari langit, dan tampaklah bagaikan lidah-lidah api yang hinggap di atas murid-murid Yesus itu. Bukan hanya murid-murid Yesus yang berkumpul di suatu ruang, melainkan aneka suku dan bangsa dari segala jurusan bumi, yang ada di Yerusalem mengalami peristiwa itu. Semua dan setiap orang dapat saling mendengar dan memahami satu sama lain menurut bahasa masing-masing. Singkatnya: pewartaan Kabar Gembira (Injil) Yesus Kristus ditujukan kepada semua bangsa tanpa perbedaan. Injil Kristus sungguh universal.

 

HOMILI

Tiga pesan bacaan-bacaan Kitab Suci disampaikan kepada kita pada saat merayakan Hari Raya Pentakosta ini.

•  Pertama :

Kenaikan Yesus ke surga bukan berarti Ia meninggalkan pengikut-pengikut-Nya. Ia pergi justru untuk memenuhi janji-Nya. Ia pergi tetapi juga hadir dengan perubahan cara atau bentuk kehadiran-Nya di tengah umat-Nya di seluruh dunia ini. Semula secara badaniah, jasmani dan tampak, hanya dikenal di Palestina. Tetapi sekarang hadir secara rohani, spiritual, nyata walaupun tak tampak. Justru sebagai Roh, Kristus tidak lagi terikat atau terbatas kehadiran-Nya di suatu tempat atau hanya pada salah seseorang belaka, melainkan secara tak terbatas, kapan atau di manapun juga. Dan dengan bentuk inilah Yesus Kristus dalam Roh-Nya dapat melaksanakan karya penyelamatan-Nya secara universal, kepada siapapun secara tidak terbatas dan sungguh secara "katolik". Setiap orang disapa oleh-Nya atau oleh pengikut-Nya sesuai dengan "bahasa suku dan bangsa-nya" untuk menerima tawaran-Nya untuk diselamatkan.

•  Kedua :

Dalam suratnya kepada umat di Korintus , Paulus menegaskan bahwa karunia-karunia Allah adalah rupa-rupa, tetapi hanya ada satu Roh. Seperti Kristus oleh Paulus diumpamakan sebagai satu tubuh, demikian pula Gereja merupakan satu tubuh, meskipun banyak anggotanya. Dan kepada umat di Roma , Paulus menegaskan, bahwa kehidupan kerohanian kristiani yang sejati atau otentik hanyalah mungkin apabila diukur dan dihayati menurut Roh, bukan menurut daging. Hidup menurut daging berarti hanya hidup mengikuti nafsu, keinginan sementara, dan memperhatikan kepentingan diri melulu. Yang dicapai tak lebih daripada kepuasan diri selama hidupnya sekarang yang hanya sementara ini. Paulus mengajak kita hidup juga menurut Roh. Roh inilah yang memberi kekuatan, vitalitas, yang menjaga dan memperkuat dirinya bukan hanya sebagai manusia daging biasa, melainkan sebagai manusia rohani/batin yang hidup selamanya. Dengan diperkuat dengan Roh, manusia tidak akan mudah menjadi hamba bahkan menjadi budak kenginan atau nafsu duniawinya belaka.

•  Ketiga :

Merayakan Hari Raya Pentakosta dengan benar dan sungguh-sungguh berarti bersedia dan bertekad untuk hidup, bersikap dan bertindak seperti para rasul. Mereka adalah orang-orang biasa, sederhana, bukan orang-orang terdidik dan terpelajar, bukan orang-orang berkedudukan tinggi. Tetapi berkat kekuatan Roh Kuduslah mereka berani meneruskan dan melaksa-nakan tugas pewartaan Yesus Kristus Penyelamat kepada semua orang sampai ke ujung bumi. Dengan kekuatan Roh Kudus, setiap orang yang sungguh percaya dan mengasihi Yesus Kristus, harus mau dan bersedia merasul. Masing-masing menurut "bahasa pribadi dan hidupnya sendiri". "Kita semua mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan oleh Allah" (Kis 2:11).

 

Kesimpulan

Tujuan diselenggarakannya peristiwa Pentakosta 20 abad yang lalu oleh Tuhan, di zaman kita sekarang ini harus diaktualisasikan lagi. Dalam konteks keadaan negara dan masyarakat kita sekarang ini, dan dimanapun, Roh Kristus mau mendorong kita, sebagai Gereja umat Allah, untuk aktif mengambil bagian dalam memperkenalkan ajaran, hidup, sikap dan perbuatan Yesus Kristus sebagai Penyelamat kepada semua orang, masing-masing sesuai dengan bahasa hidupnya. Bukan hanya puas dengan menjadi orang kristen bagi diri sendiri saja, tetapi sekaligus meneruskan keyakinan iman kita itu kepada siapapun lainnya lewat perilaku, perbuatan dan bahasa hidup kita masing-masing, namun dijiwai oleh Roh yang satu dan sama. Amin.

 

Jakarta, 21 Mei 2010

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

 

 

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/