Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

Minggu Paskah VII/B/2012

Kis 1:15-17.20a.20c-26  1 Yoh 4:11-16  Yoh 17:11-19

PENGANTAR
          Menjelang Hari Raya Pentakosta, dalam Hari Minggu ini kita diajak mendengarkan Injil Yoh 17:11-19. Injil Johanes ini memuat wejangan Yesus, yang disampaikan kepada keduabelas murid-Nya dalam perjamuan malam terakhir. Doa ini sekaligus merupakan sabda perpisahan. Yesus akan memasuki saat penangkapan, penderitaan  dan kematian-Nya di salib. Hidup dan karya-Nya yang tampak akan berakhir, dan Ia akan kembali kepada Bapa,yang mengutus-Nya. Para murid-Nya harus meneruskan hasil karya penebusan-Nya. Tugas mereka sangat luhur, tetapi berat dan banyak godaan dan hambatannya. Karena itu Yesus mengucapkan doa-Nya kepada Bapa bagi mereka itu. – Marilah dalam perayaan Ekaristi ini kita mendengarkan doa-Nya dan berikhtiar memahami dan melaksanakannya.

Homili
          Dalam Kitab Suci kita dapat melihat, bahwa Yesus dalam hidup dan karya-Nya selalu berdoa. Maka pada pertemuan-Nya dalam perjamuan malam terakhir Ia juga berdoa, khususnya bagi murid-murid-Nya. Kenyataan  bahwa Yesus selalu berdoa untuk kita, sungguh merupakan suatu sumber kegembiraan dan peneguhan harapan bagi kita!

          Dalam doa-Nya bagi murid-murid-Nya, yang juga bagi kita semua sebagai murid-murid-Nya, Yesus menyebut tiga permohonan yang sangat kita butuhkan dan harus kita hayati serta laksanakan.
          Pertama: Yesus berdoa supaya kita, murid-murid-Nya, bersatu. “Ya Bapa, yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku,supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita” Kita semua diciptakan oleh Allah yang satu. Dan berkat baptis kita semua adalah putera-puteri Allah yang satu. Allah sendiri adalah tiga pribadi: Bapa, Putera dan Roh Kudus, namun Bapa, Putera dan Roh Kudus tetap satu. Maka kita semua juga harus bersatu. Allah Bapa, yang adalah kasih, mengutus Kristus dan Roh-Nya untuk mempersatukan semua manusia. Yesus dan Roh-Nya membongkar tembok-tembok pemisah, baik antar bangsa, antar suku, antar sesama bahkan dalam keluarga. Gereja, yaitu kita semua, dimaksudkan oleh Yesus sebagai tanda dan teladan perdamaian dan kerukunan. Gereja harus menjadi sakramen persatuan dan perdamaian. Dapatkah Gereja kita disebut otentik, artinya sungguh sebagai persekutuan murid-murid Yesus, apabila di dalam Gereja itu warga-warganya saling bermusuhan, terpecah belah dan hidup penuh kebencian dan dendam? Yesus berdoa, agar kita selalu bersatu. Tetapi bagi kita bukan hanya berarti, bahwa kita harus bersatu hanya dengan orang-orang seiman atau seagama, tetapi dengan setiap orang, siapapun juga. Yaitu setiap orang yang berkehendak baik.

          Kedua:  Sangat menarik bahwa Yesus juga berdoa: Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka, dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat”.

Kita sebagai orang kristiani, pengikut Kristus, tidak diminta Tuhan supaya  mengundurkan diri dari dunia, dan memasuki suatu kelompok atau golongn tertutup, ibaratnya suatu ghetto, sebagai kelompok eksklusif dan tertutup terhadap orang-orang lain.  Yesus justru mengutus kita ke tengah-tengah dunia, sama seperti Ia sendiri yang bukan diutus Bapa hanya untuk orang Yahudi. Yesus tidak mau menarik murid-murid-Nya dari dunia, sebaliknya mau menyiapkan dan memperkuat mereka, untuk diutus pergi dan memasuki dunia masyarakat untuk menghadirkan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan kepada dunia yang membutuhkannya.

          Artinya, di tengah segenap kesibukan dan  aneka urusan di dunia, kita harus sadar  untuk bersikap, berpikir dan berbuat sebagai orang krisiani, artinya menjauhkan diri dari yang jahat, dan hidup sesuai dengan pedoman hidup yang telah diberikan Yesus. Dan Ia sendirilah teladannya! Dunia memang tempat di mana murid-murid Yesus harus hidup. Maka bagi semua orang yang hidup di dunia ini, dengan segalanya yang baik, namun juga yang jahat, Yesus berdoa agar segenap pengikut-Nya dijauhkan dari yang jahat. Yesus mengajarkan doa permohonan itu juga dalam doa Bapa Kami: “Bebaskanlah kami dari yang jahat”.

          Ketiga: Akhirnya Yesus berdoa: “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran….Dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran”. Dikuduskan berarti ditujukan untuk melaksanakan suatu tugas yang direncanakan Tuhan bagi kita masing-masing. Namun  dikuduskan juga  berarti diberi atau  dilengkapi oleh Tuhan dengan rahmat dan kekuatan yang dibutuhkan, untuk melaksanakan apa yang dipercayakan kepada masing-masing.

          Kita semua dan masing-masing dipanggil dan dikuduskan oleh Allah, untuk mengambil bagian dalam karya Kristus. Kita diutus ke dalam dunia untuk menjadi saksi Kristus. Artinya kita harus memperkenalkan Kristus dan cara hidup-Nya melalui cara hidup kita masing-masing maupun bersama-sama. Kristus adalah saksi Allah, padahal Allah  yang  adalah  kasih. Kasih inilah yang disebut kekudusan yang sejati.

Dengan demikian bila kita ingin  menjadi kudus, maka kita dipanggil untuk hidup dan bertindak sebagai duta kasih Allah, seperti telah dilakukan oleh Yesus Kristus sebagai teladan kami.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/