Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU PRAPASKAH II/C/2013

Kej 15:5-12.17-18   Fil 3:17-4:1   Luk 9:28b-36


PENGANTAR 

Hari ini kita mendengarkan Injil Lukas tentang Transfigurasi Yesus, atau penampakan Yesus yang dimuliakan, di gunung Tabor. Tetapi langsung sebelum ceritera tentang kemuliaan Yesus ini Lukas dalam Injilnya juga menulis: Yesus berkata:<Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga >” (Luk 9:22). Dalam gambaran tentang adanya kontras antara penderitaan dan kematian di satu pihak, dan kemuliaan Yesus di lain pihak, marilah kita dalam Misa Kudus hari ini, pada “Misa Novena Adorasi Ekaristi”, mendengarkan pesan berita Lukas tentang transfigurasi Yesus di gunung itu kepada kita.

HOMILI
            Perlu kita ketahui, bahwa Lukas memulai ceritera Injil untuk hari ini (Luk 9:28b-36)  dengan  kata-kata berikut: “Kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu Yesus membawa Petrus, Johannes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa”. Mengapa? Karena dalam kutipan Injil Lukas sebelumnya (ay.22-27) Yesus mengajarkan kepada para murid-nya, bahwa Ia harus menanggung penderitaan, ditolak oleh pimpinan keagamaan, bahkan akan dibunuh, namun bangkit lagi pada hari ketiga. Ajaran yang luarbiasa ini sukar dipahami, maka ada tiga murid diajak naik ke atas gunung untuk berdoa. Di atas gunung itulah mereka akan melihat transfigurasi diri-Nya. Suatu perubahan yang  akan dialami oleh Sang Penebus: penderitaan dan kematian membawa Yesus sebagai Penebus kepada kemuliaan-Nya.

Sejak dalam Perjanjian Lama peristiwa atau momen-momen yang penting, besar dan mulia berlangsung di gunung-gunung tinggi. Misalnya Yahwe berbicara kepada Musa di Gunung Sinai. Elias disapa Yahwe di gunung juga. Juga dalam Perjanjian Baru: Yesus pergi dan naik ke gunung untuk berdoa (Luk 6:12; 22:39-41). Dalam Minggu Prapaskah I yang lalu kita melihat Yesus selama 40 hari di padang gurun dan mengalami godaan. Tetapi hari ini kita diajak melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya. Kita jangan lupa bahwa di samping Tabor masih ada gunung atau bukit lain, yang bukan menunjukan kemegahan dan kemuliaan, melainkan kehinaan yang dialami Yesus, yaitu gunung Golgota! Dalam Injil hari ini Lukas menunjukkan kepada kita, bagaimana Yesus mendidik dan menyiapkan murid-murid-Nya, agar supaya dapat menjadi pengikut-pengikut-Nya yang benar dan setia!

Seperti terbukti sampai akhir hidup-Nya, murid-murid Yesus masih belum memiliki gambaran tentang Almasih yang sebenarnya. Almasih tetap digambarkan terlalu secara manusiawi. Almasih dilukiskan sebagai Raja yang berkuasa, megah istananya, mendatangkan kemakmuran bagi rakyatnya. Mereka belum bisa memahami kata-kata Yesus ini: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak...lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.- Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:22-23). Karena itu mereka (meskipun hanya 3 orang) diajak Yesus naik ke gunung Tabor, agar tahu bahwa di manapun dan dalam keadaan apapun Allah selalu hadir! Meskipun ada tantangan dan godaan bagi Yesus di padang gurun, akhirnya ada kemuliaan juga bagi-Nya di gunung Tabor.

Pengalaman Yesus adalah teladan bagi kita. “Masa Puasa hidup kita”, bukan hanya Masa Puasa liturgis 40 hari! Hidup kita adalah masa penuh godaan dan tantangan, dan harus kita hadapi dengan penuh harapan.Tetapi juga untuk membawa kita kepada gunung kebahagiaan. Keinginan Petrus untuk tetap tinggal dalam “keadaan enak” di gunung Tabor itu merupakan suatu contoh keinginan manusia untuk tetap merasakan yang “enak”, nyaman, memuaskan, menyenangkan. Jangan meninggalkan tempat atau kedudukan yang sudah mapan. Jangan terjun untuk  menggabungkan diri dengan masyarakat  (jangan ‘blusukan’ seperti Gubernur Joko Widodo) , di mana ada kesukaran, risiko, pertentangan dan tantangan hidup. Demi “keamanan” jangan sampai kehilangan kenyamanan hidup yang sudah dimiliki. Ingin merasakan yang enak saja. Orang condong untuk tidak turun dari gunung kenyamanan dan turun untuk menjumpai orang-orang yang membutuhkan pertolongannya.

Mengapa Tuhan mengajak beberapa orang murid-Nya naik gunung Tabor untuk berdoa? Hanya  dengan  berdoa manusia  dapat lebih dekat dengan Allah. Lebih mampu memahami kehendak-Nya, yang harus dilakukannya.    Mengapa kemuliaan Yesus di Tabor tidak dijauhkan dari kehinaan-Nya di salib di Golgota? Transgfigurasi Yesus memberi pelajaran kepada kita, bahwa kehidupan mulia hanya dapat  dicapai lewat kematian. - Petrus, Yakobus dan Yohanes, yang diberi kesempatan melihat kemuliaan Yesus di gunung Tabor diajak turun lagi dari gunung itu ke bawah memasuki masyarakat mereka.  Di sana masih banyak orang yang harus diberitahu, diberi keyakinan, bahwa Yesus adalah sungguh  Sang Penyelamat , yang datang dari Allah. Karena itu meskipun Ia akan menderita dan mati di gunung Golgota, namun di gunung yang sama Ia akan bangkit kembali dan dimuliakan, seperti telah dilambangkan  dalam peristiwa transfigurasi-Nya di gunung Tabor.

Dalam rangka Misa Novena Adorasi ini,  Injil Lukas hari  ini mengandung  makna renungan yang sangat berharga bagi kita. Kasih  Allah kepada kita manusia terungkap dalam ajaran dan hidup Yesus: perhatian dan keprihatinan kepada orang lain, ditolak oleh masyarakat, dan menderita bahkan mati di salib. Namun juga kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga, dilengkapi dengan pengiriman Roh-Nya kepada segenap murid-Nya. Akhirnya Yesus Kristus, Putera Allah, yang telah datang bagi kita, ingin tetap hadir dan berada di tengah-tengah kita, khususnya dalam Ekaristi.

Pemberian diri-Nya secara total dalam Ekaristi bukan hanya kita terima dalam perayaan Ekaristi. Kehadiran-Nya   diwujudkan juga  dalam Hosti Suci yang bertakhta di tabernakel atau di atas  altar untuk kita hormati dan kita muliakan. – Apa yang diceriterakan dalam Injil Lukas hari ini tentang peristiwa di gunung Tabor, dan kata-kata Yesus tentang apa yang harus dan telah dialami-Nya di Yerusalem sebagai Penebus, yaitu penderitaan, kematian, kebangkitan dan kemuliaan-Nya, - itulah yang harus menjiwai hati kita dalam mengadakan adorasi kepada Sakramen Mahakudus.

Adoro te devote latens deitas”. “Allah yang tersamar, Dikau kusembah”.

 

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/