Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXXIII/A/2014

Ams 31:10-13.19-20.30-31  1Tes 5:1-6  Mat 25:14-30

PENGANTAR
      Seperti lazimnya Yesus memberikan ajaran-Nya dengan perumpamaan. Injil Matius hari ini memuat ajaran-Nya tentang nilai bakat-bakat atau talenta, yang diberikan Tuhan kepada setiap orang. Perumpamaan tentang talenta itu (Mat 25;14-30) sebelumnya didahului dengan perumpamaan tentang 10 gadis yang bijaksana dan bodoh (Mat 25:1-13). Dan sesudahnya perumpamaan tentang penghakiman terakhir (Mat 25:31-46). Ketiga perumpamaan itu semuanya memberi keterangan tentang hal-hal mutlak penting yang harus diperhatikan tentang KerajaanAllah, yang diwartakan dan didirikan oleh Yesus Kristus.

HOMILI
      Dengan perumpamaan tentang talenta dalam Injil Matius hari ini Yesus mau menerangkan apa yang harus diperhatikan dan dilaksanakan dalam Kerajaan Allah, yang diwartakan dan didirikan-Nya. Setiap orang diberi Tuhan bakat, talenta,  karisma. Dengan pemberian Tuhan itu kita masing-masing dapat saling memberi dan menerima.

      Yesus berhadapan dengan banyak orangYahudi, yang memandang Allah sebagai seorang hakim yang kejam, yang akan menilai dan mengadili manusia menurut ukuran ketaatannya dalam melaksanakan hukum. Manusia semacam itu hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran, sehingga mengalami banyak kesukaran untuk bertumbuh dan berkembang menjadi manuisia dewasa dan matang. Untuk menolong dan mengubah sikap hidup orang yang hidup dalam ketakutan itu, Yesus berceritera tentang talenta-talenta dan sikap serta cara untuk menggunakannya.

      Tuhan memberikan talenta kepada setiap orang sesuai dengan kemampuan atau kapasitasnya. Tetapi reaksi, jawaban atau penggunaan talenta mereka masing-masing tidak sama. Kedua orang hamba yang menerima banyak talenta tahu menggunakannya dan berhasil berganda. Karena itu diberi kepercayaan lebih besar.Tetapi hamba yang ketiga tidak menggunakannya, malahan hanya menyembunyikannya karena takut akan kehilangan talentanya itu.

      Hamba ini memandang Allah sebagai seorang hakim  yang keras dan kejam. Karena itu ia takut. Orang yang pandangannya tentang Allah adalah serupa itu, hidup dan berbuat hanya dengan tujuan agar jangan sampai dihukum Allah. Orang semacam itu sebenarnya bukan orang yang percaya kepada Allah yang mahaadil dan mahakasih. Ia lebih percaya hanya akan diri sendiri dan kesetiaannya akan hukum. Orang semacam ini menutup dirinya sendiri, menjauhkan diri dari Allah dan tidak peduli terhadap orang lain.  Nah, orang serupa ini tidak mampu bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang bebas, matang dan dewasa. Pandangan orang yang palsu tentang Allah justru mempersempit dan menghalangi kepribadiannya, melawan dan bertentangan dengan pandangan orang lain dan komunitas, menghilangkan kegembiraan, dan membuat hidupnya  menyedihkan.

      Tanggapan yang disampaikan  oleh si pemilik uang kepada hamba ketiga merupakan suatu teguran yang keras. Ia berkata: “Seharusnya uangku itu kuberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya” (Mat 25:27). Dengan bahasa kita sekarang kata-kata Yesus itu dapat diterjemahkan sebagai berikut: “Seharusnya uangku itu kaubawa ke suatu Bank, maka aku akan mendapat bunganya, baik sedikit maupun banyak”. – Ternyata pandangan hamba ketiga itu, yaitu bahwa Allah adalah keras atau kejam, adalah salah! Kalau Allah adalah keras atau kejam, maka ia akan menyimpan uang titipannya itu di suatu bank. Maka hukuman yang diberikan Tuhan kepada hambanya itu bukan karena Allah adalah keras atau kejam, melainkan karena kesalahan hamba itu  sendiri, yakni karena ia memiliki pandangan tentang Allah yang keliru! Pandangan yang keliru tentang Allah, itulah yang membuat manusia menderita dan sengsara! Allah yang sebenarnya baik dan penuh kasih dianggap keras dan kejam.

      Talenta atau “uang” yang dimaksudkan dalam perumpamaan Injil Matius  hari ini adalah “kekayaan” yang ada di dalam Kerajaan Allah, yaitu kasih, pelayanan, pengabdian, berbagi diri, kebersamaan. Pendek kata segala sesuatu, yang membuat hubungan antar sesama dalam komunitas dapat berkembang. Di situlah  Kerajaan Allah sungguh hadir! Karena itu setiap orang yang menutup dirinya sendiri karena takut kehilangan “miliknya sendiri”, yaitu dirinya sendiri, justru akan kehilangan pribadinya sendiri! Sebaliknya setiap orang yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, dan memberikan milik diri pribadinya sendiri kepada sesama, akan bertumbuh dan berkembang, bahkan menerima kembali apa yang diberikannya, malahan lebih banyak dari apa yang diberikannya kepada orang lain.

      Di dalam Kerajaan Allah tidak ada perbedaan di antara orang yang menerima banyak dan yang menerima sedikit. Setiap orang menerima anugerah menurut kemampuan masing-masing. Anugerah Tuhan harus ditempatkan dan digunakan untuk pengabdian kepada Kerajaan Allah, agar kelak memperoleh anugerah Kerajaan Allah yang sesungguhnya. Kedua hamba yang berhasil mem-perbanyak uang titipan tidak mencari keuntungan mereka sendiri. Mereka tidak menutup diri sendiri, dan tidak menghitung untung-rugi untuk diri sendiri. Yang diterima dari Allah harus kembali kepada Allah. Sebaliknya hamba ketiga hidup penuh ketakutan dan tidak berbuat apa-apa. Bila kita hidup seperti hamba ketiga itu, kita memang tidak kehilangan apa-apa, tetapi juga tidak menerima apa-apapun! Memasuki Kerajaan Allah memang mengandung suatu risiko. Barangsiapa tidak berani menghadapi risiko, ia tidak mampu memasuki Kerajaan Allah.

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/