Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXXIII/A/2011

Ams 31:10-13.19-20.3031 1 Tes 5:1-6 Mat 25:14-30

PENGANTAR

Perumpamaan ketiga dalam Injil hari ini (dua lainnya telah kita dengarkan dua Hari Minggu yang lalu) dipakai Yesus untuk menerangkan rasa tanggung jawab setiap orang terhadap Allah dan sesama manusia. Dalam perumpamaan ini Yesus menunjukkan sikap dasar serta apa dan bagaimana seharusnya dilakukan oleh setiap orang dalam hidup dan perbuatannya, bila ia sungguh ingin hidup dalam Kerajaan Surga yang diwartakan dan didirikan-Nya.

HOMILI

Perumpamaan hari ini menimbulkan banyak pertanyaan bagi kita. Ceritera perumpamaan itu seolah-olah membenarkan prinsip ekonomi kapitalistik dalam mengolah uang. Padahal dalam Injil biasanya Yesus memberikan ajaran tentang penggunaan uang atau kekayaan secara lain sama sekali, seolah-olah sebagai pertentangan. Di samping itu lain sekali cara atau metode yang dipakai Yesus dalam minta pertanggungan jawab tentang uang yang dipercayakan kepada ketiga hamba si pemilik uang. - Apakah Yesus mau menunjukkan adanya perbedaan kemampuan setiap orang dalam mengerjakan anugerah-anugerah Allah? Kedua hamba pertama itu memahami anugerah yang diberikan Allah, yang begitu baik hati. Maksudnya agar mereka itu meniru si pemilik yang baik hati itu dan berusaha melakukannya juga dalam hidup mereka sendiri sehari-hari. Ataukah Allah itu digambarkan sebagai orang yang baik seperti si pemilik uang? Ataukah pemilik uang itu menurut pandangan hamba yang ketiga adalah sebagai orang yang kejam, yang tidak menabur tetapi menunai, dan memungut di mana ia tidak menabur?

Sikap dan reaksi hamba ketiga tak mudah ditebak: ia tampak berhati-hati. Rupanya ia adalah orang yang jujur dan tulus. Memang ia bukan yang paling cerdas, sebab ia menerima jumlah uang terkecil, tetapi seandainya ia bukan orang yang berkelakuan baik, ia pasti tak akan diberi suatu bagian walaupun hanya sedikit. Sebaliknya kedua hamba yang lain adalah orang-orang yang tahu berdagang. Mereka tahu dan berhasil melipatduakan modalnya. Hamba ketiga sebaliknya adalah orang yang hidup penuh ketakutan, sebab si tuan pemilik uang bersifat tamak, loba, lapar uang, tak mau rugi. Karena itu demi "keamanan" hamba ketigs itu tidak mau mengambil risiko, maka uang itu disimpan dan disem-bunyikan. Jadi hamba ketiga itu tak mau mengambil risiko, dan tak mau mengambil putusan yang tidak pasti. Akibatnya, tanggapan si pemilik uang sangat keras. Hamba ketiga itu kehilangan segala yang dimilikinya. Seandainya ia secara jujur mau berusaha melaksanakan tugasnya, meskipun mungkin tidak berhasil, mungkin ia menerima perlakuan yang lain dari tuannya dan lebih dapat dipahami.

Pelajaran apakah yang ingin disampaikan Yesus dalam perumpamaan hari ini kepada kita? Apabila kita memiliki gambaran tentang Allah yang sangat 'miskin', terbatas, negatif, dengan penuh ketakutan dan kekhawatiran, akan juga bersikap dan berbuat secara demikian terhadap sesama kita. Kemiskinan atau keterbatasan hamba ketiga itu ialah rasa takut, rasa khawatir, ketidakpastian terhadap sesamanya. Rasa takut, sikap hidup yang dihantui kekhawatiran "jangan-jangan nanti salah", akan menghambat sikap hidup yang harus tahu dan mau menghadapi keadaan nyata yang ada.

Yesus mau mengatakan, bahwa kita harus menghilangkan rasa takut, dan supaya kita rajin, mau berusaha secara tekun, dapat dipercaya dan kreatif dalam melaksanakan kehendak Allah. Bukan justru takut, tak mau berikhtiar sekuat tenaga , dan hanya mengharapkan saja. Hidup sebagai murid Kristus berarti mau dan berani berbuat seperti dilakukan-Nya. Misalnya Yesus menyembuhkan orang sakit meskipun hari Sabat. Ia mau bertemu dengan orang-orang yang dianggap "orang-orang berdosa", seperti pemungut pajak, wanita pelacur, dan justru untuk menolong, memberi makan kepada orang-orang yang lapar dan sebagainya, untuk menyelamatkan mereka.

Kebaikan hati dan kasih Allah kepada kita dibuktikan dengan mengutus Yesus, Putera-Nya, kepada kita. Yesus adalah anugerah Allah kepada kita sebagai seorang pribadi, yang kebesaran atau keagungan-Nya ialah, bahwa Ia maju dan berani mengambil risiko untuk mengorbankan diri-Nya. Taat dan melakukan kehendak Bapa berarti memiliki kemauan, keberanian dan kesediaan untuk meno-long orang lain disertai kesanggupan menanggung segala risiko. Tuhan membe-rikan kepada setiap orang anugerah sesuai dengan kemampuannya. Kesediaan untuk menerima dan menggunakannya sesuai dengan kehendak-Nya, seperti dilakukan oleh Yesus sebagai teladan, dengan segala risikonya, itulah yang akan menentukan keputusan Allah pada pengadilan terakhir untuk hidup kita masing-masing.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/