Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Materi iman
Dokumen Gereja

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU XXXII/C/2010

2Mak 7:1-2.9-14 2 Tes 2:16-3:5 Luk 20:27-38

PENGANTAR

Isi pokok yang ingin dikemukakan oleh Lukas dalam Injilnya hari ini, merupakan salah satu ajaran pokok Yesus dalam pewarataan-Nya, yaitu tentang kebangkitan. Yesus dihadapkan kepada kaum Saduki (kaum "adil/benar"), yakni kaum aristokrat Yahudi, yang berbeda jauh dalam arus politik maupun pandangan keagamaan dari kaum Farisi. Siasat kaum Saduki untuk menjegal Yesus berupa suatu pertanyaan tentang status perkawinan seorang perempuan, yang menikah 7 kali dengan orang laki-laki yang bersaudara 7 orang, tanpa anak. Kalau ada hidup baru, karena adanya kebangkitan, perempuan itu menjadi isteri siapa? Marilah kita dalam perayaan Ekaristi ini berusaha mencari dan memahami jawaban Yesus.

 

HOMILI

Kaum Saduki termasuk golongan konservatif, dan hanya mengakui kelima Alkitab (Pentateukh). Mereka tidak percaya akan roh dan kebang-kitan orang. Menurut hukum perkawinan Levirat (Ul 25:5-6; Rut 3:9-4:12) seorang adik harus mengadakan keturunan bagi saudaranya, yang meninggalkan tanpa anak, agar supaya nama keluarga terpelihara dan harta keluarganya tak jatuh ke tangan orang lain. Jawaban Yesus: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan; tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi., karena mereka telah dibangkitkan" (Luk 20:35-36).

Apa latar belakang jawaban Yesus itu?

Allah telah menciptakan bumi dan manusia sebagai penduduknya. Manusia yang diciptakan-Nya adalah laki-laki dan perempuan. Mengapa? Supaya umat manusia dapat terus berada, jangan sampai hilang atau musnah. Baik keberadaannya sendiri maupun bumi ini sebagai tempat kediamannya harus dipelihara, sehingga umat manusia, kita semua, yang diciptakan dan dikasihi-Nya, tetap ada dan dapat memuji dan meluhurkan nama-Nya, dan dapat mengasihi-Nya selalu. Itulah latar belakang pencip-taan manusia sebagai orang laki-laki dan perempuan, yang hidup bersama di dalam perkawinan. Di samping itu ada juga orang-orang yang tidak "kawin" (laki-laki) atau "dikawinkan" (perempuan), yaitu misalnya orang -orang yang dengan motivasi masing-masing memang tidak menikah atau kawin, termasuk kaum biarawan-biarawati dan imam (untuk Gereja Katolik), yang hidup dalam status selibat.

Apa latar belakang mereka ini?

Justru atas dasar motivasi, pilihan dan keputusan pribadi menurut keyakinan masing-masing. Keputusan mereka ini terutama berlandasan pada kepercayaan akan kebangkitan manusia untuk hidup di "surga" atau hidup abadi di hadapan Allah. Karena abadi sifatnya, maka status pernah kawin atau tidak pernah kawin, punya anak ataupun tidak, - semua itu tidak mutlak dan bersifat relatif. Jadi juga berarti, bahwa dunia tempat hidup kita ini memang perlu dan penting, sebab di dunia sekarang ini kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk berusaha hidup dan berbuat sebagai manusia, yang diciptakan menurut citra Allah. Dengan aneka cara, rupa, bentuk hidup yang tersedia di dunia ini, kita semua diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri memasuki "tempat hidup" berikutnya, yang kita peroleh lewat kematian dan kebangkitan memasuki hidup surgawi.

Apa makna masalah kebangkitan yang dilontarkan kaum Saduki bagi kita sekarang ini, yang merasa makin maju, merasa makin mampu berpikir lebih ilmiah, mampu menguasai dunia ini?

Kiranya kita diajak untuk makin maju dalam berpikir, makin intelektual, makin rasional, namun sekaligus makin bijak, makin menyadari bahwa di samping pengetahuan, kita juga harus bersedia untuk menerima cahaya iman, agar sungguh mampu memahami kehendak Allah dalam hidup kita. Tahu membedakan apa yang sungguh mutlak perlu dan abadi, namun apa pula yang hanya relatif dan sementara nilainya. Hidup kita sekarang ini sangat perlu dan harus dihayati sebaik mungkin, namun itu hanya mungkin selama Tuhan memberi kesempatan kepada kita selama hidup kita yang terbatas lamanya. Allahlah yang akan menilai secara adil dan benar, sejauh manakah kita pantas atau tidak pantas hidup di hadapan dan bersatu dengan Dia pada kebangkitan kita masing-masing. Amin.

 

Jakarta, 6 November 2010

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/