Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Materi iman
Dokumen Gereja

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU XXXI/C/2010

Keb 11:22-12:2 2 Tes 1:11-22 Luk19:1-10

PENGANTAR

Ketiga bacaan hari Minggu ini sungguh mewartakan Kabar Gembira. Buku Kebijaksanaan menyerukan, bahwa Allah mengasihi semua orang. Paulus mengajak umat di Tesalonika, supaya kita yang dikasihi Allah selalu berbuat baik, supaya nama Yesus dimuliakan di dalam diri pribadi kita masing-masing, dan kita di-"muliakan" didalam Dia. Akhirnya dalam Injil Lukas Yesus menegaskan, bahwa Anak Manusia, datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang!

 

HOMILI

Inti pokok Injil, yaitu Kabar Gembira, yang ingin disampaikan kepada kita dalam ceritera Lukas hari ini ialah penegasan Yesus, bahwa Ia datang untuk memanggil kaum berdosa (lih. juga Mrk 2:17a) dan menyelamatkan yang hilang (Luk 19:10). Untuk tujuan itu Yesus bahkan bersedia menyerahkan hidup-Nya untuk orang banyak! Ia hendak mem-bawa hidup ilahi kepada kita semua!

Dalam Injil Lukas hari ini belas kasihan Allah digambarkan sebagai tertuju kepada Zakeus (Ibrani: benar, murni!), kepala pemungut cukai, yang kaya. Pemungut cukai oleh orang-orang Yahudi dianggap pendosa, sebab dengan menggunakan peraturan Romawi dan untuk kepentingan pemerintahan Romawi mereka menarik cukai, yang digunakan sebagai sarana untuk kepentingan dan keuntungannya sendiri.

Meskipun demikian Zakeus ini sebagai orang kaya ternyata dasar hatinya bukanlah buta, tidak tertutup, tidak kebal terhadap pengharapan Israel bangsanya akan kedatangan Mesias, yang sungguh benar dan baik hati seperti Yesus. Ketika Yesus muncul, Zakeus melihat-Nya sebagai nabi, yang mengajar penuh wibawa dan berbuat baik kepada siapapun. Karena itu meskipun ia merasa dianggap sebagai pendosa oleh masyarakat, dan dikucilkan oleh kebanyakan orang yang merasa dirinya baik (!), ia sangat ingin dan berusaha melihat Yesus.

Sungguh besar keinginanya itu sehingga tidak ia enggan memanjat pohon, agar dapat Yesus! Ia memang orang yang pendek tubuhnya.Yesus melihat dan membaca hati Zakeus! Di balik perbuatan Zakeus itu Yesus melihat adanya kerinduan dalam hatinya untuk mengenal diri-Nya. Ternyata di balik kedudukannya sebagai pemungut cukai, yang dianggap sebagai pendosa, tetap tersimpan sikap hati seorang manusia, Zakeus namanya, yang sungguh ingin menjadi Zakeus, yang dalam bahasa Ibrani berarati "benar" atau "murni".

Yesus melihat hati Zakeus itu, maka Ia langsung mengatakan ingin datang untuk menumpang di rumahnya. Berhadapan langsung dengan Yesus, Zakeus bertobat! Hari itu juga ia merelakan sebagian dari hartanya sebagai dana, bahkan ia akan mengembalikan uang yang diperolehnya dari orang-orang sebangsanya sendiri telah diperlakukan secara tidak adil dan secara curang. Demikianlah kenyataannya, Zakeus sadar sebagai seorang pendosa secara terbuka mengakui ketidakadilannya, namun secara konsekuen pula menyingkirkan ketidakadilannya dan membalasnya dengan berbuat adil kepada sesama.

Kita ingat akan peristiwa yang diceriterakan dalam Injil Lukas (7:1-10), di mana seorang perwira pasukan Romawi, meskipun orang asing, musuh orang Yahudi, mohon Yesus menyembuhkan hambanya yang sakit keras dan hampir mati. Yesus mengabulkan permohonannya itu dan menyembuhkannya. Ia berkata: "Aku berkata kepadamu: Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel" (Luk 7:9). Dalam Injil hari ini Yesus melimpahkan pengampunan, memberikan berkat kepada Zakeus, seorang pendosa sebangsa-Nya sendiri, yang tak ragu-ragu bertobat di depan umum. Bertobat secara sungguh-sungguh, sebab ia langsung mau membereskan dan melunasi ketidakadilannya terhadap sesama. Tetapi kesediaan begitu besar untuk bertobat secara benar tidak terdapat dikalangan kaum Farisi! Sebab orang Farisi, meskipun berpegang teguh pada Taurat, suka dan gembira memiliki uang itu.

Dua pesan dapat kita tarik dari ceritera Injil hari ini:

Tuhan dalam kasih-Nya mau menyelamatkan semua orang, tanpa perbedaan, betapapun besarnya kekurangan dan dosanya. Siapapun mereka itu, mereka adalah putera-puteri-Nya sendiri, yang diciptakan menurut citra Allah Bapa sendiri. Mereka semuanya akan dibawa dan disatukan dalam persekutuan dengan Allah sendiri.

Tetapi syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh siapapun ialah kesediaan untuk mengakui diri sebagai seorang pendosa di depan Allah. Bila kesediaan mendasar ini tidak dimilikinya, belaskasihan Allah mustahil baginya. Jujur, rendah hati di hadapan Allah, itulah pertobatan. Tetapi kesejatian atau kesungguhan pertobatan itu hanya dapat otentik atau sungguh benar, apabila disertai kerelaan untuk berbuat adil terhadap sesama. Amin.

 

Jakarta, 28 Oktober 2010

 

 

 

 

 

 

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/