Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXX/C/2016

 Sir 35:12-14.16-18 2 Tim 4:6-8.16-18 Luk 18:9-14


PENGANTAR

    Selama perayaan Ekaristi pada Hari Minggu ini, Lukas dalam Injinya menyampaikan kepada kita, bagaimana kita sebaiknya kita dapat dan harus berdoa atau memuji dan memohon kepada Allah, yang memang mahakudus, mahaagung namun sekaligus maharahim, serta maharahim terhadap kita sebagai manusia pendosa.

HOMILI
     Perumpamaan yang baru saja kita dengarkan dalam Injil pada hari ini, memberitahukan kepada kita bagaimana Allah sungguh maharahim. Dalam perumpamaan itu kita semua ini tanpa perbedaan, apakah kita itu umat awam, biarawan atau biarawati, imam, uskup, kita semua tanpa perbedaan disadarkan kembali akan kenyataan, bahwa kita ini di hadapan Tuhan adalah pendosa, ibaratnya sebagai si pemungut bea dalam Injil. Secara singkat dapat dikatakan, bahwa kita harus sadar bahwa kita membutuhkan pertobatan. Dan orang yang sungguh bertobat pada dasarnya adalah orang yang rendah hati.

     Seperti ditunjukkan dalam perumpmaan tentang orang Farisi dan pemungut bea, sikap dasar yang bertentangan dengan kerendahan hati ialah kesombongan, dab keangkuhan hati. Orang yang sombong ini merasa dirinya penting, selalu benar, bahkan melebihi orang lain, entah karena kepandaian, kedudukan, keagamaan, kekayaan, atau nama terkenal. Orang-orang Farisi bahkan dalam hal keagamaan pun, dalam hubungan dengan Allah!, merasa jauh lebih unggul daripada orang lain, apalagi pemungut bea! Si orang Farisi tidak mengenal apalagi merasakan kemiskinan rohaninya. Ibaratnya tidak membutuhkan belaskasihan Allah, bahkan merasa berjasa kepada Allah, antara lain membayar sepersepuluh dari penghasilannya! Sikap demikian kepada Allah berarti sikap menghina sesama manusia, khusunya menghina orang miskin dan orang-orang golongan rendah. Orang Farisi tidak dapat menarik kesimpulan, apalagi bersikap terbuka terhadap sikap dasar Allah yang mahakasih dan maharahim!

     PApa kiranya arti "bertobat" yang perlu kita ketahui dan hayati? Kita harus bertobat! Artinya kita harus rela membuka hati kepada belasksihan Allah. Tetapi belaskasihan Allah, yaitu Allah yang berbelaskasih kepada manusia ciptaan-Nya, yang dikasihi-Nya, dan adalah sesama kita sekaligus! Pertobaan sejati, yang mau membuka hati kepada belaskasihan Allah hanya benar dan mungkin, apabila manusia merasa diri kecil dan tidak berharga di depan Allah, seperti diungkapkan oleh Lukas dan lanjutan Injil hari ini, yakni dalam Lukas 18:15-17. Pertobatan sejati, yaitu yang sungguh mau membuka hati kepada belaskasihan Allah, hanya mungkin apa kita sebagai manusia, meskipun sudah berusia tinggi, harus bersikap sebagai seorang anak seperti dikatakan Yesus dalam Luk 18:16. Atau seperti hamba yang tidak berguna seperti dalam Luk 17:10, atau bagaikan sebagai orang yang selalu berhutang kepada Allah seperti disebut dalam Mat 6:12. Akan tetapi apabila kita sungguh insaf akan keadaan kita, yaitu rendah hati sebagai tanda pertobatan sejati, maka berlaku juga kata-kata Injil Lukas hari ini seperti terungkap dalam kata-kata dalam Injil Lukas hari ini, seperti ditujukan kepada kita sekarang ini "Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan,dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan (Luk 18:14)".

     Sebagai pelengkap dan guna memperdalam makna pertobatan dan kerendahan hati dalam perumpamaan hari ini, dapat kita tambahkan sedikit keadaan wanikta yang buruk namanya sebagai pendosa, dan sekaligus sikap berbelaskasihan Yesus terhadap wanita itu,seperti terdapat dalam Luk 7:36-50. Si wanita pendosa itu dengan rendah hati mohon kepada Allah mengasihi dirinya. Dalam suatu perjamuan makan ia membasuh kaki Yesus dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya. Kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi. Bagimana reaksi Yesus? Yesus segera menegaskan bahwa dosa-dosa wanita itu sudah diampuni.

     Kesimpulan kita ialah bahwa pertobatan sejati mendorong orang berdosa untuk mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh, dan bukan hanya sekadar formal, resmi, lahiriah, dapat dilihat orang. Tugas atau perutusan Yesus sebagai penyelamat ialah untuk membawa semua orang, khususnya orang berdos, kepada Allah kembali. Yesus adalah sahabat kaum pendosa, seperti si pemungut bea dan wanita berdosa itu. Yesus sungguh bergembira karena mereka itu bertobat. Dan kegembiraan Yesus itu adalah kegembiraan Allah sendiri, yaitu Bapa kita di surga! Pertobatan membawa kita kepada kasih. Kasih ada tanda pertobatan sejati.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/