Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXX/B/2015

  Yer 31:7-9  Ibr 5:1-6  Mrk 10:46-52


PENGANTAR

     Injil Markus hari ini beceritera tentang seseorang yang bernama Bartimeus, seorang pengemis yang buta. Ketika ia mendengar ada kelompok yang lewat mengikuti Yesus dari Nasaret yang pergi menuju Yerusalem, ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku! ”. Dalam perayaan Ekaristi ini marilah kita pun dengan rendah hati mohon kepada Yesus Kristus yang kini juga hadir di tengah kita, dan berseru: “Yesus Anak Daud, kasihanilah aku!”. Semoga dengan merayakan dan menerima Ekaristi ini, kita semua seperti Bartimeus juga dapat melihat segalanya dengan baik.

HOMILI
     Pada umumnya dalam masyarakat kita, golongan orang kecil, miskin dan keadaan hidupnya rendah, kurang diperhatikan apalagi dihargai secara wajar. Bartimeus adalah sebagai seorang pengemis apalagi buta. Maka ketika berseru kepada Yesus malahan ditegur dan dipaksa supaya diam! Di manakah kesalahan Bartimeus itu sampai diperlakukan demikian? Bukankah dia pun sebagai sesama warga masyarakat juga berhak untuk dapat melihat Yesus? Bukankah orang-orang yang mengikuti Yesus itu sebagai sesama manusia justru harus berusaha menghantar si pengemis buta itu kepada Yesus agar dapat disembuhkan?

     Betapa gembira dan bahagia si Bartimeus seandainya itulah yang mereka lakukan terhadap dirinya! Dan betapa gembira hati Yesus pula, apabila itulah yang mereka laksanakan! Tetapi ketika jeritan si pengemis buta itu didengar-Nya, Yesus langsung minta supaya Bartimeus dibawa kepada-Nya! Dan ketika berhadapan dengan si buta itu Yesus bertanya: “Apa yang kauhendaki Kuperbuat bagimu?” Dan jawab orang buta itu: “Rabuni, semoga aku dapat melihat!” Kemudian Yesus berkata: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!”.

     Apa sebenarnya yang terjadi? Bartimeus memang melihat, tetapi bukan hanya melihat dengan matanya, melainkan yang lebih penting lagi ia melihat dengan hatinya! Ia memang buta terhadap banyak hal, tetapi ia “melihat” dengan jelas siapakah Yesus sebenarnya dengan imannya! Ibaratnya, melihat atau merasakan atau memahami siapakah Yesus itu  sebenarnya – itulah sebenarnya tujuan iman kita! Itulah intisari panggilan dan martabat kita sebagai murid Kristus. Dalam Injil dikatakan selanjutnya: “Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanannya”. Dalam ceritera Injil Markus berikutnya (Mrk 11:-1-11) dikatakan Yesus memasuki Yerusalem. Maka kita yakin bahwa Bartimeus yang telah disembuhkan Yesus itu mengukuti-Nya juga dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem untuk memanggul salib!

     Pesan apa yang dapat kita peroleh dalam Injil hari ini mengenai kebutaan Bartimeus bagi kita, yang hidup di zaman kita dewasa ini?

     Mukjizat-mukjizat penyembuhan pelbagai macam penyakit, yang telah dilakukan Yesus, seperti diceriterakan dalam Kitab Suci, bukanlah hanya sekadar perubahan atau penyembuhan fisik. Di balik penyembuhan penyakit fisik selalu terdapat juga penyembuhan rohani: perubahan pandangan, perbaikan sikap dasar seperti kesombongan, keangkuhan, arogansi. Semua itu juga merupakan kebutaan yang harus disembuhkan atau dihilangkan. Setiap orang, atau keluarga, komunitas, lembaga, kebudayaan, masyarakat, Gereja, semua itu sangat membutuhkan penyembuhan kebutaan pandangan. Di manakah letak inti kebutaan kita? Di manakah letak pandangan kita yang sempit dan di manakah pandangan kita yang luas? Bukankah kita ini cenderung untuk lebih mengadakan monolog atau hanya berbicara sepihak, daripada lebih mengutamakan dialog atau berwawancara? Lebih sulit lagi bagi kita untuk mau belajar juga dari siapapun yang  melawan atau tidak sependapat dengan kita.- Tanpa kita sadari, tidak jarang kita ini bersikap dan bertindak seperti orang-orang yang bermental untuk berusaha menghalangi Bartimeus berjumpa dengan Yesus! Bagaimanakah sikap kita terhadap orang lain yang harus kita perhatikan dan kita tolong? Beranikah kita ikut berusaha untuk menghantar sesama-sesama kita, yang hidup sulit dan banyak menderita kepada Yesus, yang juga hadir di dalam setiap orang yang sungguh baik hati dan hidupnya sungguh kristiani? – Demikianlah, ada kebutaan fisik atau jasmani, tetapi ada pula kebutaan spiritual atau rohani, yang kedua-duanya harus dihilangkan. Kristianitas sejati atau otentik tidak mengenal kebutaan apapun, baik fisik maupun rohani.

     Sadar akan kelemahan dan kekurangan aneka kebutaan yang kita akui secara jujur, marilah kita seperti Bartimeus selalu mohon penyembuhan kepada Tuhan: “Rabuni, semoga aku dapat melihat!”.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/