Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

Minggu Biasa XXX /B/2012

Yer 31:7-9  Ibr 5:1-6  Mrk 10:46-52

PENGANTAR
          Dalam Injil Markus hari ini diceriterakan Yesus yang menyembuhkan Bartimeus, seorang pengemis yang buta. Kemajuan teknologis di pelbagai bidang dewasa ini, termasuk di bidang medis, sangat mengagumkan. Belum lama ini di Paroki Maria Bunda Karmel dilaksanakan pelbagai kegiatan  sosial kepada umat dan masyarakat. Dan antara lain juga di bidang kesehatan, dengan mengadakan kegiatan penyembuhan/operasi cuma-cuma sangat banyak orang yang matanya menderita katarak. Dengan latar belakang itu, pesan apakah gerangan yang ingin disampaikan dalam Injil Markus kepada kita hari ini dalam ceriteranya tentang penyembuhan Bartimeus yang buta itu?

HOMILI.
          Yesus dan murid-murid sedang dalam perjalanan jauh dari Galilea menuju

Yerusalem. Ketika mendekati Yerusalem, di Yerikho Yesus mendengar seruan keras dari Bartimeus, si pengemis buta: Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!Ternyata banyak orang menegur si buta dan minta supaya ia diam! Mengapa reaksi mereka itu demikian? Apakah karena Bartimeus seorang pengemis yang kotor, dan secara kasar bereriak dan mengganggu Yesus, Guru mereka itu?

          Si buta itu adalah juga warga masyarakat seperti lainnya. Bukankah ia pun berhak melihat dan menjumpai Yesus? Dan ketika mereka mendengar si buta itu mohon disembuhkan oleh Yesus, bukankah mereka justru harus menolong untuk membawanya kepada Yesus? – Maka reaksi Yesus justru sebaliknya, Ia minta supaya Bartimeus itu dibawa kepada-Nya! Dan ketika si buta itu datang, Yesus bertanya: Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?Jawaban Bartimeus: Rabuni, semoga aku dapat melihat!

          Bartimeus disembuhkan dan ia dapat melihat. Tetapi ia melihat bukan hanya  dengan matanya, melainkan juga dengan cara lain yang  lebih penting, yaitu ia melihat dengan hatinya. Mengapa? Sebab meskipun Bartimeus memang buta dalam penglihatan dengan matanya, namun ia “melihat dengan imannya”  dengan jelas dan pasti siapakah Yesus itu sebenarnya! Itulah  isi iman atau kepercayaannya. Kepercaannya inilah yang membuat dia menjadi murid-Nya. Pada akhir ceritera Injil hari ini tertulis, bahwa Bartimeus mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya”, yaituke Yerusalem, di mana Yesus akan menderita dan mati disalib.

          Apakah pesan Injil kepada kita di dalam ceritera tentang penyembuhan Bartimeus yang buta itu?

          Rasa belaskasih selalu merupakan ciri khas pewartaan dan pelayanan Yesus. Dan ceritera-ceritera tentang aneka penyembuhan-Nya dicatat dalam Injil bukan hanya untuk menunjukkan penyembuhan penyakit mata fisik atau jasmani, melainkan juga penyakit mata/rohani/batin. Ceritera Injil mengandung suatu pesan rohani. Yaitu pesan tentang hubungan antara melihat dan percaya. Injil mengingatkan kita, bahwa di samping kebutaan jasmani/fisik ada juga kebutaan rohani/batin/jiwa. Murid-murid Yesus pun dahulu dan sekarang memiliki dan mengalami aneka  ‘penyakit’ dalam cara berpikir dan bersikap. Salah satu penyakit mereka itu secara simbolis disebut penyakit ‘kebutaan’, yakni ketidakmampuan kita untuk memahami makna penderitaan atau kesukaran hidup yang kita alami. Tanpa disadari kita sering memiliki pandangan yang sempit atau sebaliknya pandangan yang terlalu bebas tanpa batas. Penglihatan rohani atau batin kita terhadap orang lain dan keadaan masyarakat seringkali kabur, bahkan ibaratnya sering buta. Dan akibat kebutaan penglihatan itu bisa menghasilkan sikap pandangan dan hidup yang suram, pesimistis, kecewa bahkan putus asa. Tetapi sebaliknya  kebutaan mata batin kita juga dapat  menimbulkan suatu pandangan dan sikap yang arogan, merasa serba tahu, merasa selalu benar, bahkan merasa tak pernah salah. – Nah, untuk semuanya itu dibutuhkan mukjizat penyembuhan!

Apa kesimpulan kita?   
Kita ini harus bersikap seperti Bartimeus. Artinya kita perlu sadar bahwa penglihatan atau mata rohani/batin kita sering buta, dan kita  harus tahu merasa membutuhkan penyembuhan. Dan yang dapat menyembuhkan ialah Yesus Kristus.

Tetapi di samping itu, bukankah kita sendiri juga sering bersikap dan berbuat seperti orang-orang yang berusaha menolak atau menyingkirkan Bartimeus ketika ia mau datang kepada Yesus? Mau dan bersediakah kita ini menghantar dan membawa saudara-saudari kita yang berteriak kepada Yesus untuk ditolong membawa mereka kepada Dia?

Kita ini semuanya harus berusaha menemukan dalam diri kita masing-masing hal-hal, yang menghambat serta melumpuhkan panggilan kita untuk berbuat baik terhadap sesama. Marilah kita mengulangi selalu doa Bartimeus: Rabuni, semoga aku dapat melihat!

Akhirnya kesimpulan kita ialah: Bila mata, pengelihatan, pandangan kita, bukan hanya mata fisik, tetapi juga mata rohani atau spiritual kita sudah disembuhkan oleh Yesus, kita harus juga seperti Bartimeus mau dan berani mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya” ke Yerusalem. Konsekuen! Artinya berani ikut menerima penderitaan, namun untuk ikut bangkit kembali bersama Dia.

 

 

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/