Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXVII/B/2015

  Kej 2:18-24  Ibr 2:9-11  Mrk 10:2-12


PENGANTAR

          Kebetulan pada hari Minggu ini di Roma dibuka Sinode Uskup Biasa XIV untuk membahas tema penting ini: “Panggilan dan Misi Keluarga dalam Gereja dan di Dunia Kontemporer”. Dan Indonesia sendiri nantitanggal 02-06 November 2015 akan diselenggarakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) di Via Renata, Cimacan, Bogor. Dan selanjutnya 09-12 November di dalam Sidang Tahunan KWI di Jakarta para Uskup akan mengolah lebih lanjut hasil pemikiran bersama Umat Katolik Indonesia dalam SAGKI tersebut. Dan hari ini Injil Markus menyampaikan kepada kita ajaran Tuhan Yesus mengenai pernikahan yang perlu kita ketahui, agar keluarga-keluarga kita sungguh dapat membahagiakan.

HOMILI
          Orang-orang Farisi untuk mencobai Yesus bertanya kepada-Nya: “Bolehkah seorang suami menceraikan isterinya?  Yesus mengajukan pertanyaan balik: “Apa perintah Musa kepadamu?” Mereka menjawab: “Musa member izin untuk menceraikan istrinya dengan membuat surat cerai”. Tanggapan Yesus:“Karena ketegaran hatimulah  Musa menulis perintah itu untukmu”. Tetapi sejak awal Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling bersatu menjadi satu daging. Jadi keduanya  memang harus sungguh bersatu. “Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah janganlah diceraikan manusia”.

Dalam Injil hari ini Yesus menunjukkan kepada kita   relasi/hubungan yang baik antara laki-laki dan perempuan sebagai suami dan isteri. Pertanyaan mereka kepada Yesus apakah suami boleh menceraikan isterinya punya latar belakang jahat. Mereka tidak bertanya juga apakah isteri boleh menceraikan suaminya? Pertanyaan mereka itu menunjukkan adanya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Menunjukkan tidak adanya kesetaraan atau kesamaan tingkat pribadi sebagai manusia antara laki-laki dan perempuan. Ada dominasi laki-laki yang menyampingkan atau meminggirkan martabat dan kedudukan perempuan. Karena itu kaum Farisi tidak bertanya: Bolehkah isteri menceraikan suaminya?

          Musa juga menunjukkan jalan kehidupan moral yang harus ditempuh oleh orangYahudi, tetapi tidak sepenuhnya. Ia mengizinkan laki-laki mengadakan perceraian, tetapi dengan surat cerai, karena hati orang laki-laki keras dan tegar. Yesus menunjukkan jalan yang benar dan utuh, yang harus ditempuh setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan. Maka Yesus menunjukkan penilaian Allah yang sama terhadap martabat laki-laki maupun perempuan. Yesus menciptakan manusia, laki-laki ataupun perempuan menurut citra-Nya. Maka keduanya adalah semartabat, dan keduanya adalah setara. Hak dan kewajiban mereka untuk saling menghormati adalah sama. Karena itu Yesus tidak membenarkan adanya hak penceraian, baik dari pihak laki-lai maupun perempuan. Bukan sepihak!

          Ajaran Gereja tentang perceraian menurut Injil Markus itu dilengkapi dengan Injil Matius, di mana tertulis: Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin(Mat 19:10). Demikianlah reaksi orang-orang, yang ingin tetap mempertahankan dominasi laki-laki atas perempuan, yang dianggap ada di bawahnya. Sikap mereka ialah: lebih baik tidak kawin daripada tidak mempunyai  hak dan tidak mampu menceraikan isterinya, yakni apabila tidak suka lagi dengan isterinya itu.

          Yesus memperdalam lagi ajaran-Nya tentang pernikahan. Ia berkata, bahwa hanya ada tiga keadaan di mana orang tidak boleh kawin. Ia bersabda:

Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka  yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir kemudian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti(Mat 19:11-12).

Ketiga hal itu ialah: 1. ketidakmampuan 2. kastrasi (pengebirian) 3. demi Kerajaan Surga. Dari sebab itu apabila orang, kecuali atas ketiga alasan tersebut, tidak mau kawin karena tidak mau kehilangan dominasi atau kuasanya terhadap orang perempuan, jelas tidak diperbolehkan, atau lebih tepat dikatakan bahwa itu  dilarang menurut Hukum Allah yang baru, yakni Hukum Kasih! – Niat baik untuk kawin maupun tidak kawin atau lebih memilih selibat (yaitu untuk imam dan kaum biarawan/ti), semua itu harus ditujukan untuk mengabdi Kerajaan Allah, bukan untuk kepentingan egoistis, demi kepuasan pribadi melulu. Baik kawin maupun tidak kawin tidak pernah diperbolehkan hanya untuk memegang teguh dominasi atau kekuasaan laki-laki atas perempuan, ataupun sebaliknya. Yesus secara mendasar membenarkan dan menekankan hubungan/relasi laki-laki dan perempuan yang otentik atau yang benar.

Refleksi:

  1. Dalam hidup pribadiku sendiri bagaimana aku menghayati  relasiku sebagai laki-laki dan perempuan?
  2. Dalam hidupku dalam keluarga dan dalam komunitasku, bagaimanakah penghayatan pergaulanku antar laki-laki-perempuan?

 

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/