Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

Minggu Biasa XXVII /B/2012

  Kej 2:18-24  Ibr 2:9-11 Mrk 10:2-16

PENGANTAR
            Dalam Injil Markus hari ini diceriterakan hal pertanyaan orang-orang Farisi kepada Yesus untuk mencobai-Nya: Bolehkah seorang suami menceraikan isterinya?”. Pertanyaan pancingan itu dijawab oleh Yesus dengan pertanyaan balik ini: Apa perintah Musa kepadamu?. Dalam rangka perayaan Ekaristi hari ini marilah kita berusaha memahami latar belakang perintah Musa dalam Perjanjian Lama itu, namun disempurnakan oleh Yesus, yang dengan tegas mengatakan: Apa yang telah dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia!”. Isi pokok pesan Yesus ialah, bahwa hanya di mana ada kasih, di situlah ada kesatuan.

HOMILI
            Baik dahulu maupun sekarang tetap berlakulah ajaran Yesus tentang kehendak Allah, yakni bahwa suami dan isteri dalam perkawinan haruslah satu dan tak terpisahkan. Dalam Perjanjian Lama pun kehendak Allah itu sudah terungkap dalam Kitab Kejadian (Bac. I) di mana secara sangat sederhana dan simbolis diceriterakan siapakah makhluk Tuhan yang disebut perempuan. Adam, orang laki-laki pertama, berkata:”  <Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki>. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya, dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (ay.23-24).

            Pesan Kitab Kejadian tersebut ialah, bahwa Allah adalah kasih, karena itu Ia tidak mau sendirian. Maka Ia menciptakan alam semesta, bahkan akhirnya menciptakan juga manusia: Adam. Tetapi manusia ini tidak boleh sendirian juga, maka Ia menciptakan manusia lain: Hawa sebagai teman hidupnya. Perempuan itu diambil dari tulang rusuk laki-laki, untuk menegaskan bahwa keduanya sebagai makhluk Allah adalah sepadan nilai pribadinya satu sama lain dan semartabat pula di hadapan Allah. Karena itu harus senilai dan semartabat pula kasih laki-laki dan perempuan satu sama lain sebagai teman hidup bersama mereka.

            Nilai hidup bersama laki-laki dan perempuan atas dasar kasih seperti sudah digambarkan dalam Perjanjian Lama itu di dalam Perjanjian Baru diajarkan dan ditegaskan oleh Yesus dengan kasih sepanjang hidup dan perbuatan-Nya. Yesus tidak menikah, tidak hidup berkeluarga, karena Ia tidak mau membatasi kasih khusus kepada hanya satu orang. Kasih-Nya mutlak kepada semua orang yang mau dikasihi-Nya. Paulus secara simbolis mengatakan, bahwa Gereja, yaitu segenap umat-Nya, adalah mempelai-Nya yang dikasihi-Nya sepenuhnya (lih. Ef  5:22-33). Kasih penuh dan utuh Kristus kepada umat-Nya, - itulah yang harus merupakan lambang pemersatu perkawinan umat kristiani sejati.

            Pesan apakah sebenarnya yang ingin disampaikan kepada kita tentang makna perkawinan dalam Injil Markus hari ini? Perkawinan janganlah terutama dilihat dan dihargai dalam bentuk keindahan dan keagungan upacaranya, baik dalam peresmian perjanjian/kontrak di dalam Gereja dan di depan instansi sipil, maupun dalam resepsi meriah sesudahnya. Yang harus diutamakan ialah kesungguhan dan kesetiaan dalam diri kedua mempelai di hadapan Tuhan untuk saling mengasihi. Sebab perjanjian atau kontrak resmi antar manusia dapat dibatalkan, namun janji setia dalam perkawinan di hadapan Tuhan harus mempersatukan kasih dua orang untuk selamanya. Yesus menegaskan: Apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia(Mrk 10:9). Mungkinkah itu? Betapa perlunya bagi setiap orang berusaha untuk mengenal dan meneguhkan diri sebagai manusia yang tulus dan setia. Betapa pentingnya sebelumnya bagi para calon teman hidup untuk saling mengenal dengan baik? Hanya dengan kejujuran dan kesetiaan kepada Tuhan, orang akan mampu jujur dan setia juga kepada sesama, khususnya kepada calon teman hidup. Bila ada kejujuran dan kesetiaan hati di antara keduanya, maka keduanya secara alkitabiah disebut “menjadi satu daging”, yang tak terpisahkan. Sehingga betapa pahit dan sakitnya apabila mereka itu dipisahkan satu dari yang lain!

            Bagaimanakah perkawinan kristiani dapat dihayati dengan baik dan tenang?

            Keluarga juga disebut sebagai “Gereja domestik”, Gereja rumah tangga. Seperti Gereja adalah tanda atau sakramen kasih Allah dalam diri Yesus Kristus, demikian juga perkawinan sebagai “gereja kecil” adalah tanda atau sakramen kasih Kristus. Kasih timbal balik antara suami dan isteri, dan antara orang tua dan anak-anak, - itulah yang harus menjadi bukti, tanda, sakramen kasih Tuhan, kasih Kristus di dalam setiap perkawinan kristiani sejati. Suami, isteri dan anak-anak di dalam sikap, pemikiran, pergaulan sehari-hari hendaknya memperlihatkan wajah kasih Tuhan, wajah Kristus penuh kasih-Nya kepada sesama baik dalam keluarga maupun untuk tetangga. Suasana hangat penuh kasih ini akan makin dirasakan, apabila keluarga-keluarga kita sungguh berusaha menyediakan waktu atau kesempatan untuk saling bertemu, berdoa bersama, makan bersama dan saling memperhatikan.

            Tuhan sungguh hadir apabila di dalam keluarga ada kerukunan, kesatuan, kesetiaan, saling pengertian, dan kasih di antara segenap anggotanya. Hasil-hasil penemuan ilmu pengetahuan dewasa ini, khususnya dalam menciptakan benda-benda/alat-alat komunikasi modern apapun bentuknya, jangan sampai justru menyingkirkan sarana-sarana manusiawi, yang paling dibutuhkan untuk hubungan atau relasi kasih antar pribadi yang terdekat, yaitu dalam keluarga. Hanya dengan pergaulan langsung secara pribadi dalam keluarga, bukan lewat benda atau alat, akan tercipta kasih sejati. Kasih sejati dalam keluarga tidak ada, apabila masing-masing anggotanya hanya puas jikalau segalanya dilakukan menurut kehendak atau keinginan sendiri. Kasih suami isteri sejati adalah kerelaan saling menerima dan memberi, seperti kasih Kristus kepada segenap umat-Nya.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/